Radar Jember – Penguatan literasi pada anak perlu terus dikampanyekan di tengah semakin dekatnya penggunaan gawai dalam kehidupan sehari-hari.
Perubahan cara anak mengakses informasi harus diimbangi dengan kebiasaan membaca dan memahami informasi secara baik.
Dosen FKIP Unmuh Jember Fitrotul Mufaridah mengatakan, perkembangan teknologi membuat aktivitas membaca mengalami pergeseran.
Anak tidak lagi hanya mendapatkan bacaan dari buku cetak, tetapi juga melalui ponsel, laptop, dan berbagai media digital.
“Tren membaca saat ini adalah membaca digital. Membaca mengalami pergeseran, baik dari sisi konten yang dibaca maupun medianya,” ujarnya.
Menurutnya, penggunaan gawai untuk membaca tidak bisa langsung dianggap sebagai bentuk menurunnya minat baca.
Membaca artikel, berita, buku digital, hingga materi edukasi melalui perangkat digital tetap merupakan bagian dari praktik literasi, khususnya literasi digital.
“Sebagaimana realita membaca digital semakin digemari, maka apa pun yang dibaca dari HP, laptop, dan media digital lainnya termasuk bentuk dari praktik literasi,” jelasnya.
Meski begitu, penguatan budaya membaca tetap perlu dilakukan sejak anak-anak. Sebab, ketika minat baca menurun, dampaknya tidak hanya berkaitan dengan kemampuan memahami bacaan, tetapi juga dapat memengaruhi perkembangan pengetahuan dan kualitas literasi dalam jangka panjang.
“Jika minat baca menurun, maka bisa dipastikan nilai literasi dan peradaban juga akan mengalami kemunduran. Karena membaca adalah kunci untuk membuka jendela peradaban,” tegasnya.
Karena itu, kampanye literasi perlu mengikuti kebiasaan anak yang semakin akrab dengan teknologi.
Pemerintah dan perpustakaan dapat memperbanyak layanan membaca digital, membuat kegiatan membaca yang lebih menarik, serta menggelar kompetisi literasi berbasis digital.
Edukasi mengenai pola membaca dan kesehatan mata juga penting diberikan agar gawai tidak hanya menjadi sarana hiburan, tetapi ikut dimanfaatkan untuk memperkuat budaya literasi anak. (dhi/bud)
Editor : Imron Hidayatullahh