Radar Jember - Jari-jari Fala Aditia Buditama lincah menari di atas panel mixer digital. Sesekali matanya berpindah ke layar laptop yang menampilkan grafik suara, lalu kembali memantau deretan lampu indikator yang berkedip mengikuti irama musik.
Di bawah tenda kurang lebih berukuran 6x6 meter itu, Fala Aditia itu tampak begitu menyatu dengan dentuman bass yang menggema. Pemuda kelahiran 2004 tersebut merupakan owner LA Sound Styling Generation.
Selama enam tahun terakhir, ia menggeluti dunia tata suara, mulai dari merakit sistem, memahami karakter speaker, hingga mengelola manajemen sound system. Ketertarikannya terhadap sound system bahkan telah tumbuh sejak masih duduk di bangku SMP.
Dunia itu bukan sekadar hobi, melainkan bagian dari perjalanan keluarga yang diwariskan lintas generasi. “Dari kakek, lalu ke ayah, kemudian ke saya. Jadi memang sejak dulu keluarga kami berkecimpung di dunia sound system,” tuturnya di sela-sela mempersiapkan karnaval di Desa Jatimulyo, Jumat (7/8).
Nama Sound Styling Generation sendiri menjadi simbol perjalanan itu. Sebuah estafet pengetahuan dan pengalaman yang kini diteruskan Fala Aditia dengan sentuhan generasi muda.
Di tengah stereotip negatif yang kerap melekat pada sound horeg, ia melihat sisi lain yang jarang diperbincangkan. Menurutnya, dentuman musik bukan hanya soal hiburan, tetapi juga membuka ruang ekonomi dan sosial bagi masyarakat.
Setiap gelaran festival, bersih desa, hingga karnaval, selalu menghadirkan perputaran ekonomi yang melibatkan banyak pihak. Pedagang kecil dan pelaku UMKM mendapat kesempatan menjajakan dagangan.
Karang taruna memperoleh ruang untuk mengelola parkir atau kegiatan sosial. Bahkan, sebagian komunitas pecinta sound horeg juga rutin mengadakan aksi sosial, mulai dari kegiatan keagamaan hingga penggalangan bantuan. “Suara boleh keras, tapi gerakan sosial jangan sampai kendor,” ucap alumni SMKN 5 Jember itu.
Fenomena itu, kata dia, semakin terlihat sejak pascapandemi Covid-19. Peminat sound horeg tetap stabil hingga sekarang. Setiap tahunnya, sejak memasuki bulan Suro, jadwal penyewaan mulai padat dan berlanjut hingga akhir tahun masehi.
Tidak hanya untuk perayaan kemerdekaan atau festival desa, tetapi juga acara pengajian, pernikahan, khitanan, hingga berbagai kegiatan masyarakat lainnya. Meski demikian, ia mengaku sulit menghitung secara pasti besaran modal, operasional, maupun omzet dari usaha ini.
Sebab, dunia sound baginya tidak sepenuhnya berbicara soal keuntungan. Ada batas tipis antara hobi dan bisnis. “Kalau festival atau sound horeg itu lebih ke hobi. Tapi kalau sudah masuk event profesional, baru bicara angka, karena ada kesepakatan soal jenis sound, lampu, dan kebutuhan teknis lainnya,” katanya.
Ketika masuk ke ranah penyelenggaraan event, kebutuhan anggaran pun menyesuaikan konsep yang diinginkan penyewa. Ia menyebut, untuk menghadirkan satu paket sound system lengkap, pelanggan umumnya perlu menyiapkan dana sekitar Rp 30 juta hingga Rp 70 juta. “Nominal tersebut bergantung pada spesifikasi sound, tata lampu, jumlah perangkat, hingga kebutuhan teknis lain yang disepakati,” tuturnya.
Perjalanan LA Sound Styling Generation pun telah melampaui batas Jember. Perangkat sound miliknya pernah tampil dalam berbagai acara di wilayah Tapal Kuda, Jawa Tengah, hingga Bali.
Setiap perjalanan memberi pengalaman baru sekaligus memperluas jaringan komunitas pecinta tata suara yang terus berkembang. Di balik kerasnya dentuman bass, Ia juga menyimpan cerita menarik soal kesehatannya.
Selama enam tahun berada dekat dengan speaker berdaya besar, Ia belum pernah mengalami gangguan pendengaran. Justru, kepekaan telinganya semakin terasah. “Kadang tanpa melihat monitor, saya sudah tahu ada speaker yang tidak berfungsi. Mungkin karena sudah terbiasa,” ucapnya.
Kendati demikian, Ia juga mengakui kadang merasa tidak kuat berada dengan sound yang dikendalikannya. Terutama ketika semua sound antar komunitas berjejer. “Jujur saya sendiri kadang tidak kuat, bukan dari segi pendengaran, tapi suaranya menebus detak jantung,” imbuhnya.
Baginya, sound system bukan hanya soal suara yang menggema, tetapi tentang warisan, kebersamaan, dan denyut kehidupan masyarakat yang terus bergerak di balik panggung hiburan. “Intinya ada prinsip warisan keluarga yang saya pegang teguh,” pungkasnya. (dhi/nur)
Editor : Imron Hidayatullahh