Marak Digelar Malam Hari! Disporabudpar Jember Ingatkan Panitia Karnaval Jangan Hilangkan Nilai Sejarah

Sidkin • Dipublikasikan Senin, 10 Agustus 2026 | 07:30 WIB
"Ayo kita jaga, tetap ada marwah karnavalnya, tidak melupakan budaya-budaya maupun nilai-nilai sejarah."  BOBBY ARIE SANDY, Kepala Disporabudpar Jember. (SIDKIN ALI/RADAR JEMBER)
"Ayo kita jaga, tetap ada marwah karnavalnya, tidak melupakan budaya-budaya maupun nilai-nilai sejarah."  BOBBY ARIE SANDY, Kepala Disporabudpar Jember. (SIDKIN ALI/RADAR JEMBER)

Radar Jember - Semarak karnaval Agustusan mulai mewarnai sejumlah wilayah di Jember. Dari tingkat desa hingga kecamatan, warga menggelar pawai dengan beragam kostum, musik, dan kreasi yang berlangsung sejak siang hingga malam.

Di tengah kemeriahan tersebut, Dinas Kepemudaan, Olahraga, Kebudayaan dan Pariwisata (Disporabudpar) Jember mengingatkan agar karnaval tetap menjaga marwah budaya dan tidak sekadar menjadi hiburan semata.

Kepala Disporabudpar Jember Bobby Arie Sandy mengatakan, pemerintah daerah tidak membatasi kreativitas masyarakat dalam menggelar karnaval di wilayah masing-masing. Pelaksanaan kegiatan diserahkan kepada pemerintah dan masyarakat setempat.

Baca Juga: Temuan Mengejutkan Balai POM Jember! Marak Kosmetik Ilegal Tanpa Izin Edar dan Mengandung Bahan Berbahaya

Namun dengan catatan tetap memperhatikan ketertiban, keamanan, serta kepentingan umum. “Ayo kita jaga, tetap ada marwah karnavalnya, tidak melupakan budaya-budaya maupun nilai-nilai sejarah,” kata Bobby.

Menurutnya, penyelenggara karnaval di tingkat desa maupun kecamatan juga tidak perlu mengajukan izin khusus kepada Disporabudpar.

Namun, koordinasi tetap diperlukan dengan tiga pilar di wilayah masing-masing, terutama karena kegiatan kerap menggunakan ruas jalan dan berlangsung hingga malam.

“Silakan gandeng dengan tiga pilar yang ada di wilayah. Karena bagaimanapun itu jangan sampai mengganggu kepentingan umum,” katanya.

Baca Juga: Jadi Kantong PMI Terbesar Kedua Di Jatim! Mengapa Jember Masih Belum Punya Perda Perlindungan Pekerja Migran?

Bobby menilai karnaval memiliki fungsi edukasi bagi generasi muda. Anak-anak dan remaja yang menyaksikan pawai akan merekam apa yang mereka lihat sebagai gambaran tentang sebuah karnaval.

Karena itu, unsur budaya, sejarah dan nilai perjuangan perlu tetap ditonjolkan agar kemeriahan yang disuguhkan memberi pengalaman positif bagi penonton.

“Yang nonton ini adalah generasi kita, anak-anak kita, adik-adik kita. Sehingga mereka akan paham, oh ternyata yang dilakukan karnaval itu seperti ini,” tuturnya.

Disporabudpar juga tidak menetapkan secara khusus jenis musik maupun bentuk penampilan yang harus ditampilkan dalam karnaval tingkat wilayah.

Ruang kreativitas tetap diberikan kepada masyarakat, tetapi Bobby berharap setiap panitia dapat menghadirkan pertunjukan yang memiliki nilai dan tidak menghilangkan identitas budaya.

Sementara untuk karnaval yang berlangsung hingga malam atau bahkan tengah malam, pertimbangannya dikembalikan kepada hasil koordinasi di masing-masing wilayah.

Baca Juga: Masa Kontrak Habis September Ini! Bagaimana Masa Depan 8.236 PPPK Paruh Waktu di Jember? Ada Syarat yang Harus Dipenuhi

Panitia bersama tiga pilar perlu mempertimbangkan keamanan, ketertiban, rute serta dampaknya terhadap aktivitas masyarakat.

“Intinya kita kembalikan kepada tingkat di wilayah. Jangan sampai mengganggu ketertiban dan juga keamanan,” pungkas Bobby. (kin/nur)

 

 

Editor : Imron Hidayatullahh
Disporabudpar Jember Jember sound horeg karnaval