Radar Jember - Peringatan HUT RI beberapa tahun terakhir ini sudah nampak berbeda dibanding puluhan tahun sebelumnya.
Biasanya setiap tahun jadwalnya sudah ditentukan oleh pihak Panitia Hari Besar Nasional (PHBN) yang diadakan di masing-masing kecamatan.
Akan tetapi, beberapa tahun terakhir ini sudah berbeda, karnaval untuk memperingati HUT RI sudah dilakukan setiap Desa yang ada di Kecamatan.
Bahkan di banyak karnaval desa sudah diikuti oleh setiap Dusun. Yang ternyata rela mengeluarkan uang iuran yang nilainya besar untuk menyewa sound horeg.
Setiap Dusun, bahkan sekelas lingkungan atau RT, sudah berani menyewa sound system yang nilai sewanya puluhan juta.
“Untuk menyewa sound lengkap dengan lightingnya. Bahkan setiap RT, berani sewa sound hingga nilainya Rp 20 juta hingga Rp 25 juta,” kata Sugianto, warga Desa Sruni, Kecamatan Jenggawah.
Setelah selesai acara karnavalnya, warga sudah mulai mengumpulkan uang lagi untuk sewa sound tahun depannya.
“Warga tidak ada yang merasa dirugikan, karena rat-rata warga senang kalau Desanya itu mengadakan karnaval sendiri. Sehingga dengan mengadakan karnaval sendiri itu, Desa nya juga viral di medsos,” katanya.
Setiap dusun harga sewa sound systemnya berbeda - beda , karena tergantung kualitas suaranya. Yang penting desanya meriah ketika mengadakan karnaval untuk Peringatan HUT RI.
Karena sekarang ini beda dengan puluhan tahun lalu. Kalau dulu warga ada yang mewakili Desa nya ikut karnaval yang diadakan Kecamatan.
Sekarang ini berbeda, kalau karnaval sekarang ini sebelum acara karnaval, malam harinya ada sound check di setiap Dusun dan RT. Karena setiap RT saja berani sewa sound system yang nilainya puluhan juta.
Memang ada sisi negatif dan positifnya ketika sewan sound horeg, UMKM bisa jalan karena pedagang kaki lima bisa berjualan mulai acara chek sound hingga pelaksanaan karnaval hingga malam hari.
Sound yang disewa untuk acara karnaval di Desa Sruni, Kecamatan Jenggawah, bukan hanya dari Jember, tetapi ada dari Malang, Madura, Probolinggo.
Karena suara yang keras ketika sound check dan pada saat pelaksanaan malam hari, warga ada yang memasang lakban pada bagian jendela rumahnya agar tidak pecah.
Apalagi saat sound check malam hari sebelum acara karnaval karena diam ditempat. Rumahnya yang berdekatan itu harus memasang setiap kaca rumahnya dengan lakban.
Baca Juga: Selaras Asta Cita Presiden! Ombudsman RI Dorong Program Homecare Jember Jadi Percontohan Nasional
“Intinya warga kompak karena Desanya bisa mengadakan Karnaval sendiri apalagi dengan sewa sound horeg dengan nilainya puluhan juta rupiah,” jelasnya.
Pantauan Jawa Pos Radar Jember, setiap chek sound puluhan pedagang kaki lima juga diuntungkan. Karena bukan hanya warga sekitar yang bisa berjualan, tetapi juga banyak PKL dari luar Kecamatan bisa berjualan.
Seperti Samsul, 28 warga Dusun Wetan Gunung, Desa Wonojati, Kecamatan Jenggawah mengaku diuntungkan dengan karnaval yang diadakan setiap desa.
Sehingga malam hari sebelum acara karnaval hingga pada pelaksanaan karnaval. “Malam harinya ada karnaval sound horeg yang penontonnya juga dari luar Kecamatan. Ada juga penonton yang fanatic dari luar Jember juga nonton,” pungkasnya. (nur)
Editor : Imron Hidayatullahh