Radar Jember - Di balik bingkai kacamata bulatnya, jemari Anis Yulia Rachman menari lincah membentuk kata demi kata. Ekspresi wajahnya berubah cepat mengikuti setiap gerakan tangan, seolah menggantikan suara yang tak pernah terdengar.
Bagi perempuan kelahiran Madura itu, bahasa isyarat bukan sekadar alat komunikasi, melainkan jembatan yang menghubungkan dunia sunyi dengan derasnya arus informasi.
Perjalanan itu bermula pada 2016 ketika Anis masih duduk di bangku kuliah Universitas PGRI Argopuro (Unipar) Jember yang kala itu masih bernama IKIP PGRI.
Mahasiswi yang aktif mengikuti berbagai kegiatan di luar kampus itu menjadi relawan dalam peringatan Hari Disabilitas Internasional di Alun-Alun Jember.
Acara tersebut bertepatan dengan peresmian Peraturan Daerah tentang Disabilitas dan mempertemukannya dengan banyak penyandang disabilitas tuli.
Di tengah kesibukan menyiapkan acara, Anis harus berkomunikasi dengan para penyandang disabilitas tuli. Awalnya dia kesulitan memahami bahasa yang mereka gunakan. Namun, rasa penasaran justru tumbuh menjadi ketertarikan.
Tanpa sadar, pengalaman singkat itu menjadi titik balik yang mengubah arah hidupnya. "Sejak saat itu saya jatuh cinta dengan bahasa ini. Belajarnya langsung dari teman-teman penyandang disabilitas tuli karena saat itu belum ada mata kuliah bahasa isyarat di perkuliahan," kenangnya.
Baginya, bahasa isyarat memiliki keunikan yang tidak ditemukan pada bahasa lisan. Gerakan tangan hanyalah sebagian dari komunikasi. Mimik wajah, arah pandangan mata, hingga gerak tubuh menjadi bagian penting yang menentukan makna.
Setiap percakapan menuntut ekspresi yang utuh agar pesan dapat diterima dengan benar. Proses belajar itu pun tak pernah benar-benar selesai. Sama seperti bahasa lain, bahasa isyarat terus berkembang mengikuti perubahan zaman.
Munculnya berbagai istilah baru membuat para penerjemah harus terus belajar agar mampu menemukan padanan gerakan yang tepat. "Bahasa itu selalu berkembang. Ada saja istilah-istilah baru, dan terkadang istilah itu sulit diterapkan dalam bahasa isyarat," ujarnya.
Ketekunan tersebut akhirnya mengantarkan Anis pada profesi yang sejalan dengan panggilan hatinya. Kini perempuan berusia 25 tahun itu mengajar sebagai wali kelas tunarungu di SLBN Branjangan Jember.
Kemampuannya juga dipercaya menjadi Juru Bahasa Isyarat (JBI) Polres Jember saat penyampaian rilis kasus, sehingga informasi yang disampaikan kepolisian dapat diakses oleh penyandang disabilitas tuli.
Bahasa isyarat ternyata tidak hanya mengubah jalan kariernya. Cara berkomunikasi yang mengandalkan ekspresi perlahan membentuk kepribadian Anis.
Perempuan yang mengaku dulu cenderung pendiam dan kurang percaya diri itu kini lebih terbuka dalam berinteraksi dengan orang lain.
"Dulu saya sangat introvert, kalau berbicara ekspresinya datar. Sekarang jadi lebih ceria dan ekspresif karena terbiasa menggunakan bahasa isyarat," tuturnya.
Menurut Anis, masih minimnya masyarakat yang menguasai bahasa isyarat menjadi salah satu penyebab penyandang disabilitas tuli kesulitan memperoleh informasi.
Padahal, mereka memiliki hak yang sama untuk memahami berbagai informasi, mulai dari pelayanan publik hingga perkembangan peristiwa yang terjadi di sekitar mereka.
Baca Juga: Garansi Tanpa Dipersulit! Bupati Gus Fawait Pastikan Pengurusan KTP Di Jember Gratis Dan Super Cepat
Karena itu, kehadiran penerjemah bahasa isyarat masih sangat dibutuhkan. Harapan Anis sederhana, semakin banyak masyarakat yang bersedia belajar bahasa isyarat sehingga tidak ada lagi penyandang disabilitas tuli yang tertinggal informasi. (dhi/dwi)
Editor : Imron Hidayatullahh