Diuji Beban Lokomotif 180 Ton! Dua Jembatan KA Baru Jember-Kalisat Ditarget Bertahan hingga 60 Tahun

Sidkin • Dipublikasikan Jumat, 7 Agustus 2026 | 07:00 WIB
DIUJI: Lokomotif CC300 berbobot lebih dari 180 ton saat menjalani uji coba di jembatan BH 307 Desa Patemon, Kecamatan Pakusari, Rabu (5/8). (SIDKIN ALI/RADAR JEMBER)
DIUJI: Lokomotif CC300 berbobot lebih dari 180 ton saat menjalani uji coba di jembatan BH 307 Desa Patemon, Kecamatan Pakusari, Rabu (5/8). (SIDKIN ALI/RADAR JEMBER)

Radar Jember – Dua lokomotif CC300 berbobot total lebih dari 180 ton melintas bersamaan hingga berhenti di atas dua jembatan kereta api baru di lintas Jember-Kalisat.

Bukan untuk mengangkut rangkaian kereta, melainkan menguji apakah Jembatan Bangunan Hikmat (BH) 307 di Desa Patemon dan BH 312 di Desa Bedadung, Kecamatan Pakusari, mampu menopang perjalanan kereta api dengan aman selama puluhan tahun mendatang.

Lokomotif CC300 ratusan ton itu milik Balai Perawatan buatan INKA.

Baca Juga: Bikin Terperanjat! Ombudsman RI Puji Puskesmas di Jember Tak Kalah Keren dari Klinik Swasta Jakarta

Pengujian tersebut merupakan bagian dari uji fungsi yang dilakukan Direktorat Jenderal Perkeretaapian (DJKA) Kementerian Perhubungan melalui Balai Teknik Perkeretaapian (BTP) Kelas I Surabaya bersama Balai Pengujian Perkeretaapian.

Dari pengujian itu, tim akan mengukur kelendutan dan kekuatan struktur jembatan setelah sebelumnya kedua jembatan dibangun ulang sebagai bagian dari proyek peningkatan jalur kereta api Jember-Kalisat.

Humas BTP Kelas I Surabaya Alfaviega Septian Pravangasta menjelaskan, uji fungsi dilakukan melalui dua tahapan, yakni uji dinamis dan uji statis.

Pada uji dinamis, lokomotif dijalankan hingga batas kecepatan yang diizinkan di lintasan tersebut, yakni 70 kilometer per jam.

"Kalau semakin tinggi kereta melintas, beban momentumnya semakin besar. Getaran itu akan kami hitung apakah kemudian ada evaluasi yang harus dibenahi di jembatan ini," ujarnya, kemarin.

Baca Juga: Bongkar Akar Ketimpangan Hukum! Pakar FH Unmuh Jember Sebut Budaya Patronase dan Gratifikasi Masih Mengakar

Selanjutnya dilakukan uji statis dengan menempatkan lokomotif berhenti secara bertahap di seperempat bentang, setengah bentang, tiga perempat bentang, hingga memenuhi seluruh bentang jembatan.

Dari kondisi itu, tim menghitung tingkat kelendutan struktur saat menerima beban maksimum.

"Dari kelengkungan itu nanti kami bisa menghitung apakah kemudian jembatan ini bisa sesuai yang kami harapkan atau tidak," kata Vecga, sapaan akrabnya.

Menurut dia, pembangunan ulang BH 307 dan BH 312 dilakukan bersamaan dengan peningkatan jalur Jember-Kalisat. Sejumlah tikungan tajam diperbaiki agar perjalanan kereta menjadi lebih lancer.

Sementara kedua jembatan lama peninggalan era 1950-an diganti dengan konstruksi berstandar modern yang digunakan di lintas Pulau Jawa. 

Bahkan, BH 312 dibangun menggunakan struktur baja rangka sehingga memiliki kapasitas yang lebih besar dibanding jembatan sebelumnya.

Baca Juga: Ngeri Fatalnya! Polres Jember Ingatkan Orang Tua Jangan Kasih Motor Ke Anak yang Belum Cukup Umur

Kepala BTP Kelas I Surabaya Denny Michels Adlan menegaskan, uji fungsi menjadi tahapan yang tidak bisa dilewatkan sebelum jembatan diserahkan kepada PT Kereta Api Indonesia (Persero).

"Bagi kami di DJKA, keselamatan perjalanan kereta api adalah hal yang utama. Melalui uji fungsi ini, diharapkan penumpang dapat lebih merasa tenang, nyaman, dan aman dalam perjalanan dari dan ke Jember atau Banyuwangi," ujarnya.

Hasil pengujian akan menjadi dasar untuk memastikan struktur baru kedua jembatan memenuhi standar keselamatan. DJKA menargetkan BH 307 dan BH 312 dapat digunakan hingga 60 tahun.

Ini sekaligus mendukung perjalanan kereta yang lebih cepat setelah proyek peningkatan jalur Jember-Kalisat rampung. (kin/dwi)

Editor : Imron Hidayatullahh
lintasan KA Jember lokomotif Kereta Api Jembatan