Bikin Kaget! Pelajar Mulai Tinggalkan Sepeda Kayuh, Ini Alasan Gerakan Ngontel Ke Sekolah Perlu Hidup Lagi

M Adhi Surya • Dipublikasikan Kamis, 6 Agustus 2026 | 07:00 WIB
HEBAT: Pelajar salah satu SMP di Panti masih semangat mengayuh sepeda untuk berangkat dan pulang sekolah. (JUMAI/RADAR JEMBER)
HEBAT: Pelajar salah satu SMP di Panti masih semangat mengayuh sepeda untuk berangkat dan pulang sekolah. (JUMAI/RADAR JEMBER)

Radar Jember - Pemandangan anak-anak berangkat sekolah dengan mengayuh sepeda kini semakin sulit ditemukan. Di sejumlah daerah, sepeda kayuh yang dulu menjadi moda transportasi utama pelajar perlahan tergeser oleh sepeda motor, kendaraan antar-jemput, hingga sepeda listrik.

Kondisi tersebut juga terjadi di Desa Badean, Kecamatan Bangsalsari. Desa yang berada di kaki Gunung Argopuro itu memiliki karakteristik wilayah berupa jalan makadam, tanjakan dan turunan, serta jarak antar-rumah yang cukup berjauhan.

Di sisi lain, tidak semua wilayah terjangkau angkutan umum sehingga kendaraan pribadi menjadi pilihan masyarakat.

Baca Juga: IDI, IBI, hingga PPNI Nyatakan Dukungan Terbuka untuk Program Homecare Jember

Faruq Ahmadi, warga Desa Badean yang kini menempuh pendidikan di Universitas Jember, mengaku fenomena anak sekolah membawa sepeda motor sebenarnya sudah berlangsung cukup lama di daerahnya.

Bahkan, menurutnya, sejak ia masih duduk di bangku sekolah dasar sekitar 15 tahun lalu, banyak teman sebayanya sudah mengendarai motor sendiri untuk berangkat maupun pulang sekolah.

"Itu sudah terjadi sekitar 15 tahun lalu. Waktu saya SD sudah banyak teman yang membawa motor sendiri untuk berangkat sekolah," ungkapnya.

Berbeda dengan teman-temannya, Faruq memilih berjalan kaki karena rumahnya berada tidak jauh dari sekolah. Saat itu memang masih ada sebagian pelajar yang menggunakan sepeda kayuh, tetapi jumlahnya tidak banyak.

"Kalau saya jalan kaki karena rumah dekat sekolah. Dulu memang ada yang naik sepeda, tetapi menurut saya lebih enak jalan kaki. Daerah pegunungan jalannya naik turun dan masih makadam. Kalau jalan kaki bisa memotong jalur sehingga lebih cepat," katanya.

Baca Juga: Jembatan Baru di Lintas Jember–Kalisat Perkuat Keselamatan dan Dukung Pertumbuhan Mobilitas Masyarakat

Kini, menurut Faruq, pemandangan anak sekolah mengayuh sepeda hampir tidak pernah dijumpai lagi. Mayoritas pelajar yang rumahnya jauh memilih diantar orang tua atau menggunakan kendaraan bermotor.

Hal senada disampaikan Teguh Budiarto, warga Desa Badean. Pria berusia 32 tahun itu mengaku pernah merasakan berangkat sekolah dengan sepeda saat duduk di bangku SMP.

Ketika itu ia bersekolah di Rambipuji dan tinggal di rumah saudaranya di Kecamatan Panti sehingga harus menempuh perjalanan menggunakan sepeda setiap hari.

"Saya dulu waktu SMP bolak-balik sekolah naik sepeda. Tapi sekarang saya rasa sudah jarang sekali anak sekolah yang memakai sepeda kayuh. Anak yang tinggal di kota kondisi juga semakin sedikit berangkat dan pulang sepeda naik sepeda," ujarnya.

Menurut Teguh, pelajar yang rumahnya cukup jauh saat ini lebih banyak dijemput orang tua dibandingkan bersepeda sendiri. Ia menilai apabila muncul kembali gerakan mengajak anak bersepeda ke sekolah, langkah tersebut patut didukung.

Selain lebih sehat, bersepeda dinilai lebih baik dibandingkan penggunaan sepeda listrik yang kini mulai banyak digunakan anak-anak. "Kalau menurut saya gerakan anak kembali naik sepeda ke sekolah itu bagus. Lebih baik daripada naik sepeda listrik," tuturnya.

Menurutnya, penggunaan sepeda listrik di jalan raya memiliki risiko keselamatan yang lebih tinggi. Selain melaju tanpa suara mesin, akselerasinya juga cukup spontan sehingga berpotensi membahayakan pengguna jalan lain maupun pengendaranya sendiri.

Baca Juga: Dua Pekan Diluncurkan, Program Homecare Pemkab Jember Tuai Pujian DPR RI hingga Siap Dipamerkan ke Ombudsman RI

"Sepeda listrik itu lebih bahaya menurut saya karena tidak ada suaranya dan tarikan gasnya lebih spontan," katanya.

Meski demikian, Teguh menilai gerakan bersepeda juga perlu diiringi dengan penyediaan infrastruktur yang mendukung. Keberadaan jalur khusus sepeda maupun penertiban lalu lintas dinilai penting agar pesepeda, terutama anak-anak, merasa lebih aman saat berada di jalan raya.

"Kalau naik sepeda sendirian di jalan raya itu rasanya takut, khawatir ditabrak dari belakang. Tapi kalau ramai-ramai atau ada jalur khusus tentu lebih nyaman," ujarnya.

Selain berdampak positif terhadap keselamatan dan lingkungan, kebiasaan bersepeda juga dinilai memberi manfaat bagi kesehatan anak.

Aktivitas fisik saat berangkat dan pulang sekolah dapat membantu meningkatkan kebugaran sekaligus mengurangi waktu anak untuk bermain gawai setelah tiba di rumah.

"Kalau pulang sekolah sudah capek karena bersepeda, biasanya anak jadi tidak terus-terusan bermain HP. Itu juga manfaat yang baik untuk mereka," pungkasnya. (dhi/dwi)

Editor : Imron Hidayatullahh
gerakan bersepeda Jember sepeda listrik siswa