Radar Jember - Datang. Buka ponsel. Lalu isi presensi. Itulah kebiasaan baru yang mulai dijalani siswa SMAN Arjasa Setibanya di sekolah, mereka tak lagi langsung menuju ruang kelas. Dengan tas yang masih di punggung, para siswa justru berbondong-bondong menuju satu titik di lapangan sekolah untuk melakukan presensi melalui telepon genggam masing-masing.
Pemandangan itu menandai berakhirnya sistem absensi manual yang selama ini menggunakan daftar hadir di atas kertas. Kini, kehadiran siswa dicatat secara digital melalui sebuah laman berbasis web yang dikembangkan sekolah.
Ini bisa diakses oleh semua model ponsel, baik android maupun iOS. Namanya SMAN Arjasa E-Presensi. Sebelum resmi diterapkan, sistem tersebut lebih dulu disimulasikan selama sepekan untuk memastikan seluruh fitur berjalan dengan baik.
Baca Juga: Siap Buka-bukaan Izin Galian C, Gus Fawait Ajak Anggota DPRD Cek Aktivitas Tambang di Jember
Proses presensi pun terbilang sederhana. Siswa cukup masuk ke laman absensi menggunakan Nomor Induk Siswa (NIS) dan kata sandi masing-masing.
Setelah masuk ke halaman utama, mereka tinggal menekan tombol hadir. Namun, sistem hanya akan menerima presensi jika siswa berada di dalam radius 40 meter dari titik nol yang berada di tengah sekolah atau lapangan.
Dengan begitu, presensi benar-benar hanya bisa dilakukan ketika siswa sudah berada di lingkungan sekolah. Sekolah juga menetapkan batas waktu presensi mulai pukul 06.00 hingga 07.00. Jika melewati pukul 07.00, status kehadiran otomatis berubah menjadi terlambat.
Siswa yang mengalami kendala, baik karena gangguan teknis maupun alasan lain, harus melapor kepada operator atau tim IT sekolah agar presensinya dapat disesuaikan. Menariknya, sistem tersebut tak hanya mencatat kehadiran siswa. Begitu presensi berhasil dilakukan, notifikasi otomatis langsung dikirim ke WhatsApp orang tua.
Informasi yang diterima memuat waktu kehadiran siswa di sekolah. Jika siswa terlambat, sakit, atau memiliki keterangan lain, orang tua juga langsung menerima pemberitahuan sehingga dapat memantau kehadiran putra-putrinya secara real time.
“Presensi digital secara resmi ini dimulai Senin (3/8) kemarin dan wali murid langsung mendapatkan notifikasi dari absensi putra-putrinya. Jadi bila terlambat orang tua mengetahui,” terang Kepala SMAN Arjasa Selamet Supriyadi.
Dia mengatakan, inovasi itu berawal dari keinginan sekolah agar mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi. Gagasan tersebut kemudian diwujudkan oleh tim IT sekolah yang mulai mengembangkan sistem sejak Mei.
Selama Juni hingga awal Juli, berbagai penyempurnaan dilakukan hingga akhirnya simulasi digelar selama sepekan sebelum diterapkan secara resmi. “Presensi digital melalui gawai ini sebuah poin dari kami, dari warga sekolah untuk menjadikan sekolah ini adaptif dengan satu era. Era 4.0. Maka digitalisasi menjadi hal yang penting untuk peradaban masyarakat. Kami ingin itu bisa terwujud,” urai Selamet.
Menurut dia, tujuan utama penerapan presensi digital bukan semata-mata memanfaatkan teknologi. Sekolah ingin membentuk kebiasaan disiplin siswa melalui budaya datang tepat waktu. Dengan adanya batas waktu presensi, peserta didik diharapkan terbiasa hadir lebih pagi sebelum kegiatan belajar dimulai.
“Motivasinya sederhana bagaimana membangun karakter dan kebiasaan anak-anak yang pasti mereka harus berangkat pagi agar bisa absen, tidak crowded karena lewat di atas jam 07.00 otomatis mereka dianggap izin atau mengalami kendala yang lain atau terlambat. Nah, kalau misal mereka konsisten, maka satu nilai kedisiplinan dapat," katanya.
Baca Juga: Defisit APBD Tembus Rp 986 M, Rencana Utang Pemkab Jember Rp 786,5 Miliar Bikin DPRD Terbelah!
Selamet menambahkan, keterhubungan sistem presensi dengan WhatsApp orang tua juga menjadi upaya membangun kepercayaan masyarakat kepada sekolah. Orang tua dapat mengetahui secara langsung kapan anaknya tiba di sekolah tanpa harus menunggu kabar dari putra-putrinya.
“Ini membangun trust kepada masyarakat bahwasanya laporan kehadiran anak-anak itu akhirnya ternotifikasi, terkirim kepada orang tua. Otomatis orang tua ikut memantau posisi anaknya saat dia berangkat ke sekolah. Jam berapa dia sampai dan ini menjadi hal positif,” tuturnya.
Bagi Selamet, inovasi seperti ini menjadi salah satu cara agar sekolah terus berkembang mengikuti perubahan zaman. Ia berharap setiap tahun selalu ada pembaruan yang membawa manfaat bagi peserta didik maupun masyarakat sehingga sekolah mampu membangun budaya yang dinamis dan terus berorientasi pada peningkatan mutu pendidikan. (kin/dwi)
Editor : Imron Hidayatullahh