Radar Jember - Langkah-langkah kecil itu kini tak lagi ragu. Rido, bocah 12 tahun yang duduk di bangku kelas 6 SDN Jubung 02, melangkah pasti menyusuri jembatan gantung di Dusun Darungan, Desa Jubung, Kecamatan Sukorambi, kemarin (3/8).
Senyumnya mengembang, ditemani tawa renyah teman-temannya yang berjalan beriringan. Pemandangan ini kontras dengan situasi beberapa bulan lalu, di mana setiap kali hendak menuntut ilmu, bayang-bayang rasa takut selalu menghantui langkah mereka.
Sejak sepekan terakhir, jembatan gantung yang membentang gagah di atas Sungai Bedadung itu sudah mulai difungsikan kembali.
Meskipun proses pembangunannya belum sepenuhnya rampung seratus persen, kehadiran jembatan tersebut sudah memberikan napas lega yang luar biasa bagi warga setempat, terutama anak-anak sekolah dari tingkat TK, SD, hingga Madrasah Tsanawiyah (MTs).
Sebab, sebelum adanya jembatan gantung mereka menyeberang sungai dengan getek atau rakit. "Kalau berangkat sekolah sudah tidak perlu nyebrang naik rakit lagi. Sehingga bisa berangkat sendiri bersama teman," ujar Rido penuh semangat.
Di balik senyum bahagia yang kini terpancar dari wajah para pelajar, tersimpan memori kelam tentang bagaimana akses vital antardesa sempat lumpuh total.
Kepala Dusun Darungan, Desa Jubung, Wahyudi, mengenang kembali detik-detik ketika bencana melumpuhkan aktivitas warga.
Awal Januari lalu, banjir yang datang secara tiba-tiba menerjang wilayah tersebut. Air sungai yang meluap, memutus jembatan gantung yang menjadi tumpuan mobilitas harian warga.
Baca Juga: Info Lantas Jember Hari Ini: Evakuasi Truk Fuso Jalan Nasional Ditutup 30 Menit
Akibatnya, akses yang menghubungkan Desa Jubung di Kecamatan Sukorambi dengan Desa Pancakarya terputus seketika.
Warga sempat dihadapkan pada situasi yang sulit. Pilihannya hanya dua: memutar arah dengan jarak tempuh yang jauh memakan waktu, atau mengambil risiko menyeberang menggunakan rakit tradisional demi bisa beraktivitas.
Kini, luka akibat terjangan air bah itu perlahan-lahan mulai disembuhkan oleh kerja keras pemulihan infrastruktur. Jembatan gantung dengan spesifikasi panjang mencapai 105 meter dan lebar 1,2 meter tersebut kini berdiri semakin kokoh dan siap mengemban kembali fungsinya.
Menurut pelaksana pembangunan jembatan gantung, Wahyudi, progres pembangunan saat ini sudah berada di ambang garis akhir.
Tinggal menyisakan beberapa persen saja untuk merampungkan seluruh detailnya. "Jembatan ini tinggal pemasangan jaring pengamannya saja. Untuk seling penahan jembatan sudah terpasang, sehingga ketika dilewati sudah tidak goyang lagi," terang Wahyudi dengan nada optimistis.
Meski pihak pelaksana masih merampungkan pemasangan pagar pengaman atau jaring di sisi kanan dan kiri jembatan, antusiasme warga untuk memanfaatkannya sudah tidak tertahankan lagi.
Pilihan untuk melintasi jembatan yang belum sepenuhnya selesai ini dinilai jauh lebih efektif ketimbang harus memutar arah dengan jarak yang melelahkan.
Anak-anak sekolah menjadi pihak yang paling merasakan manfaat besar ini. Mereka tidak lagi harus menunggu orang tua mereka meluangkan waktu untuk mengantar menyeberang sungai.
Kendati demikian, pihak perangkat desa bersama para tokoh masyarakat setempat tetap tidak bosan-bosannya memberikan imbauan kepada para orang tua dan anak-anak.
Mengingatkan proses pemasangan pagar pengaman masih menyisakan sedikit tahap akhir (finishing), kewaspadaan dan kehati-hatian saat melintas tetap menjadi prioritas utama. (jum/dwi)
Editor : Imron Hidayatullahh