Radar Jember - Kebijakan SMA Kartini yang menghentikan normalisasi penggunaan make-up di lingkungan sekolah mendapat beragam tanggapan.
Salah satunya datang dari alumnus SMKN 2 Jember, Olivia Marsya Ayu, yang mengaku kebijakan serupa sebenarnya pernah diterapkan di sekolahnya.
Marsya, yang baru lulus pada 2026, mengatakan saat masih duduk di bangku kelas X, mayoritas siswi datang ke sekolah tanpa menggunakan riasan wajah. Namun, seiring waktu, kebiasaan memakai make-up tipis mulai muncul di kalangan pelajar.
"Awalnya saya tidak memakai apa-apa ke sekolah. Tapi ada teman yang mulai pakai lip balm dan sedikit perona pipi. Lama-kelamaan saya juga ikut memakai bedak dan lip balm yang memberi warna pink tipis di bibir," ujar perempuan 19 tahun ini.
Baca Juga: Home Care Jember Resmi Diluncurkan, Layanan Kesehatan Kini Datang Langsung ke Rumah
Menurutnya, penggunaan kosmetik di sekolah semakin beragam. Bahkan, beberapa siswi dari jurusan lain menggunakan pensil alis dengan riasan yang cukup tebal. Kondisi tersebut sempat mendapat perhatian guru Bimbingan Konseling (BK) yang rutin melakukan inspeksi mendadak.
"Guru BK pernah menghapus make-up siswa. Bahkan wali kelas juga pernah menggeledah tas dan menemukan lipstik serta kosmetik lainnya. Namanya juga anak-anak, setelah disita ya beli lagi. Rasanya tidak kapok," katanya.
Marsya menuturkan, tren memakai make-up semakin terlihat ketika para siswa kembali ke sekolah setelah menjalani program magang industri. Saat duduk di kelas XII, penampilan sebagian siswi berubah cukup mencolok.
"Dari 11 teman perempuan di kelas saya, ada tiga orang yang sudah memakai bulu mata palsu ke sekolah. Itu terjadi setelah magang," ungkapnya.
Baca Juga: Pelayanan Publik Tak Lagi Berpusat di Kota, Pemkab Jember Percepat Layanan hingga Pelosok
Ia menduga perubahan tersebut dipengaruhi lingkungan kerja selama magang. Menurutnya, ketika berada di tempat magang, para siswa tidak lagi diawasi setiap hari oleh guru sehingga memiliki kesempatan belajar merias diri.
Marsya mengaku, hanya sedikit teman perempuannya yang benar-benar tampil polos tanpa kosmetik sama sekali. Minimal, kata dia, sebagian besar menggunakan lip balm.
"Kadang kalau ada teman yang tidak memakai apa-apa justru disuruh pakai lip balm ataupun lipstik. Katanya wajah terlihat pucat. Teman-temannya bilang, 'Kamu kok pucat, pakai ini biar tidak pucat'," tuturnya.
Meski mendukung adanya aturan yang mengatur penggunaan make-up di sekolah agar tetap sesuai usia dan lingkungan pendidikan, Marsya menilai belajar merias diri juga memiliki sisi positif apabila dilakukan secara tepat.
Setelah lulus SMK dan melanjutkan kuliah di jurusan Pariwisata, ia justru merasa perlu mempelajari teknik make-up secara lebih benar. "Ada manfaatnya juga belajar make-up. Saya justru merasa terlambat belajarnya," katanya.
Menurut Marsya, pengetahuan tentang kosmetik tidak hanya berkaitan dengan penampilan, tetapi juga kesehatan kulit. Dari pengalaman menggunakan lip balm dan bedak, ia mulai mempelajari kandungan produk kecantikan yang aman bagi remaja.
Baca Juga: Jadwal Samsat Keliling Jember Dalam Sepekan, Catat Lokasi Layanan agar Tak Salah Tujuan
"Saya jadi tahu produk mana yang bagus, aman, dan tidak berbahaya untuk kulit," ujarnya.
Kini ia memahami pentingnya menghindari bahan berbahaya seperti merkuri, hidrokuinon, dan asam retinoat pada produk kecantikan.
Selain itu, ia juga mulai mengenali produk perawatan kulit, termasuk sabun yang tidak mengandung Sodium Lauryl Sulfate (SLS) agar kulit tidak mudah kering.
"Dari belajar make-up, kita jadi lebih aware terhadap kesehatan kulit sebagai perempuan. Bukan hanya ingin tampil menarik, tetapi juga memahami cara merawat kulit dengan produk yang aman," pungkasnya. (dwi)
Editor : Imron Hidayatullahh