Bikin Kaget! Pakar Psikologi Jember Sebut Remaja Pakai Makeup Itu Wajar, tapi Bisa Berbahaya Jika Begini

M Adhi Surya • Dipublikasikan Senin, 3 Agustus 2026 | 08:00 WIB
"Remaja putri ber-make-up itu hal yang wajar. Karena pada usia tersebut mereka sedang mencari identitas diri dan membutuhkan pengakuan dari orang lain." Dr MUHIB ALWI , Ketua Jurusan Psikologi dan Bimbingan Konseling, Fakultas Dakwah, UIN KHAS Jember. (DOKUMENTASI RADAR JEMBER)
"Remaja putri ber-make-up itu hal yang wajar. Karena pada usia tersebut mereka sedang mencari identitas diri dan membutuhkan pengakuan dari orang lain." Dr MUHIB ALWI , Ketua Jurusan Psikologi dan Bimbingan Konseling, Fakultas Dakwah, UIN KHAS Jember. (DOKUMENTASI RADAR JEMBER)

Radar Jember - Maraknya penggunaan make-up di kalangan remaja putri menjadi fenomena yang semakin mudah dijumpai, termasuk di lingkungan sekolah.

Bagi sebagian orang, kebiasaan tersebut kerap dipandang sebagai bentuk mengikuti tren, namun dari sudut pandang psikologi, perilaku itu merupakan bagian dari fase perkembangan remaja yang sedang mencari jati diri.

Ketua Jurusan Psikologi dan Bimbingan Konseling, Fakultas Dakwah, Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq (UIN KHAS) Jember, Dr Muhib Alwi, mengatakan ketertarikan remaja terhadap make-up pada dasarnya merupakan hal yang wajar.

Baca Juga: Info Laka Jember: Rem Blong, Fuso Tabrak Truk Tangki BBM Hingga Masuk Jurang

Pada masa remaja, seseorang sedang berada dalam proses membentuk identitas diri sekaligus membutuhkan pengakuan dari lingkungan sekitarnya.

"Remaja putri ber-make-up itu hal yang wajar. Karena pada usia tersebut mereka sedang mencari identitas diri dan membutuhkan pengakuan dari orang lain," ujarnya.

Meski demikian, Muhib mengingatkan bahwa penggunaan make-up dapat menjadi tidak wajar ketika dilakukan secara berlebihan.

Misalnya, memakai produk kosmetik yang lazim digunakan orang dewasa, memilih merek dengan harga mahal demi mengikuti tren, menggunakan riasan yang terlalu mencolok, hingga memakainya pada situasi yang tidak tepat seperti di sekolah atau tempat ibadah. 

“Bisa tak wajar jika dilakukan secara berlebihan di usianya,” imbuhnya. 

Baca Juga: Home Care Jember Resmi Diluncurkan, Layanan Kesehatan Kini Datang Langsung ke Rumah

Menurutnya, perilaku tersebut sering kali dipengaruhi oleh persoalan psikologis. Salah satunya adalah munculnya rasa rendah diri akibat ejekan teman sebaya atau penilaian negatif dari lingkungan sekitar terhadap penampilan fisik.

Kondisi itu kemudian mendorong remaja berusaha menutupi kekurangan yang mereka rasakan melalui make-up.

Selain dipengaruhi rasa inferior, kebiasaan menggunakan make-up secara berlebihan juga dapat terbentuk karena proses meniru.

Remaja cenderung menjadikan orang tua, anggota keluarga, figur publik, maupun orang dewasa di sekitarnya sebagai panutan. Apa yang mereka lihat setiap hari perlahan menjadi standar yang ingin diikuti.

Karena itu, Muhib menilai pendekatan yang dilakukan kepada remaja sebaiknya tidak berupa larangan secara keras. Yang lebih dibutuhkan adalah membangun kepercayaan diri agar mereka mampu menerima dirinya sendiri tanpa bergantung pada penampilan. 

Baca Juga: Pelayanan Publik Tak Lagi Berpusat di Kota, Pemkab Jember Percepat Layanan hingga Pelosok

Orang tua dan guru juga perlu memberikan teladan mengenai penggunaan make-up yang sesuai dengan usia dan kebutuhan. Ketika berbelanja make-up, orang tua bisa mengajak anak agar sekaligus mendapatkan edukasi mengenai produk yang sesuai. 

“Yang terpenting adalah membangun kepercayaan diri mereka untuk tampil sesuai identitas dirinya, bukan karena tuntutan lingkungan atau tren semata, sehingga penggunaannya tidak berlebihan," pungkasnya. (dhi/dwi)

 

 

Editor : Imron Hidayatullahh
makeup siswi Jember UIN KHAS Jember siswi smk Psikologi