Radar Jember - Siswi SMA/SMK sederajat sekarang penampilannya memang beda jauh dengan tahun 90 an ataupun awal 2000-an.
Mereka sudah modis, kulitnya tidak kusam lagi. Tapi sebagian justru merias wajahnya kelewat batas yang membuat guru harus bertindak.
Beberapa menit sebelum bel masuk berbunyi, siswi SMK Kartini spontan membuka cermin kecil dari dalam tasnya.
Baca Juga: Info Laka Jember: Rem Blong, Fuso Tabrak Truk Tangki BBM Hingga Masuk Jurang
Seketika bibirnya dipoles tipis dengan pewarna bibir. Lalu jemarinya merapikan bedak di pipi, bahkan rona alis yang tak lagi simetris mulai dipertebal dengan pensil alis.
Kebiasaan itu dulu hampir selalu dilakukan Amelia Indah, siswi yang saat ini duduk dibangku kelas XII Akuntansi dan Keuangan Lembaga (AKL) SMK Kartini Jember. Baginya, tampil rapi dengan sedikit make-up membuat rasa percaya diri ikut meningkat.
Di usianya yang beranjak dewasa, Amelia mengaku, memakai make-up di sekolah bukan dirinya saja. Tapi banyak teman sebayanya melakukan hal yang sama.
Bahkan, sudah menjadi bagian dari keseharian. Bukan semata mengejar pujian, tetapi juga mengikuti tren yang berkembang di media sosial.
Baca Juga: Home Care Jember Resmi Diluncurkan, Layanan Kesehatan Kini Datang Langsung ke Rumah
"Dulu saya merasa kalau pakai make-up itu lebih pede. Rasanya lebih siap bertemu teman dan mengikuti pelajaran," tuturnya.
Fenomena itu memang semakin akrab dengan kehidupan pelajar. Lip tint, cushion, blush on, hingga eyeliner kini bukan lagi barang asing di dalam tas sekolah. Tak sedikit siswa yang beberapa kali berkaca untuk memastikan riasannya tetap rapi.
Bahkan, sebelum jam pelajaran dimulai atau saat waktu istirahat, cermin kecil kerap berpindah dari satu tangan ke tangan lainnya. Namun, di balik tren tersebut, muncul persoalan yang mulai menjadi perhatian.
Sebagian pelajar perlahan lebih sibuk menjaga penampilan dibanding berkonsentrasi pada pembelajaran.
Ada pula yang merasa kurang percaya diri jika datang ke sekolah tanpa make-up. Terkadang saat berjumpa dengan temannya, tema yang dibahas bukan pelajaran, tapi wajah yang glowing.
Kondisi itulah yang mendorong SMK Kartini Jember menerapkan normalisasi penggunaan make-up di lingkungan sekolah. Guru Bimbingan Konseling (BK) SMK Kartini Jember, Lutfiatul Munawarah mengatakan, sekolah tidak melarang siswanya berhias.
Namun, penggunaannya harus tetap sewajarnya dan sesuai dengan usia pelajar agar tidak mengaburkan tujuan utama mereka datang ke sekolah. "Boleh bermake-up, tetapi sewajarnya dan sesuai usianya. Intinya tidak berlebihan," ujarnya.
Menurutnya, kebijakan tersebut sudah lama diterapkan. Hanya saja, pelaksanaannya dilakukan secara bertahap melalui edukasi kepada siswa maupun orang tua agar perubahan tidak terasa sebagai larangan semata.
Lutfiatul menjelaskan, sekolah lebih mengedepankan pembinaan daripada hukuman. Guru akan memberikan teguran lisan apabila menemukan siswa menggunakan make-up berlebihan, seperti lipstik mencolok, bedak terlalu tebal, maupun bulu mata palsu.
Baca Juga: Pelayanan Publik Tak Lagi Berpusat di Kota, Pemkab Jember Percepat Layanan hingga Pelosok
Jika diperlukan, maka siswa diminta menghapus riasan tersebut. Sementara itu, perlengkapan make-up yang dibawa ke sekolah akan diamankan dan hanya dapat diambil oleh orang tua. Menurutnya, langkah itu lahir dari fenomena yang sering dijumpai di lingkungan sekolah.
Menurutnya, tidak sedikit siswa yang masih sempat bercermin saat guru menjelaskan pelajaran. Selain mengembalikan fokus belajar, aturan tersebut juga bertujuan mencegah munculnya kesenjangan sosial antar siswa akibat perbedaan penampilan maupun kemampuan membeli produk kecantikan.
"Kami ingin anak-anak memahami bahwa sekolah adalah tempat belajar, bukan tempat berlomba menunjukkan penampilan," pungkasnya. (dhi/dwi)
Editor : Imron Hidayatullahh