RADAR JEMBER – Jember Fashion Carnaval (JFC) tak lagi hanya dikenal sebagai agenda wisata tahunan. Menteri Pariwisata Republik Indonesia Widiyanti Putri Wardhana menyebut JFC sebagai bagian dari soft power Indonesia saat menghadiri Grand Carnival JFC 2026.
Istilah tersebut merujuk pada kemampuan suatu negara membangun pengaruh melalui budaya dan kreativitas, bukan melalui kekuatan ekonomi maupun militer.
Menurutnya, karya-karya yang lahir dari JFC mampu menjadi wajah Indonesia di mata dunia.
Baca Juga: Siap Naik Kelas! JFC 2026 Didorong Tembus Kalender Wisata Internasional dan Gaet Turis Asing!
Widiyanti menjelaskan, setiap kostum yang ditampilkan peserta JFC bukan sekadar hasil rancangan busana, melainkan membawa cerita tentang sejarah, warisan budaya, kearifan lokal, hingga identitas bangsa.
"Di era saat ini, citra sebuah bangsa tidak hanya dibangun melalui diplomasi di ruang-ruang perundingan, tetapi juga melalui budaya dan kreativitas yang mampu menyentuh hati masyarakat dunia," ujarnya saat menghadiri Grand Carnival JFC 2026.
Melalui konsep tersebut, JFC dinilai berperan sebagai alat diplomasi budaya.
Ketika masyarakat internasional mengenal Indonesia lewat pertunjukan kreatif seperti JFC, diharapkan muncul ketertarikan untuk berkunjung dan merasakan langsung kekayaan budaya maupun destinasi wisata di Tanah Air.
Baca Juga: Sulap Sampah Jadi Kostum Megah JFC 2026, Aksi Belasan Siswa Sekolah Rakyat Jember Ini Bikin Terharu
Karena itu, Menpar menyebut JFC telah menjadi salah satu bentuk soft power Indonesia yang memperkuat citra bangsa di tingkat global.
Pernyataan itu juga menunjukkan perubahan posisi JFC di mata pemerintah.
Karnaval yang lahir di Kabupaten Jember ini kini tidak lagi dipandang sebagai festival daerah semata, melainkan sebagai bagian dari strategi promosi pariwisata nasional.
Konsistensinya selama lebih dari dua dekade, termasuk kembali masuk dalam jajaran Top 10 Karisma Event Nusantara (KEN) 2026, dinilai menjadi bukti bahwa JFC memiliki kualitas penyelenggaraan yang mampu menarik perhatian nasional hingga internasional.
Widiyanti turut mengapresiasi visi almarhum Dynand Fariz yang menjadikan jalanan Jember sebagai panggung kelas dunia.
Menurutnya, JFC membuktikan bahwa karya berskala internasional tidak harus lahir dari kota besar, tetapi bisa tumbuh dari daerah yang mampu menjaga kreativitas dan konsisten mengembangkan budaya sebagai kekuatan untuk memperkenalkan Indonesia kepada dunia.
Penulis : Siti Roihani
Editor : Imron Hidayatullahh