Radar Jember - Langkah-langkah kecil itu berayun mantap di atas catwalk Jalan Sudirman, depan Kantor Pemkab Jember.
Di balik kemegahan ornamen karsa, kilau hiasan headpiece, hingga kepakan sayap raksasa yang meliuk anggun, tersimpan kisah perjuangan sederhana namun mendalam.
Siapa sangka, di balik rancangan kostum mega-volumetrik yang memukau ribuan pasang mata penonton JFC 2026 saat itu, terdapat jemari mungil belasan anak dari Sekolah Rakyat (SR) Terintegrasi Jember.
Baca Juga: Di Antara Banyak Guest Star, Mengapa Kehadiran Bule Barbie Paling Menyatu dengan Atmosfer JFC 2026?
Lembaga pendidikan yang bahkan belum genap berusia satu tahun ini nekat menerobos panggung karnaval kelas dunia. Bukan sekadar ajang bergaya, keikutsertaan mereka ini terbilang baru debut.
Berbekal rasa percaya diri, mereka membuktikan kreativitasnya layak dilirik dunia. Sekalipun berasal dari keluarga kategori Desil 1 dan 2 (keluarga dengan latar tingkat ekonomi kelas bawah).
"Kami ingin membuktikan, kesempatan belajar secara inklusif benar-benar terwujud di Sekolah Rakyat. Para siswa mendapat kesempatan yang sama, termasuk tampil di ajang internasional seperti JFC," kata Koordinator JFC Sekolah Rakyat Jember, Muhammad Dimas Nasihudin, dalam keterangan resminya, (24/7).
Dalam pelaksanaannya, sebanyak 15 siswa SR tersebar di beberapa defile, baik dalam rangkaian World Kids Carnaval (WKC) maupun Grand Carnival. Pada WKC, siswa Sekolah Rakyat tampil di chapter Inuit (5 siswa), Roots (2 siswa), dan Gaia (1 siswa).
Sementara pada Grand Carnival, para siswa tersebar di chapter Re-Birth (1 siswa), Roots (1 siswa), Conscience (3 siswa), dan Noise (2 siswa).
Baca Juga: JFC 2026 Tak Asal Memilih Guest Star, Kehadiran Sisca Saras Ternyata Punya Makna Tersendiri
Uniknya, kemewahan kostum yang mereka kenakan tak dibeli dari salon mahal maupun perancang ternama.
Mulai dari konsep awal, ornamen hiasan, botol plastik bekas, potongan kardus, hingga busa yang dirangkai menjadi busana anggun, semuanya diolah mandiri oleh para siswa dengan bimbingan guru-guru mereka, serta pendampingan dari Tim Relawan JFC.
Langkah ini memastikan setiap karya tetap memenuhi standar artistik ajang bergengsi itu. Meski dari bahan daur ulang, tapi mampu disulap menjadi karya seni bernilai tinggi yang selaras dengan tema besar JFC 2026, yakni HEAL (Humanity, Earth, And Life).
Di atas lintasan JFC 2026, sorak sorai dan rasa bangga membakar semangat para talent. Salah satu talent JFC dari siswa SR, Ikana Sila, mengaku tahun ini menjadi momen istimewa baginya karena untuk pertama kalinya ia berkesempatan tampil dan menjadi bagian dari JFC.
"Senang bisa tampil. Latihannya tidak terlalu susah dan bikin senang banget. Agak berat dikit dan lumayan susah waktu belajar lenggak-lenggok menggunakan pakaian itu," aku anak yatim kelas 7 SMP SR asal Puger itu, menceritakan pengalamannya.
Aksi memukau para pelajar Sekolah Rakyat ini tak hanya menghipnotis warga lokal, tetapi juga memikat perhatian tokoh-tokoh nasional hingga wisatawan mancanegara yang hadir di panggung kehormatan.
Termasuk Menpar Widianti P. Wardana, Wamendagri Bima Arya, Wagub Jatim Emil Elestianto Darda, sejumlah anggota DPR RI, kepala daerah, serta Bupati Jember Muhammad Fawait, beserta jajarannya.
Kepala Sekolah Rakyat Jember, Kartika Sari Dewi, mengemukakan dari 15 siswa diterjunkan dalam perhelatan tahunan berskala internasional itu, delapan murid tingkat SD mengawali langkah pada ajang World Kids Carnival, sementara tujuh pelajar SMP tampil memukau di puncak acara Grand Carnival.
Baca Juga: Lebih dari Sekadar Karnaval, JFC 2026 Mulai Menggabungkan Fashion, Drama, dan Teknologi Sekaligus
"Kami ingin meningkatkan rasa kepercayaan diri anak-anak. Bahwa meskipun anak-anak kami berasal dari keluarga yang kurang beruntung, mereka tetap bisa bersaing dengan talent-talent nasional di kancah internasional," tambah Kartika, kepada wartawan. (mau/dwi)
Editor : Imron Hidayatullahh