Bukan Cuma Tugas Orang Tua! PKK dan Tanoker Jember Gaungkan Pola Asuh Kolaboratif Demi Anak Pekerja Migran

Sidkin • Dipublikasikan Senin, 27 Juli 2026 | 09:30 WIB
(ilustrasi diolah dengan AI)
(ilustrasi diolah dengan AI)

Radar Jember - Keberangkatan orang tua menjadi pekerja migran Indonesia (PMI) memang mampu meningkatkan perekonomian keluarga.

Namun di sisi lain, anak-anak yang ditinggalkan juga membutuhkan perhatian khusus agar tetap mendapatkan pengasuhan yang baik selama orang tua bekerja di luar negeri.

Karena itu, pola asuh anak buruh migran dinilai harus menjadi tanggung jawab bersama, bukan hanya keluarga inti.

Ketua Bidang I Pokja TP PKK Kabupaten Jember, Arief Widianie A, mengatakan keluarga pekerja migran membutuhkan dukungan dari berbagai pihak agar anak-anak tetap tumbuh sehat, aman, dan memperoleh perhatian yang cukup.

Baca Juga: JFC 2026: Magnet Wisatawan Mancanegara dan Ikon Karnaval Kebanggaan Indonesia, Miss Youth Indonesia 2025 Sangat Terpukau Karnaval dari Kabupaten Jember

Menurutnya, penguatan pola asuh tidak bisa hanya dibebankan kepada ayah, ibu, maupun keluarga yang mengasuh di rumah, tetapi juga memerlukan keterlibatan lingkungan sekitar.

Peran kader PKK, Posyandu, sekolah, tokoh masyarakat, hingga pemerintah daerah dinilai penting untuk mendampingi tumbuh kembang anak-anak dari keluarga pekerja migran.

"Penguatan pola asuh tidak bisa hanya menjadi tanggung jawab keluarga inti. Semua pihak harus hadir untuk memastikan anak-anak tetap mendapatkan kasih sayang, perhatian, dan pendampingan selama orang tuanya bekerja di luar negeri," ujarnya.

Arief berharap, ke depan lahir sistem pendampingan yang mampu menjaga ketahanan keluarga migran sekaligus memastikan anak-anak tetap tumbuh dalam lingkungan yang sehat, aman, dan penuh perhatian.

Baca Juga: Pertama di Indonesia! Wamenkes Apresiasi Langkah Berani Pemkab Jember Biayai Homecare Pakai APBD

"Ketika pengasuhan kuat, keluarga pun kuat. Dan ketika keluarga kuat, lahirlah anak-anak hebat yang kelak menjadi kebanggaan Jember," tegasnya.

Pandangan serupa disampaikan Ketua Komunitas Tanoker, Farha Ciciek. Menurutnya, selama ini Tanoker telah mengembangkan konsep collaborative parenting atau pengasuhan kolaboratif bagi anak-anak dan keluarga pekerja migran.

Program tersebut bertujuan membangun kepedulian sosial masyarakat sekaligus menghidupkan kembali budaya gotong royong dalam mendampingi tumbuh kembang anak.

"Sejauh ini Tanoker mengembangkan collaborative parenting bagi anak-anak dan keluarga buruh migran yang bertujuan membangun kepedulian sosial masyarakat, membangkitkan kearifan lokal gotong royong untuk menyelenggarakan pengasuhan lintas batas," katanya.

Menurut Farha, pola pengasuhan berbasis komunitas tersebut telah berjalan cukup baik di Kecamatan Ledokombo. Berbagai unsur masyarakat ikut terlibat, mulai dari sekolah, guru mengaji, organisasi kemasyarakatan, pemerintah desa, hingga pemerintah kecamatan.

Baca Juga: Bakal Dilaporkan ke Presiden! Kemenkes Undang Pemkab Jember Presentasi Program Homecare di Jakarta

Seluruh elemen tersebut berkolaborasi menciptakan lingkungan yang mendukung tumbuh kembang anak-anak buruh migran.

Meski demikian, ia menilai masih ada pekerjaan rumah yang harus menjadi perhatian bersama, yakni menjaga hubungan emosional antara anak dengan orang tua yang sedang bekerja di luar negeri.

Komunikasi yang terjalin secara rutin dinilai menjadi bagian penting dalam proses pengasuhan meski terpisah jarak dan waktu.

Oleh karena itu, Tanoker berharap semakin tumbuh kesadaran dari pekerja migran Indonesia, anggota keluarga, masyarakat sekitar, hingga pemerintah daerah untuk bersama-sama menciptakan sistem pengasuhan yang kuat.

Baca Juga: Homecare Pertama di Indonesia Resmi Dilaunching, Bupati Jember: Orang Miskin Berhak Punya Dokter Pribadi

Dengan kolaborasi tersebut, anak-anak pekerja migran tidak hanya tumbuh sehat dan berprestasi, tetapi juga memiliki ketahanan mental serta karakter yang baik sebagai generasi penerus Kabupaten Jember. (kin/dwi)

Editor : Imron Hidayatullahh
Jember TP PKK JEMBER Tanoker Ledokombo pekerja migran indonesia PMI