Rumah Mewah tapi Rindu Pelukan! Pelajar di Jember Ini Ungkap Luka Batin Tumbuh Tanpa Kehadiran Orang Tua

M Adhi Surya • Dipublikasikan Senin, 27 Juli 2026 | 06:00 WIB
(ilustrasi diolah dengan AI)
(ilustrasi diolah dengan AI)

Radar Jember - Hari Anak Nasional (HAN) yang diperingati setiap 23 Juli selalu menjadi momentum untuk mengingatkan pentingnya perlindungan anak, mulai dari ancaman kekerasan, perundungan, hingga pemenuhan hak-hak mereka untuk tumbuh dan berkembang secara optimal.

Namun, di balik peringatan tersebut, ada kelompok anak yang sering luput dari perhatian, yakni anak-anak pekerja migran. Sekilas mereka tampak hidup berkecukupan. Rumah berdiri megah, kebutuhan pendidikan terpenuhi, dan kehidupan ekonomi keluarga membaik.  Akan tetapi, di balik kecukupan materi itu tersimpan kerinduan yang tak mudah tergantikan: kehadiran dan pelukan orang tua.

Muhammad Aziz Arifin tampak asyik duduk di sudut ruang tempatnya menjalani praktik kerja lapangan (PKL).  Di pojok ruangan itu, pelajar salah satu SMK di Kecamatan Kencong tersebut sibuk menatap layar komputer, menyelesaikan desain yang menjadi pekerjaannya.

Baca Juga: JFC 2026: Magnet Wisatawan Mancanegara dan Ikon Karnaval Kebanggaan Indonesia, Miss Youth Indonesia 2025 Sangat Terpukau Karnaval dari Kabupaten Jember

Baginya, sudut ruangan itu adalah tempat paling nyaman. Jauh dari keramaian, sehingga ia bisa lebih fokus menyelesaikan setiap tugas.
Sepintas, tak ada yang berbeda dari remaja seusianya.

Tubuhnya memang tampak lebih mungil dibanding teman-temannya. Selebihnya, Aziz hanyalah seorang pelajar yang sedang menyiapkan masa depan.

Namun, suasana berubah ketika pembicaraan mengarah pada pekerja migran. Di antara teman-temannya, Aziz menjadi sosok yang paling memahami pekerja migran.  "Ya saya tahu pekerja migran itu apa. Dulu namanya TKI kan," ucapnya sambil tersenyum tipis.

Pemahaman itu bukan diperoleh dari buku pelajaran atau berita yang ia baca. Aziz mengenalnya dari pengalaman hidupnya sendiri. Ia adalah anak pekerja migran.

Sejak kecil, kedua orang tuanya bekerja di luar negeri demi memperbaiki ekonomi keluarga.

Baca Juga: Pertama di Indonesia! Wamenkes Apresiasi Langkah Berani Pemkab Jember Biayai Homecare Pakai APBD

Sementara itu, Aziz tetap tinggal di kampung halamannya di Desa Sukoreno, Kecamatan Umbulsari, menjalani hari-hari tanpa kehadiran ayah dan ibunya.

Di usia lima tahun, ia harus menerima kenyataan yang tidak dialami sebagian besar anak seusianya. Sang ibu berangkat menjadi pekerja migran ke luar negeri.

Setahun kemudian, ayahnya menyusul. Sejak saat itu, Aziz tumbuh tanpa kehadiran kedua orang tuanya di rumah.

Masa kecilnya dijalani bersama keluarga besarnya yang mengambil alih peran pengasuhan. Anak pertama dari dua bersaudara itu awalnya tinggal bersama kakak sepupu dan kakek dari pihak ayah.

Hari-harinya berlalu tanpa sosok ayah dan ibu yang biasanya menjadi tempat anak bercerita, mengadu, atau sekadar mencari pelukan ketika merasa sedih.

Baca Juga: Bakal Dilaporkan ke Presiden! Kemenkes Undang Pemkab Jember Presentasi Program Homecare di Jakarta

"Sejak usia lima tahun ibu saya sudah pergi ke luar negeri. Selang satu tahun ayah juga menyusul. Saya dan adik tinggal bersama kakak dan kakek dari ayah," kenangnya.

Keputusan kedua orang tuanya merantau memang membawa perubahan besar bagi kondisi ekonomi keluarga. Kebutuhan sehari-hari hingga biaya pendidikan dapat terpenuhi dengan baik. Termasuk bisa membelikan gadget untuk kebutuhan sekolah. 

Namun, bagi Aziz, kecukupan materi tidak pernah benar-benar mampu menggantikan arti kehadiran orang tua. Ada ruang kosong yang tetap terasa meski seluruh kebutuhan hidup tercukupi.

Ia mengaku sempat mengalami tekanan batin ketika masih kecil. Tidak adanya pendampingan langsung dari ayah dan ibu membuatnya beberapa kali merasa kehilangan kasih sayang.

Bahkan, kondisi itu sempat membuatnya mengalami stres saat tinggal bersama keluarga dari pihak ayah.

Baca Juga: Homecare Pertama di Indonesia Resmi Dilaunching, Bupati Jember: Orang Miskin Berhak Punya Dokter Pribadi

"Sebelum terbiasa seperti sekarang, dulu saya sangat tertekan kalau tidak ditemani kedua orang tua. Saya sempat merasa stres karena kurang kasih sayang," ujarnya.

Keadaan mulai berubah ketika Aziz pindah tinggal bersama keluarga dari pihak ibu. Di rumah itulah ia menemukan kehangatan yang selama ini dirindukan. Nenek dan terutama bibinya memberikan perhatian yang perlahan menyembuhkan luka batin yang ia pendam sejak kecil.
Bagi Aziz, bibinya bukan sekadar kerabat, tetapi sosok yang menghadirkan kasih sayang layaknya seorang ibu.

"Alhamdulillah setelah pindah ke keluarga ibu saya sudah tidak merasa sedih atau stres lagi. Saya mendapatkan kasih sayang penuh dari bibi, seperti kasih sayang seorang ibu," tuturnya.

Meski komunikasi dengan kedua orang tuanya tetap terjalin melalui panggilan video, rasa rindu itu tidak pernah benar-benar hilang. Ia memilih mengalihkan perasaannya dengan bermain bersama teman-teman, berjalan-jalan, atau menyibukkan diri dengan berbagai aktivitas.

Aziz juga menyadari bahwa tumbuh tanpa pengawasan langsung dari orang tua membuat anak pekerja migran lebih rentan terhadap berbagai pengaruh negatif, termasuk pergaulan bebas.

Baca Juga: Catat Jam Penutupan Sultan Agung–Gajah Mada! Dishub Jember Sebar Kantong Parkir Resmi Buat Penonton JFC 2026

Beruntung, nasihat dari kakak sepupu, kakek, nenek, dan bibinya menjadi pegangan agar ia tetap berada di jalan yang benar.

Baginya, menjaga kepercayaan keluarga adalah cara sederhana untuk membalas perjuangan kedua orang tuanya yang rela bekerja jauh di negeri orang demi masa depannya.

"Godaan itu pasti ada karena orang tua jauh. Tapi saya selalu ingat pesan kakak, kakek, dan bibi supaya tidak mengecewakan ayah dan ibu yang sedang berjuang di tanah perantauan. Itu yang selalu saya pegang sampai sekarang," pungkasnya. (dhi/dwi)

Editor : Imron Hidayatullahh
Jember pekerja migran indonesia PMI