Ogah Sampah Daun Terbuang Percuma, SMPN 1 Pakusari Sukses Bikin Inovasi Berkonsep Eco Green yang Asah Jiwa Bisnis Siswa

Maulana RJ • Dipublikasikan Kamis, 23 Juli 2026 | 06:00 WIB
INOVATIF: Salah seorang siswa SMP tengah menunjukkan produk hasil pengolahan sampah organik, menjadi pupuk kompos. (MAULANA/RADAR JEMBER)
INOVATIF: Salah seorang siswa SMP tengah menunjukkan produk hasil pengolahan sampah organik, menjadi pupuk kompos. (MAULANA/RADAR JEMBER)

Radar Jember - Kepedulian lingkungan, bisa muncul dari kegiatan yang terus menerus dilakukan. Inilah yang dilakukan oleh SMPN 1 Pakusari, dari awalnya rutinitas menanam dan merawat pohon. Kini, mereka membuat pupuk kompos dari sampah.

Suasana area halaman SMP Negeri 1 Pakusari siang itu tampak berbeda. Di sudut-sudut taman sekolah yang rindang, deretan tanaman obat dan dedaunan hijau berdiri tegak menyegarkan mata.

Namun, rahasia di balik kesuburan tanaman-tanaman tersebut bukan sekadar siraman air biasa, ada hasil racikan dari tangan-tangan mungil para siswanya sendiri.

Baca Juga: Tembus Rp1 Triliun! Serapan KUR Jember Lampaui Rata-Rata Nasional

​Zahratul Jannah, siswi kelas 9F SMPN 1 Pakusari ini, sibuk menunjukkan salah satu ember besar berisi bongkahan pupuk berwarna gelap. Senyum mengembang dari wajah remaja berusia 15 tahun itu saat menceritakan bagaimana ia dan teman-temannya menyulap sampah menjadi pupuk kompos yang kaya manfaat.

​"Isinya ada sekam dari padi, sisa makanan, sisa sayuran, sisa kulit buah, dan bisa juga ditambah kotoran hewan. Semuanya dicampur merata sampai jadi kompos," kata Zahra, penuh antusias, saat ditemui (20/7).

​Ide pembuatan pupuk kompos ini berawal dari kepedulian terhadap lingkungan sekolah. Sebagai sekolah yang gencar mengusung semangat eco green, aktivitas menanam pohon dan merawat tanaman menjadi rutinitas harian.

Namun, Zahratul dan kawan-kawannya merasa ada satu kepingan puzzled yang kurang lengkap tanpa adanya pupuk organik olahan mandiri.

​Lewat proses pembuatan yang memakan waktu dua minggu hingga satu bulan untuk fermentasi, setiap kelas diwajibkan mengolah satu ember besar kompos secara berkelompok.

Baca Juga: Jember Siap Gelar Belasan Event Akbar Maraton Akhir Juli-Agustus 2026, Bupati Gus Fawait: Pokok Dunia-Akhirat Imbang!

Hasilnya luar biasa. Tidak hanya dipakai untuk menyuburkan tanaman sekolah, kompos ini kini mulai dijual untuk masyarakat umum atau pengunjung sekolah dengan harga mulai dari Rp 15 ribu per kemasan.

"Tanaman jadi lebih subur dan sehat. Kalau ditaruh di tanaman buah, nanti hasilnya bisa lebih manis," kata Zahra.

​Inovasi ini sejatinya lahir dari terobosan kurikulum sekolah. Waka Kurikulum SMPN 1 Pakusari, Siti Aisyah, menjelaskan bahwa pembuatan kompos ini merupakan bagian dari Pembelajaran Berbasis Proyek pada kegiatan kokurikuler berkonsep eco green.

​"Latar belakangnya karena di sekolah kami ini sampah organiknya cukup banyak, terutama daun-daun kering. Daripada terbuang sia-sia, kami manfaatkan untuk diolah bersama sampah organik dan sekam," katanya.

​Hasil racikan pupuk para siswa ini tidak main-main. Saat diuji coba pada tanaman di lingkungan sekolah, mulai dari tanaman hias hingga tanaman obat keluarga, seperti kunyit, pertumbuhannya jauh lebih cepat.

Daunnya tumbuh lebih lebat, batangnya lebih tinggi, dan kondisi fisik tanaman jauh lebih segar dibanding tanpa pupuk.

Baca Juga: Cetak Pendidik Kreatif, Mahasiswa PG PAUD Unmuh Jember Kreasikan Tari Bertema Pendalungan hingga Olahan Gizi Anak

​Ke depan, program berwawasan lingkungan ini diproyeksikan bakal melangkah lebih jauh. Kepala SMPN 1 Pakusari, Kukuh Prasetyo, mengatakan bahwa pemanfaatan limbah sekolah tidak berhenti hanya di pupuk kompos semata. ​"Daripada daun-daun dan limbah terbuang percuma, kami kelola secara mandiri," kata Kukuh.

​Langkah ini bukan sekadar tentang menjaga kebersihan lingkungan sekolah. Lebih dari itu, olahan limbah yang menghasilkan produk bernilai jual ini ditargetkan mampu mengasah jiwa kewirausahaan para siswa sejak dini.

"Berikutnya kami juga berencana memproduksi eco enzyme dari limbah sampah, hingga memadukannya dengan budidaya lele, jadi kreativitas dan rasa peduli ini mampu mengubah limbah menjadi berkah yang bernilai tinggi," harapnya. (mau/dwi)

 

 

Editor : Imron Hidayatullahh
SMPN 1 Pakusari Jember pupuk kompos Pendidikan Limbah