Radar Jember - Tangan pria itu bergerak pelan memilah potongan-potongan plastik berwarna yang memenuhi meja kerjanya. Merah, biru, hijau, hingga bening dipisahkan sesuai gradasi.
Satu per satu serpihan limbah itu ditempel di atas kanvas bekas menggunakan lem kayu. Dari kejauhan, tak ada yang menyangka potongan plastik tersebut perlahan menjelma menjadi seekor ikan dengan warna yang tampak hidup, seolah dilukis menggunakan kuas.
Pria itu adalah Ahmad Supandi, seniman drawing asal Kecamatan Rambipuji. Selama puluhan tahun, Pandi dikenal lewat karya-karya sketsa dan lukisan yang dibuat menggunakan pensil maupun cat.
Namun belakangan, ia memilih jalan yang berbeda. Kuas perlahan ia sisihkan. Sebagai gantinya, ampas kopi, batu hingga limbah plastik menjadi medium utama dalam karya-karya.
Keputusan itu bukan tanpa alasan. Berulang kali ia membaca kabar mengenai Tempat Pembuangan Akhir (TPA) di Jember yang semakin sesak, bahkan kerap disebut tak lagi mampu menampung sampah.
Di sisi lain, pemerintah terus mengajak masyarakat mengurangi sampah dengan memilah dan mendaur ulang mulai dari rumah.
Keresahan itulah yang kemudian mengusiknya sebagai seorang seniman.
Alih-alih hanya mengamati persoalan tersebut, Pandi memilih merespons dengan cara yang paling ia kuasai, yakni berkarya. Ia mulai mengumpulkan plastik-plastik bekas yang masih bisa dimanfaatkan.
Baca Juga: Warga Puger Jember Meninggal Tertembak Senapan Angin Saat Berburu Burung
Bungkus makanan, kantong plastik, hingga berbagai kemasan dipotong kecil-kecil, lalu disusun menjadi gradasi warna di atas kanvas bekas. "Sebenarnya ide ini sudah lama saya pikirkan. Hanya saja baru sekitar satu bulan terakhir benar-benar saya eksekusi," tuturnya.
Karya-karya itu kemudian ia beri nama Sarkatik.
Nama tersebut diambil dari dua kata. Sarka berasal dari bahasa Madura yang berarti sampah, sedangkan tik merupakan potongan dari kata plastik.
Nama itu dipilih untuk menegaskan bahwa seluruh elemen utama dalam lukisan berasal dari limbah plastik yang kembali diberi nilai. Bagi Pandi, Sarkatik bukan sekadar eksplorasi medium baru dalam seni rupa.
Di balik setiap karya, ia ingin menyampaikan kritik sosial terhadap persoalan lingkungan yang semakin nyata. Salah satu lukisannya menggambarkan seekor ikan yang tubuhnya terlilit sampah plastik, simbol kehidupan yang perlahan terancam akibat pencemaran yang diciptakan manusia sendiri.
Menariknya, kesan sebagai limbah nyaris tak terlihat pada hasil akhirnya. Potongan-potongan plastik disusun dengan ketelitian tinggi hingga menghasilkan gradasi warna yang halus.
Bentuk ikan, burung, maupun kura-kura tampak hidup dengan perpaduan warna yang menyerupai lukisan menggunakan cat. Hanya ketika dilihat dari dekat, barulah tekstur potongan plastik itu terlihat jelas membentuk setiap detail gambar.
Bagi Pandi, seni tidak hanya berhenti pada keindahan visual. Sebuah karya juga harus mampu mengajak orang berpikir dan merenungkan persoalan di sekitarnya.
Melalui Sarkatik, ia berharap semakin banyak orang menyadari bahwa sampah plastik tidak selalu berakhir di TPA. “Dengan sedikit kreativitas, limbah yang dianggap tak bernilai dapat berubah menjadi karya seni yang indah,” pungkasnya. (dhi/dwi)
Editor : Imron Hidayatullahh