Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Jangan Dibawa Pulang! Satgas MBG Jember Bongkar Bahaya Panaskan Ulang Menu Basah yang Lewati Batas Aman

Dwi Siswanto • Sabtu, 18 Juli 2026 | 08:00 WIB
TINJAU DAPUR: Satgas MBG Jember meninjau langsung lokasi SPPG Karangsono yang diduga menjadi penyebab gangguan pencernaan sejumlah siswa di Bangsalsari. (DISKOMINFO JEMBER)
TINJAU DAPUR: Satgas MBG Jember meninjau langsung lokasi SPPG Karangsono yang diduga menjadi penyebab gangguan pencernaan sejumlah siswa di Bangsalsari. (DISKOMINFO JEMBER)

Radar Jember – Tak sampai satu pekan anak kembali sekolah, persoalan Makanan Bergizi Gratis (MBG) kembali mencuat. Seperti yang lalu-lalu, dugaan keracunan itu muncul setelah siswa mengalami gangguan pencernaan.

Satgas MBG yang juga mengambil langkah penghentian sementara Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Karangsono.

Namun, di balik langkah tersebut, Satgas juga mengingatkan pentingnya edukasi kepada orang tua agar makanan MBG tidak dibawa pulang lalu dipanaskan kembali untuk dikonsumsi pada sore atau malam hari.

Baca Juga: Ogah Pekerja Luar Desa Ambil Jatah, Gus Fawait Wajibkan Proyek Ratusan Miliar Jember Pakai Tenaga Lokal!

Ketua Satgas MBG Kabupaten Jember Akhmad Helmi Luqman mengatakan, makanan MBG yang berupa menu basah memiliki batas aman konsumsi maksimal empat jam setelah disajikan.

Karena itu, makanan sebaiknya langsung dikonsumsi di sekolah dan tidak disimpan untuk dimakan di rumah, meski sudah dipanaskan kembali.

"Pemanasan ulang tidak menjamin makanan kembali aman dikonsumsi apabila sudah terlalu lama berada pada suhu ruang. Ini yang perlu menjadi perhatian bersama, termasuk orang tua siswa," ujarnya saat inspeksi mendadak di SPPG Dusun Begelenan, Desa Karangsono, Kecamatan Bangsalsari, Kamis (16/7).

Inspeksi dilakukan menyusul laporan sedikitnya 27 siswa TK dan MI mengalami diare serta muntah setelah mengonsumsi makanan dari program MBG.

Baca Juga: Ogah Cekik Kantong Wong Cilik, Bupati Jember Ubah Total Aturan Bayar Parkir di Tempat Menjadi Sistem Ini!

Sebagai langkah preventif, Satgas memutuskan menghentikan sementara operasional SPPG Karangsono hingga hasil uji laboratorium dari Dinas Kesehatan selesai.

Selain menunggu hasil pemeriksaan sampel makanan, pada Kamis kemarin, pengelola SPPG juga diminta melakukan pembenahan menyeluruh terhadap standar higienitas, kualitas penyajian, hingga kelengkapan perizinan operasional, termasuk izin Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) yang masih dalam proses pengajuan.

Berdasarkan investigasi awal yang melibatkan BPOM, Dinas Kesehatan, dan puskesmas setempat, ditemukan sejumlah catatan dalam pengelolaan makanan.

Selain adanya makanan yang dibawa pulang dan dikonsumsi setelah melewati batas aman, petugas juga menemukan bahan baku yang disimpan tanpa penutup sehingga berpotensi menimbulkan kontaminasi bakteri.

Meski demikian, Helmi menegaskan, penyebab pasti dugaan keracunan belum dapat disimpulkan. Seluruh pihak diminta menunggu hasil pemeriksaan laboratorium terhadap sampel makanan yang telah diamankan.

"Belum bisa dipastikan penyebabnya. Kami menunggu hasil laboratorium agar kesimpulan yang diambil benar-benar berdasarkan bukti ilmiah," tegasnya.

Baca Juga: Sering Picu Masalah Pola Asuh, Program Lentera Cinta Jember Hadir Sikat Habis Tantangan Pelik Keluarga Pekerja Migran

Sementara itu, seluruh siswa yang mengalami keluhan telah mendapatkan penanganan di sejumlah fasilitas kesehatan, di antaranya Puskesmas Sukorejo, Puskesmas Paleran, RSUD Balung, serta beberapa klinik swasta.

Pemerintah Kabupaten Jember memastikan seluruh biaya pengobatan ditanggung melalui program UHC Prioritas sesuai instruksi Bupati Jember.

Menurut Helmi, kondisi para pasien terus membaik. Keluhan diare dan muntah mulai berkurang, sementara kondisi umum anak-anak berangsur stabil.

Satgas juga terus berkoordinasi dengan fasilitas kesehatan untuk memastikan seluruh korban pulih sepenuhnya.

Di sisi lain, sejumlah keluarga pasien menduga menu telur puyuh menjadi penyebab gangguan pencernaan. Salah satunya disampaikan Maryam, yang mengaku cucunya mengalami diare setelah menyantap menu tersebut.

Baca Juga: Mulai dari Khataman Alquran hingga Santunan Anak Yatim, Ini Sisi Hangat Perayaan HUT Ke-27 Radar Jember

Namun, Satgas MBG Jember meminta masyarakat tidak terburu-buru menyimpulkan penyebab kejadian hingga hasil investigasi resmi diumumkan.

Diketahui, dugaan keracunan itu dialami sejumlah siswa TK dan MI di Kecamatan Bangsalsari pada Selasa (14/7) dan baru dilaporkan keesokan harinya. Sementara, pada Kamis (16/7) Satgas MBG Jember langsung melakukan sidak ke SPPG Karangsono. (dwi)

 

Editor : Imron Hidayatullahh
Jember SPPG Mbg keracunan massal