Radar Jember – Keberuntungan memang memiliki tempat dalam dunia fotografi jurnalistik. Namun, porsinya sangat kecil dibandingkan kerja keras, konsistensi, dan insting yang dibangun dari pengalaman panjang di lapangan.
Pesan itulah yang disampaikan fotografer Radar Jember, Jumai, saat menjadi pemateri dalam kelas fotografi jurnalistik.
Di hadapan peserta, Jumai mengatakan banyak orang menganggap foto-foto luar biasa lahir karena faktor kebetulan. Padahal, menurutnya, keberuntungan hanya menyumbang sebagian kecil dari proses menghasilkan sebuah karya jurnalistik yang kuat.
"Di dunia foto, untuk mendapatkan foto luar biasa itu keberuntungan hanya sekian persen saja. Selebihnya adalah kerja keras, pengalaman, dan insting yang terus diasah," ujarnya.
Ia kemudian membagikan pengalaman ketika mengabadikan salah satu foto terbaik dalam kariernya, yakni detik-detik kapal nelayan terbalik dihantam ombak besar di plawangan Puger pada Juli 2018.
Foto tersebut menjadi foto utama Jawa Pos, dipublikasikan berbagai media di Indonesia hingga Kalimantan, serta mengantarkannya meraih penghargaan Piala Prapanca 2019.
Foto itu memperlihatkan momen kapal mulai miring, kemudian hampir tegak 90 derajat, hingga akhirnya terbalik diterjang ombak.
Bahkan, ketika diperbesar, ekspresi para anak buah kapal (ABK) yang berusaha menyelamatkan diri terlihat jelas. Ada yang melompat ke laut, ada pula yang memilih berpegangan erat di geladak kapal.
Menurut Jumai, foto tersebut bukan hasil kebetulan. Sebelum momen itu terjadi, ia telah berulang kali mendatangi plawangan Puger setiap dini hari. "Mungkin sekitar seminggu sampai dua minggu, setiap subuh sampai siang saya ke plawangan," katanya.
Pengalaman bertahun-tahun meliput kawasan tersebut membuatnya memahami pola alam. Ia mengetahui bahwa setiap Juli hingga Agustus ombak di plawangan biasanya mencapai puncaknya.
"Sekitar bulan Juli-Agustus ombak itu besar-besarnya. Jadi setiap tahun pada bulan-bulan itu saya selalu memantau dan memotret di Plawangan," ungkapnya.
Sebelum mendapatkan foto itu, Jumai sebenarnya pernah memotret kapal yang sudah dalam kondisi terbalik dengan ABK yang tercerai-berai di laut.
Namun, ia merasa belum mendapatkan momen yang benar-benar menggambarkan proses kapal dihantam ombak. "Saya belum puas karena belum dapat foto saat kapalnya mulai miring sampai akhirnya terbalik," tuturnya.
Rasa penasaran itulah yang membuatnya terus datang ke lokasi. Bahkan, ia mengaku sempat muncul doa yang terdengar tidak lazim bagi seorang jurnalis. "Sebagai wartawan kadang muncul doa yang jelek, semoga ada kapal terbalik," katanya disambut perhatian peserta.
Ketika instingnya mengatakan ombak hari itu berpotensi membalikkan kapal, ia langsung menyiapkan kamera EOS 7D yang dipadukan dengan lensa tele. Kamera disetel pada mode continuous shot agar mampu merekam setiap detik peristiwa.
Hasilnya, ia memperoleh tiga frame penting yang memperlihatkan kapal mulai miring, mencapai posisi hampir tegak, hingga akhirnya benar-benar terbalik diterjang ombak.
Bagi Jumai, pengalaman tersebut menjadi bukti bahwa foto jurnalistik yang bernilai tinggi lahir dari ketekunan, bukan semata keberuntungan. Semakin sering turun ke lapangan, semakin banyak pengalaman yang dikumpulkan. Dari pengalaman itulah insting seorang fotografer akan terbentuk.
Ia juga berbagi dilema yang kerap dihadapi fotografer jurnalistik saat meliput peristiwa. Ketika kapal terguling, terdengar teriakan minta tolong dari para korban. Namun, di sisi lain, sebagai pewarta visual ia harus tetap menjalankan tugas mendokumentasikan peristiwa yang sedang berlangsung.
"Itulah benturan antara hati dan profesi. Tapi tetap harus menghasilkan dokumentasi yang nantinya menjadi catatan sejarah sebuah peristiwa," ujarnya.
Selain kisah di plawangan Puger, Jumai juga membagikan pengalaman meliput di berbagai lokasi terpencil hingga kawasan bencana, termasuk saat erupsi Gunung Semeru.
Berbagai pengalaman tersebut, menurutnya, mengajarkan bahwa fotografer jurnalistik tidak hanya membutuhkan kemampuan teknis memotret, tetapi juga keberanian, kepekaan membaca situasi, serta kesiapan menghadapi risiko di lapangan. (jum/dwi)
Editor : Imron Hidayatullahh