Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Bukan Sekadar Beruntung! Fotografer Radar Jember Ini Ceritakan Dua Minggu Perburuan Momen Ekstrem di Plawangan Puger

Jumai RJ • Sabtu, 18 Juli 2026 | 07:00 WIB
BERCERITA: Fotografer senior Radar Jember, Jumai, menceritakan proses mendapatkan detik-detik kapal terbalik dihantam ombak Plawangan, Puger pada Juli 2018 lalu. (DWI SISWANTO/RADAR JEMBER)
BERCERITA: Fotografer senior Radar Jember, Jumai, menceritakan proses mendapatkan detik-detik kapal terbalik dihantam ombak Plawangan, Puger pada Juli 2018 lalu. (DWI SISWANTO/RADAR JEMBER)

Radar Jember – Keberuntungan memang memiliki tempat dalam dunia fotografi jurnalistik. Namun, porsinya sangat kecil dibandingkan kerja keras, konsistensi, dan insting yang dibangun dari pengalaman panjang di lapangan.

Pesan itulah yang disampaikan fotografer Radar Jember, Jumai, saat menjadi pemateri dalam kelas fotografi jurnalistik.

Di hadapan peserta, Jumai mengatakan banyak orang menganggap foto-foto luar biasa lahir karena faktor kebetulan. Padahal, menurutnya, keberuntungan hanya menyumbang sebagian kecil dari proses menghasilkan sebuah karya jurnalistik yang kuat.

Baca Juga: Mulai dari Khataman Alquran hingga Santunan Anak Yatim, Ini Sisi Hangat Perayaan HUT Ke-27 Radar Jember

"Di dunia foto, untuk mendapatkan foto luar biasa itu keberuntungan hanya sekian persen saja. Selebihnya adalah kerja keras, pengalaman, dan insting yang terus diasah," ujarnya.

Ia kemudian membagikan pengalaman ketika mengabadikan salah satu foto terbaik dalam kariernya, yakni detik-detik kapal nelayan terbalik dihantam ombak besar di plawangan Puger pada Juli 2018.

Foto tersebut menjadi foto utama Jawa Pos, dipublikasikan berbagai media di Indonesia hingga Kalimantan, serta mengantarkannya meraih penghargaan Piala Prapanca 2019. 

Foto itu memperlihatkan momen kapal mulai miring, kemudian hampir tegak 90 derajat, hingga akhirnya terbalik diterjang ombak. 

Bahkan, ketika diperbesar, ekspresi para anak buah kapal (ABK) yang berusaha menyelamatkan diri terlihat jelas. Ada yang melompat ke laut, ada pula yang memilih berpegangan erat di geladak kapal.

Baca Juga: Bukan Sekadar Seru-Seruan! Karyawan Radar Jember Saling Bongkar Kenangan Lewat Sesi Jersey dari Masa ke Masa

Menurut Jumai, foto tersebut bukan hasil kebetulan. Sebelum momen itu terjadi, ia telah berulang kali mendatangi plawangan Puger setiap dini hari. "Mungkin sekitar seminggu sampai dua minggu, setiap subuh sampai siang saya ke plawangan," katanya.

Pengalaman bertahun-tahun meliput kawasan tersebut membuatnya memahami pola alam. Ia mengetahui bahwa setiap Juli hingga Agustus ombak di plawangan biasanya mencapai puncaknya.

"Sekitar bulan Juli-Agustus ombak itu besar-besarnya. Jadi setiap tahun pada bulan-bulan itu saya selalu memantau dan memotret di Plawangan," ungkapnya.

Sebelum mendapatkan foto itu, Jumai sebenarnya pernah memotret kapal yang sudah dalam kondisi terbalik dengan ABK yang tercerai-berai di laut.

Namun, ia merasa belum mendapatkan momen yang benar-benar menggambarkan proses kapal dihantam ombak. "Saya belum puas karena belum dapat foto saat kapalnya mulai miring sampai akhirnya terbalik," tuturnya.

Rasa penasaran itulah yang membuatnya terus datang ke lokasi. Bahkan, ia mengaku sempat muncul doa yang terdengar tidak lazim bagi seorang jurnalis. "Sebagai wartawan kadang muncul doa yang jelek, semoga ada kapal terbalik," katanya disambut perhatian peserta.

Baca Juga: Bukan Spek Dewa! Ilustrator Jember Bagikan Trik Bikin Gambar Digital Modal HP dalam Road to 27th Radar Jember

Ketika instingnya mengatakan ombak hari itu berpotensi membalikkan kapal, ia langsung menyiapkan kamera EOS 7D yang dipadukan dengan lensa tele. Kamera disetel pada mode continuous shot agar mampu merekam setiap detik peristiwa.

Hasilnya, ia memperoleh tiga frame penting yang memperlihatkan kapal mulai miring, mencapai posisi hampir tegak, hingga akhirnya benar-benar terbalik diterjang ombak.

Bagi Jumai, pengalaman tersebut menjadi bukti bahwa foto jurnalistik yang bernilai tinggi lahir dari ketekunan, bukan semata keberuntungan. Semakin sering turun ke lapangan, semakin banyak pengalaman yang dikumpulkan. Dari pengalaman itulah insting seorang fotografer akan terbentuk.

Ia juga berbagi dilema yang kerap dihadapi fotografer jurnalistik saat meliput peristiwa. Ketika kapal terguling, terdengar teriakan minta tolong dari para korban. Namun, di sisi lain, sebagai pewarta visual ia harus tetap menjalankan tugas mendokumentasikan peristiwa yang sedang berlangsung.

Baca Juga: Modal Kado Rp 27 Ribu Dibungkus Koran, Semangat Kreatif Karyawan Rayakan Ultah Radar Jember Paling Emosional

"Itulah benturan antara hati dan profesi. Tapi tetap harus menghasilkan dokumentasi yang nantinya menjadi catatan sejarah sebuah peristiwa," ujarnya.

Selain kisah di plawangan Puger, Jumai juga membagikan pengalaman meliput di berbagai lokasi terpencil hingga kawasan bencana, termasuk saat erupsi Gunung Semeru.

Berbagai pengalaman tersebut, menurutnya, mengajarkan bahwa fotografer jurnalistik tidak hanya membutuhkan kemampuan teknis memotret, tetapi juga keberanian, kepekaan membaca situasi, serta kesiapan menghadapi risiko di lapangan. (jum/dwi)

 

Editor : Imron Hidayatullahh
fotografer jurnalistik Radar Jember Jember pelatihan jurnalistik