Radar Jember - Ada pemandangan yang berbeda dalam perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-27 Jawa Pos Radar Jember tahun ini. Seluruh karyawan tampak tampil beda dengan mengenakan jersey favorit masing-masing.
Bukan sekadar bergaya sporty, aksi ini menjadi ajang nostalgia untuk menghadirkan kembali berbagai kisah dan kenangan yang telah membentuk perjalanan panjang mereka bersama Radar Jember.
Sesi yang dijuluki "Jersey-Jerseyan" ini sengaja dirancang sebagai kegiatan yang ringan namun sarat makna. Setiap helai kain yang dikenakan diyakini menyimpan memori, pengalaman, hingga perjuangan yang berbeda-beda.
Baca Juga: Sehari Dua Kebakaran Rumah di Jember Pada Dua TKP, Gara-gara Telur Rebus?
Ini bukan sekadar seru-seruan. Kami ingin setiap individu kembali mengingat perjalanan, momen, dan kebersamaan yang telah terjalin selama berkarya di Radar Jember," ujar General Manager Radar Jember MS Rasyid.
Suasana penuh kenangan terpancar dari ragam jersey yang dipilih para karyawan. Henky Kurniawan, misalnya, tampak mengenakan jersey lomba mancing tahun 2002. Baginya, jersey itu adalah simbol keakraban di luar rutinitas kantor.
"Ini adalah lomba mancing pertama yang digelar Radar Jember. Sejak event itu, komunitas pemancing di Jember selalu menagih kegiatan serupa. Bahkan saat saya ikut kompetisi galatama di luar, sering sekali ditanya kapan Radar Jember mengadakan lomba lagi," kenang Henky.
Baginya, event tersebut tidak hanya menyalurkan hobi, tetapi juga memperluas jaringan pertemanan. Tak kalah menarik, Tri Joko Santoso, atau yang akrab disapa Pak Koko, memilih mengenakan kaus Junior Journalist Festival (J2F) tahun 2007.
Kaus itu menjadi pengingat akan program legendaris Radar Jember yang menjadi inkubator lahirnya jurnalis-jurnalis muda berbakat di Jember.
"Kaus ini saksi bagaimana dulu kita berjuang mengumpulkan pelajar untuk belajar dunia jurnalistik," ungkapnya.
Cerita inspiratif lainnya datang dari Boby Pramudia, layouter Radar Semeru Lumajang. Ia mengenakan kaus bertajuk Blak-Blakan, sebuah program podcast di kanal YouTube Radar Semeru yang meledak pada 2021.
Sebelum tren podcast artis sedang menjamur, Blak-Blakan membuktikan bahwa konten daerah mampu mencuri perhatian publik.
"Mulai dari bupati, pejabat publik, hingga aktivis pernah kami undang. Kami berhasil membuktikan bahwa podcast lokal bisa menghadirkan perspektif yang berani, bahkan mempertemukan pihak yang sedang berselisih untuk mencari solusi," jelas Boby.
Sementara itu, Eka Rusdiana memilih mengenakan atribut Jember Basket League (JBL) Reborn tahun 2023. Event yang digelar di GOR Garuda itu menjadi tonggak kembalinya kejayaan turnamen basket sekolah yang sempat vakum beberapa tahun.
Baca Juga: Gagal Gelar Konfercab, PBNU Bekukan PCNU Jember: Prof. Babun Suharto Ditunjuk Jadi Ketua Karteker!
"Saya pribadi memang tidak bermain basket, tapi saya mencintai euforia event-nya. Kaus ini sangat berkesan karena mengingatkan pada kerja keras seluruh tim. Meski di lapangan sempat ada perdebatan, semua lebur demi satu tujuan yang sama," tutur Eka.
Mempererat Ikatan Lintas Generasi
Sesi berbagi ini dilanjutkan dengan pembuatan konten video, di mana setiap peserta menceritakan kisah di balik jersey yang mereka kenakan. Suasana santai ini menjadi ruang berbagi pengalaman lintas generasi yang hangat di lingkungan Radar Jember.
General Manager Jawa Pos Radar Jember, M.S. Rasyid, menambahkan bahwa acara ini bukan sekadar seremoni. "Jersey-jersey ini adalah simbol semangat.
Melihat antusiasme rekan-rekan mengenang masa lalu, saya yakin semangat yang sama akan menjadi bahan bakar untuk menghadapi tantangan Radar Jember ke depan," pungkasnya.
Di usia ke-27 tahun, Radar Jember membuktikan bahwa keberhasilan sebuah institusi tidak hanya diukur dari angka, melainkan dari cerita dan kebersamaan yang terus dijaga oleh setiap individu di dalamnya. (kin/dwi)
Editor : Imron Hidayatullahh