Radar Jember – Hari-hari pertama di sekolah menjadi momen yang sulit dilupakan oleh setiap peserta didik.
Kesan yang terbentuk pada masa itu kerap menentukan seberapa cepat mereka mampu beradaptasi dengan lingkungan baru.
Karena itu, Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) seharusnya dimanfaatkan sebagai ruang membangun pengalaman positif. Bukan sekadar memenuhi agenda tahunan.
Baca Juga: BIKIN GEGER! Mayat Perempuan Ditemukan Dipinggir Rel Kereta di JemberBaca Juga: BIKIN GEGER! Mayat Perempuan Ditemukan Dipinggir Rel Kereta di Jember
Dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Unmuh Jember, Fitrotul Mufaridah, menilai MPLS memiliki peran penting dalam membantu siswa menyesuaikan diri dengan perubahan lingkungan belajar.
Menurutnya, proses adaptasi yang baik akan membuat siswa lebih percaya diri mengikuti kegiatan belajar mengajar sejak awal.
"MPLS menjadi jembatan agar siswa merasa diterima dan nyaman berada di lingkungan sekolah yang baru," ujarnya.
Ia menjelaskan, setiap jenjang pendidikan memiliki tantangan adaptasi yang berbeda. Peserta didik SD lebih membutuhkan rasa aman dan pendampingan untuk mengenal lingkungan sekolah. Di tingkat SMP, siswa mulai belajar membangun kemandirian dan memahami aturan.
Sementara itu, siswa SMA perlu beradaptasi dengan tuntutan akademik yang lebih tinggi serta mulai menyiapkan diri menjadi pribadi yang bertanggung jawab. "Karena itu, pendekatan MPLS harus disesuaikan dengan usia dan tahap perkembangan peserta didik," katanya.
Baca Juga: UIN KHAS Jember Perluas Jejaring Akademik Global Lewat Kerja Sama dengan USIM Malaysia
Menurut Fitrotul, tujuan utama MPLS bukan hanya mengenalkan ruang kelas, guru, maupun tata tertib sekolah. Yang jauh lebih penting ialah memperkenalkan budaya belajar yang akan menjadi bekal siswa selama menempuh pendidikan di sekolah tersebut.
Budaya itu, lanjut dia, mencakup kebiasaan datang tepat waktu, menghargai guru dan teman, bertanggung jawab terhadap tugas, hingga membangun semangat belajar.
Nilai-nilai tersebut akan lebih mudah diterima apabila dikenalkan melalui pengalaman yang menyenangkan sejak hari pertama sekolah. "MPLS adalah kesempatan menanamkan karakter dan budaya sekolah sejak awal," ungkapnya.
Ia juga mengingatkan agar sekolah tidak lagi menggunakan pendekatan yang berbau perploncoan. Aktivitas yang mempermalukan, mengintimidasi, atau memberikan hukuman tanpa nilai edukasi justru berpotensi menimbulkan trauma dan menghilangkan makna MPLS sebagai proses pengenalan lingkungan sekolah.
Sebaliknya, sekolah dapat menghadirkan kegiatan yang lebih kreatif dan interaktif, seperti permainan edukatif, tur lingkungan sekolah, diskusi kelompok, hingga aktivitas kolaboratif yang mendorong siswa saling mengenal.
"Selama siswa merasa dihargai dan dilibatkan, proses adaptasi akan berlangsung lebih cepat dan menyenangkan," tuturnya.
Fitrotul berharap seluruh sekolah menjadikan MPLS sebagai awal membangun budaya pendidikan yang sehat.
Sebab, kesan pertama yang positif tidak hanya membuat siswa betah berada di sekolah, tetapi juga menjadi fondasi tumbuhnya motivasi belajar dan karakter yang akan mereka bawa sepanjang menempuh pendidikan. (dhi/dwi)
Editor : Imron Hidayatullahh