Radar Jember - Jam bahkan belum menunjukkan pukul enam pagi. Namun, suasana di sejumlah rumah di Kelurahan Kebonsari dan Tegal Besar, Kecamatan Kaliwates sudah jauh lebih sibuk dari biasanya.
Ada yang menyiapkan sarapan, menyetrika seragam yang semalam digantung rapi, mengecek isi tas sekolah, hingga berulang kali memastikan sepatu dan kaus kaki sudah terpasang sempurna.
Kemarin (13/7) bukan sekadar awal pekan. Bagi banyak keluarga, kemarin menjadi langkah pertama anak-anak mereka memasuki dunia sekolah melalui Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS). Salah satunya di SDN Kebonsari 04 Jember, Kelurahan Kebonsari.
Baca Juga: Hanya Diikuti Dua Bocah! Intip Suasana MPLS Paling Sunyi di Pelosok Jember yang Bikin Haru Para Guru
Sejak pagi, halaman sekolah dipenuhi orang tua yang datang mengantar putra-putrinya. Ada yang membonceng dengan sepeda motor, mengayuh sepeda, berjalan kaki karena rumahnya tak jauh dari sekolah, hingga datang menggunakan mobil.
Wajah-wajah tegang bercampur bahagia terlihat jelas. Sebagian anak tampak percaya diri, tetapi tak sedikit pula yang masih menggenggam erat tangan ayah atau ibunya karena enggan ditinggal.
Di antara keramaian itu, Silvi, warga Kelurahan Tegal Besar, memilih mengantar anaknya menggunakan sepeda listrik. Sejak subuh ia sudah bersiap.
Seragam, buku, bekal, hingga perlengkapan sekolah sudah disiapkan sejak malam agar pagi hari tidak terburu-buru. Meski anaknya sudah masuk kelas, ia tetap berada di sekolah.Hari pertama sekolah, menurutnya, adalah momen yang ingin ia nikmati sepenuhnya sebagai orang tua.
Karena itu, ia memilih menunggu hingga jam pelajaran usai agar sang buah hati merasa lebih tenang menjalani pengalaman pertamanya di bangku sekolah dasar.
Baca Juga: Nama Hilang dari Daftar Bansos? Warga Jember Tak Perlu Panik, Ini Langkah yang Harus Dilakukan
Tak jauh dari Silvi, Samsul Arifin juga tampak duduk menunggu di depan ruang kelas. Warga Kebonsari itu sengaja tidak masuk kerja demi menemani putra bungsunya yang baru masuk kelas 1C.
Sehari-hari ia bekerja di sebuah perusahaan penjualan kerupuk. Namun, pekerjaan itu rela ia tinggalkan sehari demi mendampingi anaknya melewati hari pertama sekolah. “Karena ini hari pertama anak saya sekolah, jadi ya libur dulu. Kasihan anak saya kalau tidak ditunggu di sekolah,” ujarnya.
Bagi Samsul, momen itu terasa semakin emosional. Sejak sang istri meninggal dunia sekitar setahun lalu, seluruh tanggung jawab mengurus kedua anak berada di pundaknya.
Anak sulungnya meninggal saat lahir, anak keduanya kini duduk di kelas III SMP, sedangkan putra bungsunya baru memulai perjalanan di bangku SD.
Dengan mengantar sendiri menggunakan sepeda motor, ia berharap sang anak memiliki kenangan indah di hari pertama sekolah sekaligus menjadi penyemangat untuk meraih masa depan yang lebih baik. “Harapan saya semoga anak saya bisa sukses, tidak seperti saya,” ucapnya lirih.
Baca Juga: Warga Jember Jangan Keburu Senang, Nama Penerima Bansos Lama Belum Tentu Muncul Lagi, Ini Alasannya!
Suasana serupa juga terlihat hampir di seluruh sudut sekolah. Orang tua memenuhi teras sekolah, sebagian berbincang sambil sesekali melongok ke dalam kelas untuk memastikan anaknya baik-baik saja.
Bahkan, pemerintah melalui kebijakan ortu mengantar anak di hari pertama sekolah memberi ruang bagi para pekerja untuk mengantar anaknya. Kesempatan itu dimanfaatkan banyak keluarga untuk hadir mendampingi buah hati mereka memulai jenjang pendidikan.
Kepala SDN Kebonsari 04 Jember mengatakan antusiasme orang tua tahun ini jauh melampaui perkiraan sekolah. Banyak wali murid memilih mengambil cuti atau libur kerja maupun izin agar bisa mengantar langsung anaknya.
Kondisi tersebut membuat suasana sekolah sempat lebih padat dibanding hari-hari biasa. “Tadi lumayan sedikit crowded karena di luar ekspektasi. Ternyata wali murid sangat antusias mengantarkan putra-putrinya di hari pertama sekolah,” ungkapnya.
Tahun ajaran baru ini, SDN Kebonsari 04 memiliki sekitar 504 siswa. Khusus kelas I, terdapat 84 siswa yang terbagi dalam tiga rombongan belajar (rombel) dengan masing-masing kelas berisi maksimal 28 anak.
Meski suasana sempat riuh oleh ratusan orang tua yang datang bersamaan, seluruh rangkaian hari pertama sekolah dan MPLS tetap berjalan lancar.
Sementara di sekolah lain juga tidak jauh berbeda. Aprilia Putri wali murid SDN Karangrejo 3 juga memilih izin untuk terlambat ke kantor karena menemani sang buah hati masuk hari pertama sekolah. Anaknya juga cukup antusias untuk memulai sekolah baru.
“Anak saya antusias. Ingin ikut baris berbaris upacara. Guru-gurunya juga antusias berdiri di depan gerbang menyambut siswa baru,” ungkapnya.
Di sisi lain dia berharap, tidak ada berebut bangku untuk duduk terdepan. “Ya semoga setiap periode ada bertukar tempat duduk. Siswa yang duduk di belakang juga merasakan duduk di depan begitu juga sebaliknya. Jangan seperti jaman saya, anak yang duduk di depan dan belakang itu-itu saja,” ungkapnya. (kin/dwi)
Editor : Imron Hidayatullahh