Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Bukan Sekadar Panggung Nostalgia, Festival PEKA Patrang Paksa Warga Intip Borok Krisis Lingkungan di Pekarangan

Sidkin • Senin, 13 Juli 2026 | 10:31 WIB
TERUS DIHIDUPKAN: Salah satu penampilan pada Festival Kunang-Kunang Kebudayaan di Taman Nara Bestari, Kelurahan/Kecamatan Patrang, Sabtu malam (11/7). (SIDKIN ALI/RADAR JEMBER)
TERUS DIHIDUPKAN: Salah satu penampilan pada Festival Kunang-Kunang Kebudayaan di Taman Nara Bestari, Kelurahan/Kecamatan Patrang, Sabtu malam (11/7). (SIDKIN ALI/RADAR JEMBER)

Radar Jember – Cahaya kunang-kunang yang mulai jarang dijumpai di alam menjadi inspirasi lahirnya Festival Pekan Kunang-Kunang Kebudayaan (Festival PEKA) 2026.

Digelar di Taman Nara Bestari, Kelurahan/Kecamatan Patrang, Sabtu (11/7), festival ini tidak sekadar menyuguhkan pertunjukan seni budaya, tetapi juga mengajak masyarakat merenungkan kembali hubungan manusia dengan alam.

Berbagai pertunjukan seni lintas disiplin ditampilkan dalam festival tersebut. Mulai dari pelaku seni, komunitas budaya, pegiat lingkungan, hingga generasi muda dilibatkan dalam satu ruang kolaborasi.

Baca Juga: Intip Spesifikasi Lapangan Bola di Sekolah Rakyat Jember yang Diklaim Telah Standar FIFA

Melalui pendekatan budaya, Festival PEKA diharapkan menjadi wadah untuk memperkuat ekosistem kebudayaan sekaligus menumbuhkan kepedulian masyarakat terhadap kelestarian lingkungan yang kini menghadapi berbagai ancaman.

Founder Rumah Budaya Nara Bestari Hadi Poernomo mengatakan, festival ini lahir sebagai respons atas krisis lingkungan yang semakin mengkhawatirkan.

Menurutnya, seni memiliki kekuatan untuk menyampaikan pesan-pesan pelestarian alam dengan cara yang lebih dekat dan mudah diterima masyarakat.

“Jadi, pagelaran seni budaya ini bukan sekadar panggung seni dan budaya, tetapi ajakan kepada masyarakat untuk membangun kembali hubungan yang harmonis dengan alam dan lingkungan sekitar,” ujarnya.

Baca Juga: Intip Spesifikasi Lapangan Bola di Sekolah Rakyat Jember yang Diklaim Telah Standar FIFA

Hadi menjelaskan, kunang-kunang dipilih sebagai simbol karena menjadi penanda kehidupan yang sehat sekaligus harapan bagi masa depan lingkungan. Keberadaan serangga bercahaya itu kini semakin sulit ditemukan, sehingga menjadi alarm bahwa kualitas ekosistem mulai menurun.

Melalui festival ini, pihaknya mengajak masyarakat membangun gerakan bersama menjaga lingkungan. Itu dimulai dari pekarangan rumah sebagai ruang hidup paling dekat dengan keseharian.

“Kunang-kunang kami pilih sebagai simbol cahaya dan harapan hidup berkelanjutan. Bioindikator alam seperti kunang-kunang kini hampir punah. Itu menjadi alarm bahwa ada yang tidak sehat di lingkungan kita,” katanya.

Selain menjadi panggung seni, festival ini juga menjadi ruang pembelajaran. Hadi menilai keberhasilan program pemajuan kebudayaan tidak hanya diukur dari kemeriahan acara, tetapi dari proses dan dampak yang ditinggalkan.

Festival PEKA mampu membuka ruang dialog mengenai ekologi budaya, memperkuat kapasitas seniman dan generasi muda melalui pembinaan berkelanjutan, sekaligus melahirkan karya seni baru hasil kolaborasi lintas disiplin.

Sementara itu, Kasi Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PTK) SMP Dinas Pendidikan Jember Rahayuningsih turut mengapresiasi penyelenggaraan Festival PEKA.

Menurutnya, festival ini membangkitkan nostalgia sekaligus mengingatkan bahwa kunang-kunang merupakan bioindikator penting kesehatan lingkungan.

Ia berharap semangat yang dibangun melalui festival tidak sekadar perayaan seni, tetapi mampu melahirkan gerakan kolektif masyarakat untuk menjaga kelestarian alam.

“Kami berharap esensi dari festival ini tidak hanya berhenti sebagai perayaan seni semata, melainkan mampu memicu kesadaran kolektif masyarakat untuk menjaga keaslian alam. Semoga lingkungan yang bersih dan sehat dapat kembali terwujud, sehingga kunang-kunang bisa marak lagi mewarnai malam hari di seluruh pelosok Jember,” pungkasnya. (kin/bud)

Editor : Imron Hidayatullahh
#Jember #ekosistem #festival #Lingkungan #seni budaya