Radar Jember - Daerah yang terus bertumbuh semestinya menghadirkan rasa nyaman bagi setiap mata yang memandang. Namun, di atas jalan-jalan Jember, jaringan kabel justru kian kusut, menggantung tanpa kepastian siapa yang bertanggung jawab.
Di atas kepala para pengguna jalan, wajah Jember terbentuk. Bukan deretan pepohonan yang rindang atau langit yang lapang, melainkan gulungan kabel utilitas yang saling bertumpuk, melilit tiang, hingga menjuntai di sejumlah ruas jalan.
Pemandangan itu kini mudah ditemui, mulai kawasan pusat kota, pertokoan, hingga masuk ke lingkungan permukiman. Di satu sisi, jaringan internet terus berkembang mengikuti kebutuhan masyarakat.
Namun di sisi lain, penataan kabel seolah tertinggal, menyisakan kesan semrawut yang setiap hari dipandang banyak orang.
Persoalan tersebut tak lagi berhenti pada urusan estetika. Kabel yang dipasang bertumpuk tanpa penataan membuat ruang udara di atas jalan terlihat sesak.
Di beberapa titik, tiang utilitas berdiri berdampingan dengan tiang lainnya sehingga memenuhi ruang di tepi jalan. Tidak sedikit kabel lama yang diduga sudah tidak digunakan tetap menggantung di antara jaringan baru.
Kondisi itu membuat wajah kota kehilangan kerapian, padahal berbagai sudut Jember terus dibenahi untuk menciptakan ruang publik yang lebih nyaman.
Baca Juga: Tembus 90 Persen, Sekolah Rakyat Terintegrasi Jember Masuk Tier Pertama dan Siap Gelar MPLS Perdana
Yang paling dikhawatirkan masyarakat justru muncul ketika kabel-kabel itu mulai menjuntai rendah. Saat angin kencang atau hujan deras datang, kekhawatiran akan kabel putus selalu menghantui pengguna jalan.
Bagi pengendara sepeda motor, kabel yang melintang rendah bukan hanya mengganggu pandangan, tetapi juga berpotensi membahayakan apabila tersangkut kendaraan atau tiba-tiba terlepas dari tiangnya.
Kondisi itu kerap disaksikan Zurhotul, warga Kelurahan Tegal Besar, Kecamatan Kaliwates. Menurutnya, perkembangan jaringan internet memang tidak bisa dihindari, tetapi pemasangannya seharusnya tetap memperhatikan wajah kota.
Ia menilai semakin banyak provider yang masuk, semakin banyak pula kabel yang dipasang tanpa diikuti penataan terhadap jaringan lama.
“Kalau diperhatikan sekarang kabel di mana-mana. Ada yang melilit di tiang, ada yang menggantung. Duh.. Dilihat saja sudah tidak enak karena membuat kota kelihatan semrawut dan seolah dibiarkan,” keluhnya.
Baginya, persoalan kabel utilitas sudah saatnya dipandang sebagai masalah bersama, bukan sekadar urusan teknis perusahaan penyedia jaringan. Ia berharap pemerintah daerah berani menyusun penataan yang lebih tegas agar setiap pemasangan kabel memiliki standar yang sama.
Dengan begitu, kebutuhan masyarakat terhadap layanan internet tetap terpenuhi tanpa mengorbankan keselamatan maupun keindahan lingkungan.
Keluhan serupa datang dari Ozaq, warga Kecamatan Ajung. Ia menilai semrawutnya kabel tidak hanya terlihat di jalan protokol, tetapi juga merambah hingga kawasan perumahan dan desa.
Bahkan di sejumlah persimpangan, gulungan kabel yang menumpuk di tiang dinilai mulai mengganggu fungsi fasilitas jalan. Rambu lalu lintas terkadang tidak lagi terlihat jelas karena tertutup tiang dan kabel yang dipasang bertumpuk.
Menurutnya, kondisi tersebut dapat mengganggu konsentrasi pengendara, terutama pada malam hari ketika penerangan menjadi faktor penting bagi keselamatan. “Kalau di persimpangan atau dekat lampu lalu lintas, kabel-kabel itu kadang menutupi pandangan. Mungkin kelihatannya sepele, tapi itu bisa mengganggu pengendara,” katanya.
Di mata masyarakat, kabel utilitas bukan sekadar penghubung sinyal internet menuju rumah-rumah. Ia telah menjadi bagian dari wajah kota yang setiap hari disaksikan warga dan pendatang.
Karena itu, mereka berharap pemerintah daerah serius menyusun sistem penataan lebih tertib melalui regulasi yang jelas. “Aturannya diperketat lagi. Jangan seenaknya memasang tapi tidak memperhatikan aturan, kenyamanan, dan keselamatan,” pungkasnya. (kin/dwi)
Editor : Imron Hidayatullahh