Radar Jember - Di balik ruwetnya kabel wifi, rupanya ada napas yang terjaga di sana. Mereka adalah orang-orang yang minim sinyal telepon seluler.
Lewat kabel wifi yang menembus desa hingga ke dusun, akses internet menjadi nyata. Inilah yang dirasakan Fatimah Azzahra, Guru Honorer di MI Miftahul Ulum, Kecamatan Tempurejo.
Semakin sore, perjalanan menuju Kecamatan Tempurejo terasa kian menenangkan. Hamparan sawah membentang di kanan-kiri jalan, siluet pegunungan menjadi latar pemandangan. Sementara kendaraan sesekali melintas di antara rimbunnya kebun karet yang minim penerangan.
Baca Juga: Tembus 90 Persen, Sekolah Rakyat Terintegrasi Jember Masuk Tier Pertama dan Siap Gelar MPLS Perdana
Panorama itu begitu memanjakan mata. Namun, keindahan tersebut tak bisa serta-merta diabadikan lalu dibagikan ke instastory. Di sejumlah titik, sinyal telepon seluler melemah, bahkan menghilang, hanya operator tertentu yang sesekali masih mampu menangkap jaringan. Itu pun tidak selalu stabil.
Kondisi itu bukan sekadar dirasakan para pelintas. Bagi warga yang tinggal di kawasan tersebut, jaringan internet yang tidak menentu sudah menjadi bagian dari keseharian.
Termasuk bagi Fatimah Azzahra, guru honorer di MI Miftahul Ulum di Kecamatan Tempurejo, yang harus mencari cara agar pekerjaannya tetap bisa diselesaikan tepat waktu.
Alih-alih langsung pulang setelah bel sekolah usai, Fatimah justru kerap memperpanjang waktunya di ruang guru.
Bukan karena masih ada jadwal mengajar tambahan, melainkan menunggu seluruh pekerjaan administrasi berbasis daring selesai. “Jaringan wifi sekolah menjadi andalan sebelum ia kembali ke rumah,” ucapnya.
Menurut Fatimah, hampir seluruh administrasi pendidikan kini dilakukan secara digital. Mulai pembaruan data peserta didik, pengiriman laporan, hingga unggah berbagai dokumen ke sistem milik dinas pendidikan maupun Kementerian Agama.
Pekerjaan itu sering kali tersendat jika hanya mengandalkan sinyal telepon seluler di rumah.
"Bukan tidak ada sinyal. Kalau cuma untuk komunikasi sehari-hari sebenarnya masih bisa. Tapi kalau sudah membuka website atau upload data yang ukurannya besar, maka jaringannya sering tidak kuat. Akhirnya saya memilih menyelesaikan semuanya di sekolah karena ada wifi," ujarnya.
Tak jarang, proses mengunggah dokumen membutuhkan waktu lebih lama dari perkiraan. Fatimah pun rela pulang menjelang petang agar seluruh berkas benar-benar terkirim. Baginya, pekerjaan administrasi tidak boleh tertunda hanya karena persoalan jaringan internet.
Keberadaan wifi sekolah juga membantu mengurangi beban pengeluaran. Sebagai guru honorer, ia mengaku harus berhitung dalam setiap pengeluaran bulanan.
Membeli paket data berkapasitas besar bukan pilihan yang mudah ketika kebutuhan rumah tangga lebih dulu harus dipenuhi.
"Kalau harus membeli paket internet yang besar tentu cukup berat bagi kami guru honorer. Gaji yang kami terima sebagian besar sudah digunakan untuk kebutuhan sehari-hari. Jadi wifi sekolah sangat membantu, bukan hanya karena jaringannya lebih stabil, tetapi juga membuat kami tidak perlu mengeluarkan biaya tambahan untuk paket data," pungkasnya. (dhi/dwi)
Editor : Imron Hidayatullahh