Radar Jember - Dua tangan Bambang Mulyadi dengan telaten menyusun serpihan kertas yang menghitam. Bukan sedang merangkai teka-teki, ia sedang menyambung kembali lembaran uang rupiah yang luluh lantak dilahap si jago merah.
Meski brankasnya habis terbakar, harapan untuk memutar kembali roda usaha keluarga membawanya menempuh perjalanan jauh dari Krian, Sidoarjo menuju Kantor Perwakilan BI Jember.
Asap pekat yang mengepul di langit Krian, Sidoarjo, pada Selasa sore (23/6) lalu, masih membekas tajam dalam ingatan Bambang Mulyadi, 44. Saat itu, si jago merah mendadak mengamuk, melahap lantai dua rumahnya.
Diduga kuat, pemicunya adalah korsleting pada mesin cuci. Api memang hanya melahap area atas rumah, namun di sanalah napas ekonomi keluarga tersimpan. Sebuah brankas berisi modal usaha.
Di tengah kepanikan hebat, Bambang dan keluarganya dihadapkan pada pilihan sulit. Mereka hanya mampu menyelamatkan diri dan beberapa helai pakaian. Sementara brankas, yang berada tepat di titik api, terpaksa ditinggalkan.
Mereka sadar, nekat menerjang kobaran api hanya untuk seonggok besi penyimpan uang justru bakal mempertaruhkan nyawa.
"Kalau kejadian, pasti yang terpikir hanya uang itu ada di dalam brankas. Cuma, kami tidak mau ambil risiko. Nyawa jauh lebih berharga daripada sekadar isi brankas," tutur pria tersebut dengan nada getir.
Namun, setelah api berhasil dijinakkan, secercah harapan muncul dari tumpukan arang. Di dalam brankas yang kini menghitam, masih ada sisa-sisa lembaran rupiah.
Sebagian besar hancur menjadi serpihan, sementara sisanya hanya menyisakan sudut kecil yang masih memperlihatkan nomor seri dan nominal.
Bagi keluarga Bambang, potongan-potongan itu bukan sekadar kertas, melainkan jerih payah usaha yang selama ini dikumpulkan sebagai modal perputaran bisnis.
Pemandangan mengharukan terlihat di Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Jember, kemarin (9/7). Bambang bersama istrinya, Diah Mustikasari, serta ketiga buah hati mereka duduk lesehan di lantai ruang penukaran uang.
Tak ada keluhan. Mereka justru sibuk merangkai serpihan demi serpihan uang itu. Bagai menyusun puzzle, potongan kecil dicocokkan dengan nomor seri dan pecahan nominal dengan tingkat ketelitian tinggi.
"Kami datang jauh-jauh dari Krian. Sebelumnya sempat mencoba mendaftar di BI Surabaya, tapi kuotanya selalu penuh. Akhirnya, kami bersyukur bisa dapat jadwal di BI Jember melalui aplikasi BI Pintar," ungkapnya.
Dari sekitar Rp 15 juta uang yang berhasil "diselamatkan" dari brankas, proses verifikasi pun dimulai. Petugas BI bekerja dengan standar ketat. Hasilnya, sekitar Rp 10 juta dinyatakan layak untuk diganti.
Baca Juga: Kejati Jatim Tetapkan Tiga Tersangka Korupsi KUR Bank Plat Merah Jember, Negara Rugi Rp 41,4 Miliar
Bagi Bambang, uang memang bisa dicari kembali. Namun, musibah ini memberinya pelajaran berharga. Ia berharap, ada kebijakan atau diskresi khusus bagi korban bencana yang mengalami nasib serupa, agar uang modal usaha yang terbakar bisa diganti secara utuh.
"Harapan kami, sebagai korban musibah, seyogyanya Bank Indonesia bisa memberikan diskresi agar penukaran uang karena bencana dapat diganti 100 persen. Karena ini bukan sekadar tabungan, tapi modal usaha yang harus diputar setiap hari untuk menghidupi keluarga," tutupnya dengan tatapan penuh harap. (kin/dwi)
Editor : Imron Hidayatullahh