Radar Jember – Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jawa Timur 2027 memang masih akan berlangsung sekitar satu tahun lagi. Namun, semangat mempersiapkan diri sudah ditunjukkan para atlet Kabupaten Jember.
Salah satunya datang dari cabang olahraga (cabor) petanque yang terus menjalani latihan intensif demi meraih hasil terbaik.
Latihan yang dijalani para atlet tidak hanya berfokus pada akurasi membidik bola sasaran (jack), tetapi juga kemampuan beradaptasi dengan berbagai karakter lapangan. Hal tersebut dinilai menjadi salah satu kunci keberhasilan dalam setiap pertandingan.
Ketua Federasi Olahraga Petanque Indonesia (FOPI) Jember, Riki Suhermanto, mengatakan setiap arena pertandingan memiliki karakter yang berbeda sehingga membutuhkan strategi permainan yang berbeda pula.
"Atlet kami tidak hanya berlatih teknik melempar, tetapi juga harus mampu beradaptasi dengan semua jenis lapangan. Setiap kejuaraan memiliki karakter lapangan yang berbeda, sehingga cara bermainnya juga harus menyesuaikan," ujarnya.
Menurut Riki, pengalaman pada Porprov maupun Kejuaraan Provinsi (Kejurprov) menjadi pelajaran berharga. Lapangan latihan Petanque Jember di kawasan Slawu memiliki permukaan berupa campuran tanah dan kerikil dengan lapisan akhir semen cor.
Kondisi tersebut berbeda dengan lapangan Porprov Jatim 2025 yang didominasi permukaan semen dengan taburan kerikil yang jauh lebih sedikit. Perbedaan itu membuat pantulan bola berubah sehingga atlet harus mengubah strategi permainan.
Sementara pada Porprov Jatim 2022 di Situbondo, lapangan juga memiliki karakter yang berbeda. Meski terdapat kerikil, jumlahnya sangat sedikit sehingga permukaannya menyerupai paving.
"Di Situbondo itu pusing waktu pertandingan. Karakter lapangannya berbeda sehingga atlet harus cepat menyesuaikan diri," ungkapnya.
Karena itu, FOPI Jember selalu mengupayakan agar atlet dapat datang lebih awal sebelum pertandingan berlangsung.
Menurut Riki, waktu adaptasi yang ideal adalah sekitar satu minggu sebelum laga dimulai agar atlet benar-benar memahami karakter lapangan.
"Kalau memungkinkan, minimal satu minggu sebelum pertandingan atlet sudah berada di lokasi. Fokusnya bukan hanya latihan, tetapi mencoba lapangan secara berulang. Jadwal uji coba resmi memang ada, tetapi menurut kami itu belum cukup untuk memahami karakter lapangan," paparnya.
Riki menjelaskan, secara standar ukuran lapangan petanque memang sama. Namun, perbedaan komposisi tanah, semen, hingga jumlah kerikil sangat memengaruhi laju dan pantulan bola.
Bahkan, lapangan yang digunakan dalam waktu lama juga akan mengalami perubahan karakter karena kerikil semakin terkikis.
"Seperti lapangan di Slawu ini. Dulu kerikilnya cukup banyak, tetapi sekarang konsentrasi kerikilnya mulai berkurang karena sering digunakan. Itu juga memengaruhi karakter permainan," jelasnya. (kin/dwi)
Editor : Imron Hidayatullahh