Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Bukan Modal Tampang Doang! Mahasiswa Unmuh Jember Sukses Sabet Gelar Putera Kampus Jatim Lewat Filosofi Unik Ini

M Adhi Surya • Kamis, 9 Juli 2026 | 06:00 WIB
NAIK PANGGUNG: Arya Jaziera Hidayat, mahasiswa Ilmu Komunikasi Unmuh Jember, yang meraih The Winner Putera Kampus Jawa Timur 2026. (UNMUH JEMBER)
NAIK PANGGUNG: Arya Jaziera Hidayat, mahasiswa Ilmu Komunikasi Unmuh Jember, yang meraih The Winner Putera Kampus Jawa Timur 2026. (UNMUH JEMBER)

Radar Jember -  Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Jember (Unmuh), Arya Jaziera Hidayat, berhasil meraih gelar The Winner Putera Kampus Jawa Timur 2026 setelah melewati seleksi ketat dan proses karantina yang menantang. Lantas bagaimana dia bisa meraih prestasi itu?

Selempang juara yang melingkar di bahu malam itu memang menjadi penutup yang manis. Namun, bagi Arya Jaziera Hidayat, bagian paling berharga dari perjalanan di ajang Putera Kampus Jawa Timur 2026 justru bukan terletak pada kemilau mahkota atau tepuk tangan penonton.

Baginya, esensi kemenangan itu lahir dari setiap percakapan, diskusi, dan pertemuan mendalam dengan mahasiswa-mahasiswa hebat dari berbagai penjuru provinsi.

Baca Juga: Info Laka Lantas Jember: Mobil Pikap yang Disopiri Warga Situbondo Ini Terjun ke Jurang Gumitir, Cek Kronologinya Ini

Gaya bicara yang tenang, luwes, dan kemampuannya membangun kedekatan adalah kesan pertama saat bertemu pria ini. Ia memiliki pembawaan yang membuat lawan bicara merasa nyaman, sehingga percakapan mengalir hangat hanya dalam hitungan menit.

Karakter yang humble namun berwibawa itulah yang kemudian membawanya menembus panggung bergengsi hingga akhirnya dinobatkan sebagai The Winner Putera Kampus Jawa Timur 2026.

Sebagai mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah (Unmuh) Jember, Arya memahami bahwa komunikasi bukan sekadar bicara, melainkan tentang bagaimana mendengar. Filosofi inilah yang ia bawa selama menjalani karantina di Surabaya Suites Hotel selama dua hari satu malam.

Di sana, Arya tidak sekadar mengikuti rangkaian penilaian yang menguras energi. Ia justru memanfaatkan momen tersebut untuk membangun relasi seluas-luasnya.

Ia duduk bersama para finalis lain, bertukar perspektif mengenai sistem pendidikan tinggi, kompleksitas program beasiswa, problematika kurikulum, hingga kebijakan pemerintah yang bersinggungan langsung dengan dunia mahasiswa.'

Baca Juga: Bukan Penolong Malah Bikin Fatal! Dokter Anak Jember Luruskan Mitos Sesat Cekoki Kopi ke Mulut Bayi yang Kejang

Bagi Arya, ruang diskusi itu adalah "kelas" terbaik yang tidak bisa ditemukan di dalam ruang kuliah mana pun.

"Belajar mendengar sebelum berani menyampaikan gagasan besar. Itu prinsip yang saya pegang. Di karantina, saya sadar bahwa setiap orang punya value unik. Dari diskusi itulah, saya justru mendapat banyak referensi untuk memperkuat advokasi yang saya bawa," ujar Arya dengan nada rendah.

Perjalanan Arya menuju gelar juara memang tidaklah instan. Ia harus melalui serangkaian seleksi administrasi yang cukup menantang, babak semifinal yang mendebarkan, hingga akhirnya terpilih masuk dalam jajaran 30 finalis terbaik.

Mengingat lawan yang dihadapi adalah mahasiswa-mahasiswa berprestasi dari berbagai kampus ternama di Jawa Timur, rasa gugup tentu sempat menyelinap. Namun, pria yang semasa SMA aktif sebagai anggota Paskibraka ini mampu mengelola emosinya dengan baik.

"Tantangan terbesar memang mengatasi rasa grogi saat berhadapan dengan peserta yang memiliki rekam jejak prestasi luar biasa. Namun, saya mencoba mengubah tekanan tersebut menjadi motivasi untuk tampil maksimal dan menunjukkan yang terbaik," tutur pemuda yang dikenal disiplin ini.

Persiapan matang sudah ia lakukan jauh hari. Arya tidak hanya mengandalkan bakat, ia mendalami isu-isu pendidikan, memahami esensi Tri Dharma Perguruan Tinggi, serta terus mengasah kemampuan public speaking.

Pengalamannya sebagai Duta Kampus Unmuh Jember menjadi modal utama yang membentuk mental kepemimpinannya.

Keberhasilan ini, tegas Arya, bukanlah pencapaian personal semata. Ia adalah buah dari dukungan kolektif keluarga, teman-teman, dan para dosen di Unmuh Jember. "Doa orang tua, khususnya Ibu, menjadi bahan bakar utama saya.

Saat lelah atau merasa tertekan, mengingat sosok beliau selalu memberi kekuatan baru. Terima kasih juga kepada pihak universitas dan rekan-rekan organisasi yang telah menjadi support system luar biasa," tambahnya.

Bagi Arya, gelar Winner yang ia sandang kini bukanlah akhir dari segalanya. Ia memandangnya sebagai amanah untuk menghadirkan kebermanfaatan yang lebih luas bagi masyarakat.

Melalui program advokasi pengabdian masyarakat yang ia usung, Arya ingin mendobrak stigma bahwa mahasiswa hanya berkutat pada prestasi akademik.

"Di balik gemerlap kompetisi, misi untuk mengabdi dan menyentuh masyarakat secara langsung tentu menjadi prioritas utama. Saya ingin membuktikan bahwa mahasiswa memiliki peran nyata sebagai jembatan solusi bagi problematika sosial," pungkasnya. (dwi)

Editor : Imron Hidayatullahh
#jatum #putera kampus #Unmuh Jember #duta