Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Tradisi Petik Laut di Pesisir Jember Iring-iringan Kapal di Puger, hingga Jolen Perahu Kayu di Payangan

Maulana RJ • Rabu, 8 Juli 2026 | 07:05 WIB
SEMARAK: Sejumlah kapal nelayan saat melintasi pelawangan Pancer Puger untuk membawa sesaji berisi hasil bumi untuk dilarung di tengah laut, dalam rangkaian acara Petik Laut di Pancer Puger, (30/6). (DISKOMINFO JEMBER)
SEMARAK: Sejumlah kapal nelayan saat melintasi pelawangan Pancer Puger untuk membawa sesaji berisi hasil bumi untuk dilarung di tengah laut, dalam rangkaian acara Petik Laut di Pancer Puger, (30/6). (DISKOMINFO JEMBER)

Radar Jember - Angin kencang yang bertiup dari bibir pantai siang itu tidak menyurutkan langkah ribuan orang di pesisir Jember awal Juli ini. Mereka seperti bersepakat tidak ingin melewatkan momen yang jatuh tepat saat bulan Suro Hijriah ini.

Bagi masyarakat nelayan Pantai Payangan, Watu Ulo, hingga Puger Kulon, laut bukan sekadar bentangan pesisir. Ia adalah ruang kehidupan sekaligus ruang ekspresi spiritual yang terus dirawat dan dilestarikan. Dan salah satu tradisi itu, bernama Petik Laut.  

Tradisi yang telah terjaga bertahun-tahun ini dirayakan untuk menjembatani rasa syukur, keselamatan, dan pelestarian identitas yang tak luntur dimakan zaman.

Baca Juga: Jebakan Maut Malam Hari! Gorong-Gorong di Panti Jember Ambrol, Nyawa Pengendara Luar Daerah Kini Jadi Taruha

​Di Pantai Payangan, Jumat (3/7), sebuah miniatur perahu kayu atau sering disebut jolentelah bersolek anggun. Di dalamnya penuh sesaji: hasil bumi, jajanan pasar, hingga perlengkapan adat yang ditata rapi oleh jemari para sesepuh.

Setelah doa-doa dipanjatkan, perahu mini itu dibawa ke tengah ombak, dilarung menuju samudera lepas.

​"Ini bukan sekadar ritual tahunan. Ini adalah bentuk penghormatan kepada leluhur sekaligus wujud syukur kami atas hasil laut yang menjadi sumber penghidupan," kata Kepala Desa Sumberejo, Riono Hadi, dalam keterangannya, (4/7).

Kebudayaan ini bukan saja dibanjiri ribuan warga sekitar hingga para wisatawan yang sudah menantikan kedatangan momen itu. Bahkan mayoritas dari mereka rela berjubel demi mengabadikan momen setahun sekali tersebut.

Plt. Camat Ambulu, Fahrul Asrori, menilai Petik Laut adalah perekat sosial yang menjaga harmoni antara manusia, alam, dan Sang Pencipta. "Melalui kegiatan ini kita diajak untuk senantiasa bersyukur atas nikmat yang diberikan Allah SWT sekaligus menjaga persatuan masyarakat," katanya.

Baca Juga: Bikin Petani Jember Tenang! Usai Bagi-Bagi Alsintan Jumbo, Gus Fawait Siapkan Jaring Pengaman dari Bencana Alam

Saat di Payangan berjalan dengan khidmat dan semarak, pemandangan serupa juga tersaji di Desa Puger Kulon, Kecamatan Puger, beberapa hari sebelumnya, (30/6). 

Dikemas sebagai bentuk selametan desa, Petik Laut ini ditutup dengan prosesi Larung Sesaji, dengan mengarak jolen berisi hasil bumi sebelum dilarung ke perairan Laut Selatan.

Ribuan warga memadati sepanjang rute arak-arakan dari Kantor Desa Puger Kulon menuju Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Puger. Mereka ingin menyaksikan langsung prosesi sakral yang telah turun-temurun dilestarikan masyarakat nelayan itu.

Puluhan hasil bumi disusun dalam jolen berbentuk replika perahu. Setelah tiba di TPI, jolen dipindahkan ke kapal nelayan untuk kemudian dilarung ke Laut Selatan.

"Larung sesaji kami uri-uri untuk mempertahankan budaya lokal sekaligus menghidupkan sektor wisata dan UMKM," kata Kepala Desa Puger Kulon, Nurhasan.

Antusiasme masyarakat juga terlihat di Plawangan Pantai Pancer Puger. Warga berbondong-bondong menuju bibir pantai untuk menyaksikan iring-iringan kapal yang membawa sesaji menuju lokasi pelarungan.

Baca Juga: Kabar Gembira Bagi Nelayan Jember! Gus Fawait Resmikan Dua Jabatan Krusial Ini Demi Keamanan Melaut Malam Hari

Tidak hanya tradisi, kegiatan ini juga menjadi sarana memperkenalkan destinasi wisata Pantai Pancer Puger kepada masyarakat luas.

"Ini selamatan desa dan larung sesaji merupakan wujud rasa syukur kepada Allah SWT atas hasil laut yang diberikan. Melalui tradisi ini, masyarakat berharap nelayan selalu memperoleh keselamatan saat melaut dan rezeki yang melimpah," tambah Nurhasan. (mau/dwi)

Editor : Imron Hidayatullahh
#TRADISI #Jember #petik laut #Budaya #pancer