Radar Jember - Bagi para petani yang menggarap lahan di kawasan milik Perhutani, musim kemarau bukan hanya soal kekeringan air, tetapi juga kewaspadaan terhadap ancaman api.
Mengingat kondisi cuaca yang sedang panas-panasnya, kebiasaan membakar sampah atau sisa kayu di ladang kini menjadi ancaman nyata bagi keberlangsungan hutan.
Kondisi geografis wilayah seperti di Desa Sabrang, Kecamatan Ambulu, yang berdekatan dengan pesisir pantai, membuat angin bertiup lebih kencang.
Dalam kondisi kering, dedaunan jati yang berguguran di lantai hutan berubah menjadi "bahan bakar" yang sangat sensitif terhadap percikan api.
Sedikit saja kelalaian, seperti membuang puntung rokok yang belum mati sempurna atau meninggalkan sisa pembakaran sampah tanpa pengawasan, bisa memicu kebakaran hebat.
Oleh karena itu, agar petani tidak membakar sampah ataupun rumput kering sembarangan. Peristiwa kebakaran hutan di tahun 2024, seperti di wilayah Wuluhan dan Gunung Watangan, harus menjadi pelajaran berharga.
“Hutan adalah aset yang sangat berharga bagi ekosistem, terutama untuk menjaga cadangan air tanah saat kemarau panjang,” ucap Kepala BPBD Jember Edy Budi Susilo.
Di tengah teriknya matahari dan kencangnya embusan angin musim kemarau, kesadaran individu adalah pertahanan terbaik.
Menahan diri untuk tidak membakar sampah di lahan terbuka adalah langkah sederhana, namun dampaknya bisa menyelamatkan ribuan hektare hutan dari ancaman karhutla.
“Ingat, alam sudah kering, jangan ditambah dengan bara api yang tak terkendali,” terangnya.
Walau musim kemarau ini rawat Karhutla, Edy tidak menutup kemungkinan api itu muncul dari rumah.
Dia mengaku, dari sekian banyak kejadian kebakaran di Jember, penyebab yang kerap muncul adalah korsleting listrik. (kin/jum/dwi)
Editor : Imron Hidayatullahh