Radar Jember - Aplikasi kencan online dan platform perjodohan hingga dating, kini beralih fungsi menjadi sarang baru bagi pelaku love scamming (penipuan berkedok cinta).
Alih-alih mendapatkan pendamping hidup ideal, justru berakhir menjadi korban eksploitasi ekonomi hingga kekerasan seksual.
Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jentera Perempuan membeberkan fakta miris mengenai maraknya korban yang terjebak manipulasi psikologis di dunia maya.
Ketua LBH Jentera Perempuan, Fitriyah Fajarwati, mengungkapkan bahwa modus penipuan ini bahkan menyusup ke dalam aplikasi.
Baca Juga: Proyeksi Jangka Panjang! Kejurwil V Pelti Jember, Sekaligus Pantau Petenis Lapis Kedua Porprov 2027
"Awalnya mengobrol biasa, merasa nyaman dan diberi perhatian berlebih. Tapi ada korban yang hubungannya berlanjut hingga ke jenjang pernikahan. Namun setelah menikah, kedok pelaku terbuka. Si perempuan justru diperas dan dipaksa menjadi tulang punggung keluarga," kata Fitriyah, Minggu (28/6).
Selain eksploitasi ekonomi, LBH Jentera Perempuan juga mencatat dampak yang lebih ekstrem. Penipuan berujung pidana kekerasan seksual.
Korban yang mayoritas merupakan mahasiswi, kerap kali teperdaya oleh perhatian semu hingga bersedia diajak bertemu langsung, bahkan sampai dibawa bertamasya (staycation) ke luar daerah yang berakhir pada tindakan pelecehan.
Ibu-ibu juga berpotensi jadi korban love scamming, kenalan lewat media sosial ataupun aplikasi kencan. Selanjutnya lanjut chat WA, trus diajak video call atau VCS.
“Ternyata VCS tersebut direkam dan dijadikan alat untuk memeras korban. Jangan mau jika diminta video/foto tanpa memakai busana," tegasnya memberi pesan.
Ironisnya, jerat hukum bagi para pelaku love scammer ini kerap membentur dinding tebal. Fitriyah mengakui pihaknya kesulitan saat mendampingi korban untuk melapor ke kepolisian.Minimnya alat bukti dan identitas pelaku menjadi ganjalan utama dalam proses hukum.
"Jejak digitalnya sangat terbatas. Mereka hanya kenalan di aplikasi, bertukar nomor WhatsApp, lalu bertemu. Setelah pelaku berhasil mengeksploitasi korban, nomor kontak langsung diblokir dan pelaku menghilang tanpa jejak," jelasnya.
Fitriyah pun mendesak para perempuan, terutama generasi muda, untuk tidak abai terhadap sinyal bahaya saat berinteraksi di ruang digital.
Perhatian yang datang secara berlebihan serta ajakan yang mulai mengarah pada tindakan fisik yang mencurigakan harus segera diwaspadai.
"Jangan mudah akrab dan tergiur iming-iming dari orang yang baru dikenal di media sosial. Jika insting sudah merasa ada yang tidak beres, segera tolak dan selamatkan diri," pungkas Fitriyah. (mau/dwi)
Bottom of Form
Editor : Imron Hidayatullahh