Radar Jember - Niat hati ingin mengakhiri masa lajang lewat jalur digital. Tapi apa daya modal jempol justru berujung apes. Mencari jodoh lewat aplikasi kencan daring (dating apps) ternyata mirip seperti membeli kucing dalam karung virtual.
Bermodal foto profil estetik, rupanya penuh filter. Algoritma cinta masa kini juga sukses menguras isi dompet, waktu, hingga nyaris menjadi korban pemerasan berkedok syahwat.
Nestapa inilah yang sempat mampir di kehidupan Ahmadi. Pria yang pernah mengenyam pendidikan di Bondowoso ini harus menelan pil pahit setelah mencoba peruntungan di salah satu aplikasi pencari jodoh yang belakangan tengah digandrungi.
Baca Juga: Proyeksi Jangka Panjang! Kejurwil V Pelti Jember, Sekaligus Pantau Petenis Lapis Kedua Porprov 2027
Bukannya menemukan pelabuhan hati, Ahamdi justru berkali-kali "terjebak" dalam lingkaran akun palsu. Ujung-ujungnya sering zonk. Pria yang meminta identitas detailnya disamarkan ini mengaku, awalnya tergiur karena aplikasi tersebut menawarkan fitur pencarian berbasis lokasi (radius terdekat).
Pikirnya, cara ini praktis untuk memperluas pergaulan sekaligus membuka peluang menemukan pasangan serius yang jaraknya tinggal sejengkal.
Sayang, realita tak seindah ekspektasi. Beberapa kali membuat janji temu (dating), sosok asli yang datang di dunia nyata kerap berbeda 180 derajat dengan pas foto di profil aplikasi.
Bahkan, tak jarang si gebetan fiktif mendadak hilang setelah diajak berkomunikasi berhari-hari. Waktu, tenaga, dan ongkos bensin pun tekor.
Baca Juga: FDPNI Gelar Audiensi Nasional Bersama Pemkab Jember Bahas Penguatan Pendidikan Vokasi
"Kalau saya paling rugi di waktu dan ongkos perjalanan. Sudah jauh-jauh ke lokasi, orangnya tidak sesuai foto atau malah tidak datang sama sekali. Untungnya iman masih kuat, jadi tidak sampai kena peras," tuturnya sembari terkekeh.
Namun, pengalaman Ahmadi rupanya belum seberapa. Selama berselancar di aplikasi tersebut, ia kerap disuguhi pemandangan vulgar berupa akun-akun siluman yang sejak awal blak-blakan menawarkan layanan seksual komersial.
Pintu prostitusi daring inilah yang menurutnya menjadi gerbang utama berbagai modus kejahatan. Malangnya, nasib lebih apes justru menimpa salah satu rekan karibnya. Tergiur oleh foto profil aduhai dan tawaran kencan semalam, sang teman terjebak janji temu di sebuah lokasi tersembunyi.
Bukannya mendapat kepuasan yang dijanjikan, jejak obrolan intim (chat) miliknya justru direkam dan di-screenshot oleh pelaku. Korban diancam akan dipermalukan jika tidak mentransfer sejumlah uang.
"Ternyata saya tidak merana sendirian. Teman saya malah kena peras jutaan rupiah gara-gara tergiur prostitusi berkedok aplikasi jodoh itu," ungkap Faruq.
Fenomena ini kian subur seiring bergesernya lanskap sosial masyarakat Jember dalam mencari pasangan hidup. Menariknya, ada polarisasi unik di lapangan.
Di kawasan urban atau perkotaan Jember, tren usia menikah yang semakin mundur membuat dating apps menjadi jalan pintas kaum pekerja untuk mencari pelarian asmara.
Sebaliknya, di wilayah rural atau pedesaan, pengguna aplikasi ini didominasi oleh kalangan janda dan duda yang punya misi pragmatis. Ingin membangun rumah tangga kembali.
Sayangnya, celah psikologis antara kesepian dan kebutuhan hidup inilah yang diendus oleh para pelaku kriminal sebagai ladang basah mencari mangsa.
Rentetan kasus ini menjadi alarm keras bahwa berburu cinta di dunia maya menuntut kewaspadaan tingkat tinggi.
Melakukan verifikasi wajah via video call sebelum bertemu, menghindari lokasi pertemuan yang sepi atau tertutup, serta menolak mentah-mentah jika digiring ke arah transaksi uang atau prostitusi adalah benteng pertahanan utama.
Di sisi lain, penyedia platform dan aparat penegak hukum juga dituntut tidak menutup mata terhadap leluasanya akun-akun bodong bergentayangan.
"Kalau esensi aplikasi ini memang untuk mempermudah mencari hubungan serius, sistem verifikasi pembuatan akunnya harus diperketat. Jangan biarkan aplikasi kencan berubah fungsi jadi sarang kriminal," pungkas Ahmadi. (dhi/dwi)
Editor : Imron Hidayatullahh