Radar Jember - Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kolaboratif ke-5 tahun 2026 tak sekadar menjadi ajang pengabdian mahasiswa di tengah masyarakat. Tahun ini, sembilan perguruan tinggi di Jember membawa misi yang lebih terarah.
Yakni mengawal empat persoalan krusial yang menjadi prioritas Pemkab Jember, mulai dari validasi data kemiskinan ekstrem hingga penanganan Anak Tidak Sekolah (ATS).
Komitmen tersebut mengemuka dalam pembekalan KKN Kolaboratif ke-5 yang digelar di Aula Dinas Pendidikan Jember, beberapa hari lalu. Kegiatan itu diikuti 40 dosen pembimbing lapangan (DPL) dan perwakilan mahasiswa dari sembilan kampus negeri maupun swasta di Jember.
KKN tahun ini mengusung tema CINTA, akronim dari Cerdas, Inklusif, dan Tangguh. Ini menjadi semangat mahasiswa dalam mendampingi masyarakat sekaligus menghadirkan solusi atas berbagai persoalan di desa.
"KKN Kolaboratif ini adalah bukti bahwa perguruan tinggi bukan lagi menara gading. Kami turun ke bumi, menyentuh akar rumput kehidupan masyarakat dengan CINTA," ujar Siti Roudlotul Hikamah, Ketua Pelaksana KKN Kolaboratif ke-5.
Siti menjelaskan, program mandatoris menjadi roh utama pelaksanaan KKN tahun ini. Seluruh peserta diwajibkan mengawal empat isu prioritas daerah, yakni pemilahan desil untuk memvalidasi data kemiskinan ekstrem agar bantuan sosial tepat sasaran.
Lalu pengelolaan sampah berbasis edukasi masyarakat, peningkatan kepesertaan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), serta penanganan Anak Tidak Sekolah (ATS) agar kembali memperoleh akses pendidikan.
Menurut akademisi Universitas Islam Jember (UIJ) itu, empat isu tersebut dipilih karena menyentuh persoalan mendasar yang masih dihadapi masyarakat.
Kehadiran mahasiswa di desa diharapkan tidak hanya menjalankan program kerja, tetapi juga menjadi mitra pemerintah dalam mempercepat penyelesaian persoalan melalui pendekatan sosial yang lebih dekat dengan masyarakat.
"Kolaborasi PTN dan PTS merupakan energi besar untuk menekan angka kemiskinan dan memastikan tidak ada lagi ATS di Jember," katanya.
Selain program mandatoris, mahasiswa juga diberi keleluasaan menyusun program tematik sesuai potensi dan karakteristik lokasi KKN.
Dengan ruang inovasi tersebut, setiap kelompok diharapkan mampu menghadirkan solusi yang relevan tanpa mengesampingkan empat isu prioritas yang telah ditetapkan.
Selama pembekalan, peserta juga dibekali metodologi pendekatan sosial agar lebih mudah membangun komunikasi dan kepercayaan masyarakat.
Ia berharap kolaborasi sembilan kampus ini tidak berhenti pada kegiatan pengabdian semata, tetapi mampu menghasilkan dampak nyata bagi pembangunan daerah.
Menurutnya, keberhasilan KKN akan diukur dari seberapa besar manfaat yang dirasakan masyarakat, terutama dalam membantu pemerintah menyelesaikan persoalan kemiskinan, lingkungan, kesehatan, dan pendidikan. (kin/dwi)
Editor : Imron Hidayatullahh