Radar Jember – Membangun Indonesia tidak bisa lagi sekadar mengandalkan instruksi dari pusat pemerintahan. Daerah justru harus menjadi laboratorium awal lahirnya berbagai solusi konkret untuk mempercepat kemajuan bangsa.
Gagasan besar itulah yang mengemuka dalam Sarasehan Nasional bertajuk "Akselerasi Membangun Indonesia dari Daerah: Menakar Sinergi Pusat dan Daerah untuk Kemajuan Bangsa".
Forum strategis yang mempertemukan para akademisi, peneliti, hingga kepala daerah lintas pulau ini menjadi pembuka rangkaian KAUJE Fest 2026 di Gedung Soetarjo Universitas Jember, kemarin (3/7).
Dalam diskusi panel tersebut, Peneliti Senior Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof Siti Zuhro, melemparkan kritik sekaligus motivasi tajam kepada para pemimpin daerah.
Alumnus FISIP Unej ini mengingatkan agar pemerintah daerah tidak sekadar pasif menunggu bola atau kebijakan dari pemerintah pusat.
"Kurangi mengeluh. Daerah perlu menerobos dan berpikir out of the box. Kepala daerah dituntut memiliki mental leadership yang kaya inovasi agar bisa menjadi pemantik serta role model dalam memajukan Indonesia," tegas Siti Zuhro.
Tantangan fiskal daerah juga disoroti oleh Direktur Jenderal Percepatan Pembangunan Daerah Kemendes PDT, Samsul Widodo. Menurutnya, banyak daerah lambat berkembang karena porsi belanja modalnya terlalu mini.
Di sisi lain, bantuan stimulan dari pusat sering kali diecer dalam skala kecil sehingga gagal menjadi pengungkit ekonomi. Ia mendorong daerah berani fokus pada hilirisasi komoditas unggulan secara masif.
"Misalnya sekalian menanam kopi dalam jumlah besar, targetkan tiga juta ton dalam tiga tahun ke depan. Inovasi masif seperti ini yang melahirkan efek domino ekonomi," paparnya.
Sarasehan berjalan kian dinamis saat sejumlah kepala daerah alumnus Unej membagikan potret riil hambatan di lapangan.
Bupati Situbondo, Yusuf Rio Wahyu Prayogo, memaparkan strategi pertanian sepanjang tahun dengan menyisipkan tanaman kapulaga dan kemukus di bawah tegakan pohon kopi agar pendapatan petani tidak terputus.
Pria yang akrab disapa Mas Rio ini juga menceritakan ironi akses permodalan UMKM. Pemkab Situbondo sejatinya telah menyiapkan insentif bunga gratis dan biaya administrasi perbankan.
Namun, dari 3.000 pelaku usaha yang mendaftar, hanya 6 UMKM yang lolos skrining perbankan. Mayoritas pendaftar lainnya tertolak karena memiliki riwayat kredit bermasalah (blacklist BI Checking) akibat jeratan pinjaman daring (pinjol).
"Kami (kepala daerah, Red) sebenarnya tidak dalam posisi mengeluh, tetapi kami terus berjuang di garis depan dengan semangat luar biasa. Hambatan regulasi keuangan makro seperti imbas pinjol ini yang harusnya segera ditangkap dan dicarikan solusi oleh pemerintah pusat dan regulator," cetus Mas Rio.
Rektor Universitas Jember, Iwan Taruna, menilai bahwa perguruan tinggi mengemban tanggung jawab moral sebagai rahim lahirnya gagasan strategis. Forum ini diharapkan menjadi jembatan pemecah masalah bangsa yang berangkat dari riwayat perjalanan daerah.
Senada dengan rektor, Ketua Harian PP KAUJE, Hendra Kurniawan, menegaskan bahwa jaringan alumni Unej didorong menjadi kekuatan intelektual kolektif yang ikut mengawal arah pembangunan nasional.
"Hasil rekomendasi dari sarasehan pembuka KAUJE Fest ini akan kami formulasikan sebagai kontribusi pemikiran nyata bagi pemerintah," tuturnya.
Sebagai informasi, diskusi tatap muka ini juga dihadiri oleh Bupati Madiun Hari Wuryanto dan Wali Kota Pasuruan Adi Wibowo.
Sementara bertindak sebagai panelis daring di antaranya Bupati Jember Muhammad Fawait, Bupati Lumajang Indah Amperawati, Bupati Ngada NTT Raymundus Bena, dan Bupati Kepulauan Mentawai Rinto Wardana. (kin/dwi)
Editor : Imron Hidayatullahh