Radar Jember - Memasuki puncak musim kemarau, Palang Merah Indonesia (PMI) Jember mulai bersiaga menghadapi potensi kekeringan.
Kesiapsiagaan itu ditandai dengan apel bencana yang digelar di Markas PMI Jember, Rabu (1/7).
PMI juga menyiapkan armada tangki air bersih untuk mendukung penanganan apabila kekeringan mulai melanda sejumlah wilayah di Jember.
Ketua PMI Jember Zainollah mengatakan, penyediaan armada tersebut merupakan bagian dari kesiapsiagaan yang rutin dilakukan setiap musim kemarau.
Baca Juga: NELANGSA! Warung Warga Jember Ini Dibobol Maling, Hasil Jualan Sehari Raib
Satu unit truk tangki berkapasitas 5.000 liter disiagakan untuk membantu pemerintah daerah dalam mendistribusikan air bersih kepada masyarakat terdampak.
Selain itu, PMI juga menyiapkan dua truk bak terbuka, dua ambulans, serta 50 relawan yang siap diterjunkan sewaktu-waktu.
"Apel kesiapsiagaan bencana digelar untuk menghadapi ancaman terjadinya kekeringan di musim kemarau sebagai dampak dari fenomena El Nino. Untuk membantu Pemkab Jember, PMI telah menyiagakan satu unit truk tangki air bersih, dua truk bak terbuka dan dua ambulans," ujarnya.
Kesiapsiagaan tersebut dilakukan menyusul prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang menyebut puncak fenomena El Nino diperkirakan berlangsung pada Juli hingga September 2026.
Kondisi itu berpotensi memicu kekeringan, gagal panen, hingga meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan.
Selain berdampak pada ketersediaan air bersih, kemarau panjang juga dapat memicu gangguan kesehatan, seperti infeksi saluran pernapasan akibat asap kebakaran maupun sengatan panas.
Di Jember, distribusi air bersih bagi warga terdampak kekeringan selama ini menjadi bagian dari penanganan rutin pemerintah daerah melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).
PMI pun turut dilibatkan dalam proses dropping air bersih sebagai bentuk dukungan kemanusiaan.
Dengan kesiapan armada yang dimiliki, PMI memastikan dapat bergerak cepat ketika ada permintaan bantuan dari pemerintah maupun masyarakat.
Berdasarkan pemetaan PMI, sedikitnya terdapat tujuh kecamatan yang berpotensi mengalami kekeringan, di antaranya Tempurejo, Patrang, Rambipuji, Wuluhan, Kalisat, Sumbersari, dan Pakusari.
Meski demikian, hingga awal Juli PMI Jember mengaku belum menerima laporan maupun permohonan bantuan air bersih dari masyarakat.
“Meski begitu, seluruh personel dan armada tetap disiagakan agar dapat segera diterjunkan apabila kondisi darurat mulai terjadi,” pungkasnya. (kin/nur)
Editor : Imron Hidayatullahh