Radar Jember - Belajar tentang kehidupan tak selalu dimulai dari ruang kelas. Di sebuah kebun sederhana di Jember, anak-anak justru mengenal makna ilmu, kesabaran, dan kepedulian terhadap alam melalui tangan yang kotor oleh tanah serta bibit yang mereka tanam sendiri.
Jemari-jemari kecil itu menggenggam bibit sawi dengan hati-hati. Sebagian menunduk memperhatikan tanah yang baru dicangkul, sementara yang lain sibuk membersihkan akar tanaman hasil panen.
Di bawah rindangnya pepohonan, kebun sederhana di Al-Kautsar Education Center Jember sore itu berubah menjadi ruang belajar, tak ada sekat antara kelas dan alam.
Di tempat itu, anak-anak belajar bahwa ilmu tak hanya diperoleh dari buku, tetapi juga dari tanah yang mereka pijak.
Pemandangan tersebut menjadi rutinitas setiap Jumat sore. Selama sekitar satu setengah jam, puluhan anak usia empat tahun hingga tingkat SMP mengikuti kelas berkebun.
Mereka dikenalkan cara menanam, merawat tanaman, memilah sampah organik, hingga mengolahnya menjadi pupuk.
Aktivitas itu menjadi bagian dari konsep pendidikan yang memadukan ilmu agama, akademik, dan kecintaan terhadap lingkungan. Di balik konsep tersebut, tersimpan kisah yang sederhana.
Pendiri Al-Kautsar Education Center, Yeni Nuraini, mengaku tergerak setelah sering menjumpai anak-anak di sekitar rumahnya yang belum mampu membaca meski telah memasuki usia sekolah.
Kegelisahan itu mendorong dirinya bersama sang suami mendirikan ruang belajar yang lebih dekat dengan kebutuhan anak-anak. Al-Kautsar berdiri pada 2018 dengan jumlah peserta didik yang masih terbatas.
Dari ruang belajar sederhana, lembaga itu terus berkembang menjadi pusat edukasi bagi anak usia dini hingga SMP. Selain belajar calistung, matematika, bahasa Inggris, dan mengaji, anak-anak juga diajak mengenal kehidupan melalui aktivitas di alam terbuka.
Anak-anak tidak hanya kami ajari pelajaran sekolah. “Mereka juga harus tahu padi berasal dari mana, bagaimana telur dihasilkan, bagaimana tanaman tumbuh, hingga mengenal tanah sejak dini. Pengetahuan dasar seperti itu penting mereka miliki," ujar Yeni.
Baginya, kebun bukan sekadar tempat bercocok tanam, area tersebut menjadi laboratorium alami bagi anak-anak untuk belajar tentang kehidupan.
Mereka diajak menanam sayuran, memanen hasil kebun, melihat peternakan kecil, hingga memahami proses pengolahan sampah organik menjadi kompos dan eco enzyme.
Semua dilakukan dengan melibatkan peserta didik secara langsung, Ia berharap mereka tidak hanya paham teori.
“Mereka harus ikut praktik supaya tumbuh rasa peduli terhadap lingkungan. Jadi sejak kecil mereka sudah terbiasa menjaga alam karena mereka sendiri yang merasakan prosesnya," katanya.
Suasana belajar pun berlangsung tanpa tekanan. Tawa anak-anak pecah saat menemukan cacing di dalam tanah atau ketika berhasil memanen sayuran yang mereka tanam sendiri.
Menurut Yeni, pengalaman sederhana seperti itu justru membentuk keberanian, rasa ingin tahu, dan kepercayaan diri yang sulit didapat hanya dari ruang kelas.
Bagi Yeni, pendidikan bukan sekadar mengejar nilai akademik. Anak-anak juga harus tumbuh menjadi pribadi yang berakhlak, mandiri, serta memiliki kepedulian terhadap sesama dan lingkungan.
"Anak adalah investasi. Kalau sejak kecil dibekali ilmu agama, pengetahuan umum, dan kecintaan terhadap alam, mereka akan tumbuh menjadi pribadi yang siap menghadapi kehidupan di tengah masyarakat," pungkasnya. (nur)
Editor : Imron Hidayatullahh