Radar Jember – Mahasiswa tidak cukup hanya memahami teori pemerintahan di ruang kuliah. Mereka juga dituntut mampu mengkritisi berbagai persoalan yang muncul di tengah masyarakat sekaligus menawarkan solusi berbasis kajian ilmiah.
Semangat itu mengemuka dalam Mini Conference on Local Governance and Kolokium yang digelar Himpunan Mahasiswa Program Studi Ilmu Pemerintahan (Himata) Unmuh Jember, Senin (29/6).
Forum akademik tersebut menjadi ruang bagi puluhan mahasiswa untuk mempresentasikan hasil penelitian sekaligus menguji gagasan di hadapan akademisi dan praktisi.
Baca Juga: NELANGSA! Warung Warga Jember Ini Dibobol Maling, Hasil Jualan Sehari Raib
Berbagai persoalan pemerintahan daerah menjadi fokus pembahasan. Mulai dari pemberdayaan masyarakat, pelayanan publik, pembangunan desa, hingga kebijakan publik.
Melalui empat tema tersebut, mahasiswa didorong melihat persoalan pemerintahan secara lebih kritis, tidak berhenti pada identifikasi masalah, tetapi juga menyusun alternatif penyelesaian yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
Diskusi berlangsung dengan menghadirkan sejumlah akademisi, Dr. Emi Kholifah, Bina Rida Kusumaningtyas, Dr. Iffan Gallant El Muhammady, serta Dr. Itok Wicaksono.
Mereka memberikan masukan terhadap hasil riset mahasiswa sekaligus memperkaya sudut pandang dalam melihat dinamika tata kelola pemerintahan.
Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Unmuh Jember, Dr. Sudahri menilai forum ilmiah semacam itu mulai jarang dijumpai di kalangan mahasiswa.
Karena itu, inisiatif tersebut layak diapresiasi sebagai upaya membangun budaya akademik yang lebih kuat.
"Forum seperti ini sangat penting karena menjadi ruang transformasi pengetahuan. Mahasiswa tidak hanya memperoleh ilmu dan pengalaman dari para narasumber, tetapi juga menghasilkan karya ilmiah yang dapat dipublikasikan melalui prosiding sebagai bentuk rekognisi akademik," ujarnya.
Menurut Sudahri, tema yang diangkat juga sejalan dengan peran mahasiswa sebagai agen perubahan.
Gagasan yang lahir dari hasil penelitian diharapkan tidak berhenti sebagai tugas akademik, tetapi mampu memberi kontribusi terhadap penyelesaian persoalan pemerintahan dan pembangunan di daerah.
Menurutnya, mahasiswa memiliki tanggung jawab sebagai agent of change yang harus terus dipertegas.
“Melalui forum seperti ini diharapkan lahir gagasan-gagasan baru yang mampu memberikan manfaat bagi masyarakat sekaligus memperkuat peran perguruan tinggi dalam pembangunan daerah," pungkasnya. (dhi/bud)
Editor : Imron Hidayatullahh