Radar Jember - Angin segar berembus ke kawasan utara Jember, tepatnya di Desa Pringgondani, Kecamatan Sumberjambe.
Desa yang hampir berbatasan dengan Kabupaten Bondowoso ini kini tengah dibidik untuk melahirkan pembatik jadi sentra batik melalui tangan dingin warganya.
Langkah besar ini bermula dari apresiasi yang diterima pemerintah daerah melalui Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kabupaten Jember.
Tak tanggung-tanggung, komitmen mereka dalam melestarikan budaya dan menggenjot ekonomi kreatif diganjar bantuan anggaran sebesar Rp300 juta dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen).
Nilai ini sekaligus tercatat sebagai bantuan terbesar se-Indonesia untuk sektor serupa.
Dana segar tersebut diterjemahkan menjadi program pelatihan untuk 50 anak muda berusia 17 - 24 tahun untuk menjadi pembatik. Selama 50 hari ke depan, mereka akan digembleng secara intensif di Desa Pringgondani.
"Kami tidak ingin pelatihan ini hanya jadi seremonial. Goal-nya jelas, mereka harus mandiri secara ekonomi," kata Wakil Sekretaris Dekranasda Jember, Puspita Yuandini, saat ditemui (29/6).
Menariknya, pelatihan ini didesain sangat komprehensif dari hulu ke hilir. Para peserta tidak hanya diajari cara memegang canting atau meramu warna di atas kain.
Baca Juga: Kuota Melimpah 65 Persen, Tahap IV Jalur Prestasi Nilai Akademik SMKN Jember Resmi Dibuka Hari Ini!
Lebih dari itu, mereka dibekali ilmu manajerial modern. Mulai dari pengurusan Nomor Induk Berusaha (NIB) agar usaha mereka legal, hingga strategi perang di pasar digital (digital marketing).
Dini menambahkan, program di bawah komando Ketua Dekranasda Jember, Ning Ghyta Eka Puspita, ini sengaja ditaruh di pelosok desa.
Langkah ini sejalan dengan instruksi Bupati Jember, Muhammad Fawait, yang menginstruksikan pemerataan program agar tidak melulu berpusat di area kota.
"Kami ingin manfaatnya benar-benar dirasakan langsung oleh masyarakat bawah. Pertumbuhan ekonomi harus merata, termasuk dari pelosok desa seperti Pringgondani," tambah Dini.
Kepala Desa Pringgondani, Rudi Haryanto, mengapresiasi keberadaan program ini yang akhirnya bisa menyasar warganya.
Ia meyakini melalui program ini, batik khas Jember tidak hanya akan abadi sebagai warisan budaya, tetapi juga menjelma menjadi motor penggerak ekonomi baru.
"Semoga dengan ini, warga desa kami bisa lebih mandiri dan dapat meningkatkan perputaran perekonomian," harapnya. (mau/nur)
Editor : Imron Hidayatullahh