Radar Jember - Jaminan fasilitas dan faktor geografis rupanya membuat sebagian warga Jember di kawasan perbatasan berpaling.
Pada pelaksanaan Sistem Penerimaan Siswa Baru (SPMB) tingkat SMP kali ini, banyak orang tua di Kecamatan Silo yang justru memilih menyekolahkan anak-anak mereka menyeberang ke wilayah Kabupaten Banyuwangi.
Fenomena ini berdampak langsung pada merosotnya jumlah pendaftar di SMPN 5 Silo. Sekolah negeri yang terletak di Desa Sidomulyo ini tercatat baru mengantongi 11 pendaftar resmi hingga jalur zonasi ditutup, Senin (29/6) kemarin.
Kepala SMPN 5 Silo, Syaiful Mustofa, menyebut bahwa salah satu pemicu utama siswa memilih sekolah di Banyuwangi adalah faktor infrastruktur dan kondisi geografis.
Dia mengakui, beberapa tahun lalu, tiga ruang kelas di SMPN 5 Silo sempat ambruk akibat bencana alam dan menyisakan trauma bagi sebagian wali murid.
"Dampaknya terasa sekarang. Warga yang tinggal dekat dengan sekolah kami malah memilih menyekolahkan anaknya menyeberang ke SMPN 2 Kalibaru, meskipun sekolah itu sudah masuk wilayah Kabupaten Banyuwangi," keluh Syaiful.
Selain masalah trauma infrastruktur, letak SMPN 5 Silo yang berada di dalam area perkebunan PTPN I Rayon 5 Kebun Gunung Gumitir membuat aksesnya terbatas. Di sekitar lokasi, hanya berdiri satu SD negeri yang mayoritas muridnya adalah putra-putri karyawan kebun.
Ditambah lagi, sebagian besar lulusan SD di sana lebih memilih melanjutkan pendidikan ke pondok pesantren atau MTs ketimbang ke SMP negeri lokal.
Diketahui, tahun 2018 lalu gedung SMPN 5 Silo telah diperbaiki. Sejatinya sekolah itu tidak susah mendapatkan siswa baru, karena satu kompleks dengan SDN Sidomulyo 02.
Namun, pada tahun 2019 lalu, banyak lulus SDN Sidomulyo 02 justru memilih sekolah di kabupaten tetangga, yaitu SMPN 1 Kalibaru dan SMPN 2 Kalibaru.
Kondisinya kurang siswa pada penerimaan siswa baru tahun 2019 itu juga hampir sama pada SPMB tahun 2026 ini.
Sementara, untuk jarak antara SMPN 5 Silo dengan SMPN 2 Kalibaru adalah 6,7 kilometer dengan melintasi jalan berkelok Gumitir. (jum/dwi)
Editor : Imron Hidayatullahh