Radar Jember – Pelaksanaan Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) tingkat Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) tahap II melalui jalur zonasi atau domisili di Kabupaten Jember kembali menyisakan persoalan klasik.
Ketimpangan jumlah pendaftar antar-wilayah menyajikan potret yang sangat kontras dan mencolok.
Di satu sisi, sekolah-sekolah negeri yang berada di pusat kecamatan padat penduduk dibanjiri pendaftar hingga terpaksa membuang ratusan calon siswa.
Di sisi lain, potret buram menimpa sekolah-sekolah di kawasan pedalaman dan pinggiran yang justru merana karena terancam tidak mendapatkan murid baru.
Baca Juga: Ombak Besar, Nelayan di Payangan Jember Ini Pilih Amankan Jukung
Pemandangan penuh emosi terlihat jelas di SMPN 1 Ambulu pada Senin (29/6) pagi kemarin. Sejak subuh, halaman sekolah salah satu satuan pendidikan favorit di wilayah selatan Jember ini sudah dipadati oleh para wali murid yang cemas menanti lembaran kertas pengumuman fisik ditempel.
Ketika panitia mulai membuka papan pengumuman, suasana haru, tangis lega, dan kekecewaan mendalam seketika campur aduk di lokasi.
Berdasarkan data yang dihimpun, total pendaftar yang melakukan verifikasi pada jalur domisili di SMPN 1 Ambulu membeludak hingga mencapai 374 siswa.
Padahal, daya tampung kuota yang disediakan sekolah sangat terbatas. Imbasnya, sebanyak 213 calon siswa dipastikan tereliminasi karena kalah dalam persaingan jarak tempat tinggal.
Baca Juga: Radar Jember dan ESI Jember Siap Gelar Turnamen E-Sport, Bersama-Sama Berburu Calon Atlet Porprov
"Persaingan jalur domisili tahun ini memang sangat ketat. Bagi calon siswa yang tidak lolos atau tereliminasi di SMPN 1 Ambulu, berkas pendaftarannya secara otomatis akan tergeser ke sekolah pilihan kedua yang sistemnya masih mencakup wilayah terdekat, seperti ke SMPN 2 Ambulu atau SMPN 3 Ambulu," terang Kepala SMPN 1 Ambulu, Zaeni.
Kondisi kelebihan muatan ini ternyata tidak hanya terjadi di Ambulu. Geser ke wilayah barat, situasi serupa juga melanda SMPN 1 Wuluhan.
Sekolah tersebut terpaksa mencoret sedikitnya 81 nama pendaftar dari sistem lantaran kuota pagu yang tersedia telah penuh sesak oleh 149 siswa yang dinyatakan lolos dan memenuhi kriteria kedekatan domisili.
Namun, fenomena melubernya pendaftar tersebut mendadak berbanding terbalik hingga 180 derajat ketika menengok kondisi di kawasan pedalaman selatan dan pinggiran Jember. Kondisi paling tragis dan ironis pada PPDB tahun ini menimpa SMPN 4 Tempurejo.
Bagaimana tidak, hingga penutupan resmi jalur domisili diketuk oleh panitia pusat, sekolah negeri ini tercatat hanya mampu menjaring 2 orang siswa baru saja untuk mengisi ruang kelas mereka.
"Tahun ini lulusan dari sekolah dasar terdekat memang sangat minim. Dari total tiga siswa yang lulus di SDN Curahnongko 08 Tempurejo, hanya dua anak saja yang akhirnya masuk dan mendaftar ke sini. Sementara satu anak sisanya memilih ikut pindah bersama orang tuanya yang sudah tidak lagi bekerja di kawasan perkebunan setempat," ungkap Kepala SMPN 4 Tempurejo, Wibowo, dengan nada pasrah.
Krisis kuota kelas yang cukup akut ini tidak hanya menjadi monopoli Tempurejo. Berdasarkan pantauan Jawa Pos Radar Jember, kondisi serupa juga membayangi wilayah utara, tepatnya di SMPN 4 Sumberjambe yang hingga kini baru bisa memperoleh 10 siswa baru.
Sementara itu, jeritan kekurangan murid juga dialami oleh SMPN 3 Tempurejo. Letak geografis sekolah yang berada jauh di dalam kawasan pedalaman Taman Nasional Meru Betiri (TNMB) dan wilayah kerja PT LDO membuat akses pencarian siswa baru sangat terbatas.
Hingga pengumuman SPMB tahap II dirilis, sekolah ini tercatat hanya mampu mengantongi 15 nama siswa baru yang sebagian besar merupakan putra-putri dari karyawan perkebunan setempat. (jum/dwi)
Editor : Imron Hidayatullahh