Radar Jember – Tinggal bersama orang tua setelah menikah tidak selalu menjadi pilihan yang buruk bagi pasangan muda.
Namun, peran orang tua perlu ditempatkan secara tepat, yakni sebagai pendamping yang memberikan dukungan, bukan ikut mencampuri urusan rumah tangga anak.
Dosen Bimbingan Konseling Islam (BKI) UIN Kiai Haji Achmad Siddiq (UIN KHAS) Jember, Dr Suryadi, mengatakan banyak pasangan muda masih membutuhkan masa transisi untuk membangun kemandirian, terutama ketika kondisi ekonomi dan kesiapan mental belum sepenuhnya matang.
Menurutnya, tinggal bersama orang tua dapat menjadi solusi sementara agar pasangan memiliki ruang belajar mengelola kehidupan rumah tangga tanpa harus terbebani persoalan finansial yang berat.
"Namun, keberadaan orang tua sebaiknya berfungsi sebagai pendamping, bukan pihak yang terlalu jauh mencampuri urusan keluarga baru tersebut," ujarnya.
Suryadi menjelaskan, tantangan terbesar dalam pernikahan usia muda bukan semata persoalan usia, melainkan kesiapan mental dan psikologis pasangan.
Banyak pasangan yang belum memiliki kematangan emosi sehingga kesulitan mengelola perbedaan pendapat maupun konflik dalam rumah tangga.
"Ketika terjadi perbedaan pendapat atau konflik, pasangan yang belum matang secara emosional cenderung sulit mengelola masalah dengan baik. Akibatnya, pertengkaran kecil bisa berkembang menjadi konflik yang lebih besar," katanya.
Ia menambahkan, pasangan muda yang belum memiliki pekerjaan tetap atau penghasilan memadai juga menghadapi tekanan yang tidak ringan.
Selain dituntut menjalankan peran sebagai suami dan istri, mereka masih harus berjuang memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga.
"Jika tidak diimbangi kemampuan mengelola emosi dan komunikasi yang baik, maka kondisi itu bisa memunculkan frustrasi bahkan depresi," ungkapnya.
Selain persoalan psikologis dan ekonomi, pernikahan usia dini juga berpotensi memunculkan masalah sosial, mulai dari tekanan keluarga besar, stigma masyarakat, hingga meningkatnya risiko kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).
Pendidikan yang terhenti, terbatasnya kesempatan kerja, serta hilangnya peluang mengembangkan diri juga menjadi konsekuensi yang kerap dihadapi pasangan yang menikah sebelum benar-benar siap.
Karena itu, Suryadi menilai pasangan muda tidak perlu memaksakan diri segera hidup mandiri apabila kondisinya belum memungkinkan.
Yang terpenting adalah membangun kedewasaan berpikir, kemampuan berkomunikasi, serta kesiapan ekonomi secara bertahap, dengan dukungan orang tua yang proporsional.
"Mandiri itu tujuan yang baik. Tetapi sebelum sampai ke sana, pasangan muda perlu memastikan mereka memiliki bekal mental, emosional, dan finansial yang cukup agar rumah tangga dapat berjalan sehat dan bertahan dalam jangka panjang," pungkasnya. (dhi/dwi)
Editor : Imron Hidayatullahh