Radar Jember - Siapa sangka, di balik bangunan kantor Perumda Perkebunan (PDP) Kahyangan Jember di Jalan Gajah Mada, tersimpan sebuah ruang yang menjadi "jantung" lahirnya kopi kebanggaan Jember.
Lokasinya berada di pojok kiri belakang kantor. Dari luar, bangunannya terlihat sederhana. Namun, sebelum kaki benar-benar memasuki ruang produksi, indera penciuman lebih dulu disambut aroma kopi yang begitu kuat.
Wangi khas biji kopi yang baru disangrai menyeruak keluar dari pintu ruangan. Hangat, pekat, dan menggoda. Aroma itu seolah mengajak siapa saja untuk mengikuti perjalanan panjang bagaimana kopi dari lereng-lereng pegunungan Jember akhirnya sampai ke dalam cangkir para penikmat kopi.
Begitu pintu dibuka, suasana di dalam ruang produksi langsung hidup. Suara mesin roasting berpadu dengan aktivitas para pekerja yang sibuk mengawasi setiap tahapan pengolahan. Di salah satu sudut, karung-karung berisi biji kopi robusta tersusun rapi.
Sementara di sisi lain, mesin penggiling terus bekerja mengubah biji kopi yang telah disangrai menjadi bubuk dengan aroma yang semakin tajam.
Di tempat inilah, setiap butir kopi diperlakukan dengan penuh ketelitian. Tidak ada proses yang instan. Tidak ada tahapan yang dilewati begitu saja. Semua dilakukan untuk memastikan kualitas Kopi Kahyangan tetap terjaga.
Perjalanan kopi itu sebenarnya dimulai jauh sebelum masuk ke ruang produksi.
Tepatnya dari hamparan perkebunan milik PDP Kahyangan yang tersebar di sejumlah wilayah Jember, seperti Sumber Tenggulun di Kecamatan Tanggul, Sumber Pandan di Kecamatan Sumberbaru, Gunung Pasang di Kecamatan Panti, hingga Sumber Wadung dan Kali Mrawan di Kecamatan Silo.
Baca Juga: Bukan Menolak Negara, Petani Silo Jember Hanya Ingin Kebun Kopi dan Sumber Nafkah Mereka Tetap Aman
Di kawasan-kawasan dengan udara sejuk tersebut, pohon-pohon kopi robusta tumbuh di bawah naungan pepohonan. Tidak ada pupuk kimia maupun pestisida sintetis yang digunakan. Semua dirawat secara organik.
Cara budidaya itulah yang diyakini menjadi salah satu rahasia munculnya karakter rasa Kopi Kahyangan yang khas. Aroma lebih kuat, rasa lebih bersih, dan meninggalkan sensasi yang berbeda saat diseruput.
Setelah memasuki masa panen, buah kopi dipetik dan dibawa menuju tempat pengolahan. Proses berikutnya adalah penyortiran. Tidak semua biji kopi lolos. Hanya biji dengan kualitas terbaik yang akan diproses lebih lanjut. Selanjutnya biji kopi masuk ke mesin roasting.
Inilah tahapan yang paling menentukan karakter kopi. Operator mesin tidak pernah meninggalkan pekerjaannya begitu saja.
Mereka terus memperhatikan perubahan warna biji kopi, mendengarkan suara letupan kecil yang muncul saat proses sangrai berlangsung, sekaligus mengamati aroma yang keluar dari tabung pemanggang.
Beberapa menit saja terlambat mengangkat kopi dari mesin dapat mengubah seluruh cita rasa yang sudah dibangun sejak kopi dipetik dari kebun. Usai disangrai, kopi tidak langsung digiling.
Biji kopi terlebih dahulu didinginkan agar aroma dan kandungan minyak alaminya tetap terjaga. Setelah suhu stabil, barulah kopi masuk ke mesin penggiling.
Di sinilah aroma kopi semakin memenuhi ruangan. Bubuk kopi berwarna cokelat pekat perlahan keluar dari mesin dan ditampung sebelum masuk ke tahap pengemasan.
Para pekerja memastikan setiap kemasan memiliki berat yang sesuai, tertutup rapat, serta kedap udara agar kualitasnya tetap terjaga ketika sampai di tangan konsumen.
Direktur Utama PDP Kahyangan Jember, Gogot Cahyo Baskoro, mengatakan, keunggulan Kopi Kahyangan bukan hanya berasal dari kualitas bahan bakunya, tetapi juga karena seluruh proses dikerjakan sendiri oleh perusahaan.
Baca Juga: Soal Lanjutan Gaung Bondowoso Republik Kopi, Wajib Cari Formula Baru?
Mulai dari pembibitan, perawatan tanaman, panen, pengolahan pascapanen, roasting, hingga pengemasan dilakukan secara mandiri.
"Jadi memang kami selesaikan sendiri. Dengan begitu kualitasnya bisa kami kontrol sejak dari kebun sampai menjadi produk siap jual," ujarnya.
Menurut Gogot, selama ini masyarakat lebih mengenal PDP Kahyangan sebagai perusahaan pengelola komoditas karet. Padahal, kopi merupakan salah satu komoditas unggulan yang terus dikembangkan.
Terlebih lagi, kopi yang diproduksi merupakan kopi robusta organik. Seluruh proses budi dayanya dilakukan tanpa menggunakan pestisida maupun pupuk kimia sintetis.
"Kopi yang dihasilkan PDP Kahyangan ini seluruh prosesnya organik tanpa pestisida ataupun bahan kimia lainnya, sehingga taste yang dihasilkan sangat baik," katanya.
Kini Kopi Kahyangan tidak hanya dipasarkan dalam bentuk kopi bubuk siap seduh. Produk yang dihasilkan semakin beragam mengikuti kebutuhan pasar.
Mulai green bean untuk kebutuhan kafe dan roastery, roasted bean, kopi bubuk kemasan 150 gram, kemasan sachet 7 gram, kemasan 500 gram, hingga specialty robusta dan kopi lanang.
Beragamnya produk tersebut menjadi bukti bahwa kopi asal Jember terus berkembang mengikuti tren industri kopi nasional.
Namun, di balik setiap kemasan Kopi Kahyangan yang terpajang di rak toko atau tersaji di meja kafe, tersimpan perjalanan panjang yang mungkin tak pernah dibayangkan para penikmatnya.
Ada petani yang merawat tanaman berbulan-bulan di lereng pegunungan. Ada tangan-tangan pekerja yang memilah satu demi satu biji kopi. Ada operator yang sabar menjaga suhu roasting agar rasa tetap konsisten. Hingga akhirnya ada secangkir kopi yang diseduh dan dinikmati. (kin)
Editor : Imron Hidayatullahh