Radar Jember - Karangan bunga berjejer di sepanjang gang menuju rumah duka Prof Dr H Hepni, di Curah Kendal, Desa Sukamakmur, Kecamatan Ajung, kemarin (19/6).
Para pelayat datang silih berganti. Mulai guru besar, dosen, mahasiswa, alumni, hingga para kiai pesantren, memenuhi kediaman Rektor UIN KHAS Jember tersebut.
Di antara banyaknya tamu yang berdatangan, Riayatul Husnan, menantu almarhum, masih berusaha menyembunyikan kesedihannya.
Baca Juga: Prof Hepni Berpulang, UIN KHAS Jember Berduka
Sesekali ia menyambut para pelayat yang datang. Namun, pria itu mengaku masih sulit menerima kenyataan bahwa sosok yang akrab dipanggil abah itu telah berpulang.
"Masih belum percaya. Tapi memang sejak dua hari sebelumnya beliau kelihatan mulai kelelahan karena kegiatannya padat," ujarnya kepada Jawa Pos Radar Jember.
Kamis pagi (18/6), Prof Hepni masih beraktivitas seperti biasa. Guru besar bidang Manajemen Pendidikan Islam tersebut hadir di Pascasarjana UIN KHAS Jember untuk menjadi penguji sidang terbuka disertasi.
Selepas agenda itu, ia mengajak menantunya Riayatul Husnan menuju ponpes di Desa Suren, Kecamatan Ledokombo untuk memenuhi undangan pengajian.
"Beliau ngajak saya ke Suren untuk mengisi ceramah. Masyaallah, warga yang hadir sangat senang. Banyak yang tertawa mendengar dawuh-dawuh khas beliau, humoris tapi penuh makna," kenangnya.
Di tengah padatnya agenda, Prof Hepni rupanya hanya menyantap beberapa suap nasi sejak pagi. Riayatul Husnan sempat menawarkan tambahan makanan, namun ditolak.
"Saya tawari untuk diambilkan nasi lagi, tapi beliau tidak mau. Justru kami dan para guru yang disuruh menikmati hidangan yang ada," tuturnya.
Baginya, sang mertua memang terbiasa mendahulukan orang lain dibanding dirinya sendiri. Sepulang dari Suren, Prof Hepni kembali menuju kampus.
Setibanya di UIN KHAS Jember, ia memilih beristirahat di ruang kerjanya yang berada di lantai tiga.
Padahal, Riayatul Husnan sempat menyarankan agar mencari tempat yang lebih mudah dijangkau. "Saya sempat bilang, apa tidak cari tempat lain saja. Tapi abah tetap ingin ke ruangannya," katanya.
Masih ada amanah yang ingin dituntaskan. Selain sejumlah administrasi kampus, Prof Hepni juga dijadwalkan menjadi penguji ujian terbuka disertasi.
Baca Juga: Gandeng Pesantren dan Guru Ngaji, Bupati Gus Fawait Bidik Sampah Jember Jadi Sumber PAD Baru
Saat melihat dokumentasi kegiatan, Riayatul sempat heran karena mertuanya tidak tampak dalam sesi foto bersama.
"Saya tanya sopirnya. Ternyata karena kondisi beliau kurang fit, sidangnya diikuti secara daring dari ruangan. Setelah itu beliau minta pulang untuk istirahat," ungkapnya.
Sore harinya, beberapa santri memijat tubuh Prof Hepni yang mulai kelelahan. Sekitar pukul 16.00, sebuah pemberitahuan masuk ke telepon genggamnya.
KH Abdullah Syamsul Arifin atau Gus Aab disebut sudah hampir sampai ke rumah Prof Hepni. "Abah langsung minta semuanya disiapkan untuk menyambut tamu. Tapi ketika duduk di teras rumah, beliau (Prof Hepni, Red) mengeluh perutnya sakit dan minta dibuatkan air hangat," ujarnya.
Tak lama kemudian, kondisi Prof Hepni menurun hingga dilarikan ke RS Jember Klinik sebelum dirujuk ke RSD dr Soebandi.
Sempat ada harapan setelah dokter menyatakan kondisi jantung dan penyakit dalamnya normal.
Bahkan, menurut Riayatul Husnan, almarhum masih merespons pembicaraan meski hanya dengan isyarat dan mata terpejam. Namun sekitar tengah malam, kabar itu datang.
"Saya keluar sebentar membeli makan bersama beberapa santri. Sekitar pukul 00.00 saya dihubungi kalau abah kritis lagi. Tidak lama kemudian beliau berpulang," ungkapnya. (dhi/dwi)
Editor : Imron Hidayatullahh