Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Tumbuh di Sanggar Wayang Tegal Besar, Mahasiswi UDS Jember Ini Pilih Tekuni Demung Ketimbang Musik Modern!

M Adhi Surya • Jumat, 19 Juni 2026 | 05:17 WIB
LESTARIKAN BUDAYA: Al Azhiva Azzahra Wb, mahasiswi UDS pegiat musik tradisional unjuk kebolehannya menabuh gamelan. (M. ADHI SURYA/RADAR JEMBER)
LESTARIKAN BUDAYA: Al Azhiva Azzahra Wb, mahasiswi UDS pegiat musik tradisional unjuk kebolehannya menabuh gamelan. (M. ADHI SURYA/RADAR JEMBER)

Radar Jember - Pagi itu, di tengah ruangan serba modern dengan bangunan yang sekilas menyerupai ikon Amerika Serikat, White House, yaitu gedung utama UDS tersebut ada suara denting gamelan.

Bilah-bilah demung, saron, dan kenong berpadu harmoni menciptakan musik gamelan.

Di antara para pemain karawitan yang larut dalam alunan gending, Al Azhiva Azzahra Wb tampak menikmati tabuhan tangannya.

Siapa sangka, perempuan 20 tahun itu mewarisi kecintaan pada seni tradisi dari sang kakek dan nenek yang selama ini sebagai pegiat wayang kulit.

Baca Juga: Anggaran BPBD Jember Turun Drastis Sisa Rp 8 Miliar, Politisi PDIP Semprot Pemkab Jember Lemah Mitigasi Bencana!

Bagi mahasiswi Program Studi Kewirausahaan Fakultas Ekonomi dan Bisnis, UDS tersebut, suara gamelan bukan sesuatu yang asing. Perempuan kelahiran Kencong itu tumbuh di lingkungan yang akrab dengan dunia pedalangan.

Bahkan, rumah keluarganya di kawasan Tegal Besar memiliki sanggar wayang kulit yang menjadi tempat berkumpul para pelaku seni. “Saya sedari kecil sudah tidak asing, karena di rumah ada sanggar wayang kulit,” tuturnya.

Ketertarikannya terhadap karawitan bermula sejak duduk di bangku kelas VI sekolah dasar. Meski sempat berhenti beberapa tahun, Azhiva kembali menekuni gamelan saat kelas VIII SMP.

Sejak itulah, tabuh dan nada-nada Jawa menjadi bagian dari kesehariannya.

Baca Juga: Orderan Anyep Pendapatan Tekor, Kisah Srikandi Ojol Jember Bertahan Hidup di Tengah Cekikan Ekonomi!

Menariknya, jalan menuju dunia karawitan tidak berawal dari rasa penasaran. Azhiva justru mengaku sempat mengikuti latihan karena dorongan keluarga.

Namun, semakin sering berlatih dan tampil, rasa terpaksa itu perlahan berubah menjadi kecintaan yang sulit dilepaskan.

Dari sekian perangkat gamelan yang pernah dimainkan, demung menjadi instrumen yang paling dekat di hatinya. Alat musik itu pula yang pertama kali dikenalnya saat belajar karawitan.

“Hingga kini, demung menjadi alat favorit saya,” imbuhnya.

Di balik harmonisasi setiap gending, bagi Azhiva merupakan pelajaran tentang kebersamaan. Sebab, tak ada seperangkat gamelan yang dapat dimainkan seorang diri.

“Agar nikmat didengar, seluruh pengrawit harus saling mengisi agar tercipta nada yang selaras,” ucapnya.

Baca Juga: Ada yang Ditolak hingga Kursi Sisa, Hasil SPMB Tahap 1 Jember Resmi Diumumkan, Cek Jadwal Daftar Ulangnya!

Kesibukan kuliah tak membuat perempuan itu meninggalkan ruang latihan. Dua malam setiap pekan tetap dia luangkan untuk memelihara kecintaannya pada karawitan.

Di tengah gempuran budaya modern, Azhiva berharap semakin banyak generasi Z yang tertarik mempelajari gamelan, sehingga suara warisan leluhur itu tidak berhenti bergema di masa mendatang. “Ini peninggalan leluhur yang harus terus dilestarikan, kalau tidak dari sekarang kapan lagi?,” pungkasnya. (dhi/dwi)

 

 

Editor : Imron Hidayatullahh
#UDS Jember #demung #Jember #gamelan #musik tradisional