Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Imbas Pertamax Melejit 30 Persen, Warga Jember Migrasi Massal ke Pertalite Hingga Eceran Kerap Ludes!

Maulana RJ • Rabu, 17 Juni 2026 | 08:00 WIB
ANTRE: Kendaraan roda dua dan empat saat mengantre BBM Pertalite di SPBU, Wonojati, Jenggawah Senin (15/6). (JUMAI/ RADAR JEMBER)
ANTRE: Kendaraan roda dua dan empat saat mengantre BBM Pertalite di SPBU, Wonojati, Jenggawah Senin (15/6). (JUMAI/ RADAR JEMBER)

Radar Jember - Kebijakan penyesuaian harga BBM jenis Pertamax yang melonjak drastis dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter memicu guncangan ekonomi riil di tingkat daerah.

Di Jember, kenaikan yang mencapai hampir Rp 4.000 per liter ini memaksa gelombang migrasi massal konsumen dari Pertamax ke Pertalite. 

Pantauan Jawa Pos Radar Jember, dampak kenaikan ini seketika memicu antrean kendaraan mengular di berbagai SPBU dan pasokan Pertalite di tingkat eceran dilaporkan kerap habis akibat lonjakan permintaan. ​

Baca Juga: Kemenangan Sia-Sia Macan Raung: Persid Jember Resmi Angkat Koper meski Sukses Tekuk Persiharjo Sukoharjo!

Pengamat Kebijakan Publik sekaligus Dosen FISIP Universitas Jember, Muhammad Iqbal, mengingatkan bahwa lonjakan harga di atas 30 persen ini merupakan pukulan telak bagi pelaku ekonomi mikro, UMKM, kurir, hingga ojek online

Namun, kelompok yang paling rentan mengalami pemburukan nasib secara sunyi justru adalah kelas menengah. ​

"Kelas menengah ini kelompok yang sangat rentan. Mereka tidak masuk dalam daftar penerima bantuan sosial (bansos), tidak tersentuh BLT atau jaminan sosial lainnya dari anggaran pusat maupun daerah," kata Iqbal, saat dikonfirmasi, Selasa (16/6). 

​Akibatnya, kata dia, kelompok ini rentan melakukan strategi bertahan hidup yang berisiko. "Mereka berisiko 'mantap' atau makan tabungan. Jika tidak diantisipasi, maka lama-lama terjerat maut (makan utang)," imbuh dia.

​Iqbal juga mendesak pemerintah daerah segera merespons situasi krisis ini. Berkoordinasi dengan stakeholders terkait, transparan membuka data simulasi fiskal, menghitung presisi pasokan kiloliter harian BBM subsidi, serta memastikan stabilitas harga bahan pokok di pasar. 

Baca Juga: Pertama Kali, BAZNAS Jember Sembelih Domba Dam Jamaah Haji Indonesia dan Salurkan ke Mustahik

​Iqbal mengkhawatirkan, jika daya beli terus merosot, maka ujungnya Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari sektor pajak dan retribusi diproyeksikan ikut anjlok. "Jangan dibiarkan diam-diam begitu saja, sementara masyarakat bergulat bertarung sendiri," tuturnya.

​Sebagai bentuk konkret kenegarawanan, Iqbal juga mendorong Pemkab Jember menunjukkan langkah etis melalui efisiensi anggaran internal, termasuk memangkas konsumsi BBM operasional kendaraan dinas di lingkungan pemda dan pendapa.

Namun, ia mewanti-wanti agar pembatasan ini tidak memicu masalah baru di hilir. ​"Jangan sampai kendaraan dinas malah beralih dan bersaing merebut kuota Pertalite milik masyarakat, kurir, atau profesi ojek," tegasnya.

​Terakhir, ia mengingatkan momentum krisis ini menguji kematangan birokrasi sipil dalam menangani antrean SPBU.

"Serahkan sepenuhnya pada mekanisme pengamanan kepolisian. Pemkab bersama Forkopimda harus fokus mengatasi akar masalah ekonomi, bukan sekadar menjaga ketertiban fisik di lapangan," pungkas dia. (mau/dwi)

 

 

Editor : Imron Hidayatullahh
#Jember #bbm bersubsidi #BBM #pertamax