WONOJATI, Radar Jember – Pasca kenaikan harga BBM jenis Pertamax dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter, banyak pemilik kendaraan roda empat maupun roda dua yang biasanya memakai pertamax mulai beralih menggunakan Pertalite.
Kenaikan harga yang mencapai sekitar Rp 4.000 per liter tersebut membuat sebagian pengguna Pertamax memilih BBM yang lebih terjangkau. Dampaknya, permintaan Pertalite meningkat dan stok di sejumlah penjual BBM eceran kerap habis.
Salah satunya dialami Hari, 39, warga Kecamatan Jenggawah yang menjual BBM eceran.
Ia mengaku sering kehabisan stok karena tingginya permintaan dari pelanggan.
Baca Juga: Pertegas Dukungan untuk PMI Jember, Pemkab Jember dan P2MI Peringati Gerakan Nasional Migran Aman
“Kadang pelanggan menunggu di kios sampai saya datang membawa stok. Namun sering kali mereka kalah cepat dengan pembeli lainnya,” ujarnya.
Menurut Hari, harga Pertalite masih dijual Rp 10.000 per liter dan dipasarkan kembali secara eceran sekitar Rp 12.000 per botol.
Sementara itu, ia tidak menjual Pertamax karena minat pembeli relatif rendah.
Di tingkat pengecer, harga Pertamax bahkan sudah mencapai Rp 18.000 per botol.
“Sekarang banyak mobil yang biasanya menggunakan Pertamax beralih ke Pertalite. Mereka rela mengantre panjang asalkan bisa mendapatkan BBM murah,” katanya.
Hal senada disampaikan Sahlan, warga Kecamatan Tempurejo.
Ia mengaku kini beralih menggunakan Pertalite setelah harga Pertamax mengalami kenaikan.
“Awalnya saya menggunakan Pertamax untuk mobil yang dipakai bekerja setiap hari. Namun karena harganya naik cukup tinggi, saya beralih ke Pertalite,” ujarnya saat mengantre di SPBU Jenggawah.
Menurutnya, mengantre bukan menjadi masalah selama masih bisa mendapatkan BBM.
Selain itu, ketersediaan Pertamax di sejumlah SPBU juga terkadang terbatas. “Tidak apa-apa mengantre yang penting dapat. Sekalian beralih dari Pertamax ke Pertalite,” tambahnya.
Pantauan Jawa Pos Radar Jember di sejumlah SPBU menunjukkan antrean tidak hanya didominasi kendaraan roda dua, tetapi juga kendaraan roda empat yang sebelumnya dikenal sebagai pengguna Pertamax.
Meningkatnya konsumsi Pertalite juga berdampak pada stok di tingkat pengecer yang sering kosong. Sementara itu, ketersediaan Pertamax eceran juga terkadang terbatas karena tingginya harga jual dan menurunnya minat pembeli. (jum/dwi)
Editor : M. Ainul Budi