Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Populasi Tinggi, Jember Butuh Terobosan Ramah Lansia

M Adhi Surya • Senin, 15 Juni 2026 | 09:48 WIB
DISKUSI : Aktivis Perempuan dan Pendiri Komunitas Belajar Tanoker Ledokombo, Farha Ciciek berbincang tentang pentingnya pembangunan yang ramah Lansia di Jember.(M. ADHI SURYA/RADAR JEMBER)
DISKUSI : Aktivis Perempuan dan Pendiri Komunitas Belajar Tanoker Ledokombo, Farha Ciciek berbincang tentang pentingnya pembangunan yang ramah Lansia di Jember.(M. ADHI SURYA/RADAR JEMBER)

 

KEPATIHAN, Radar Jember – Lonjakan jumlah penduduk lanjut usia (lansia) kini menjadi realitas demografi yang tidak bisa dihindari di Kabupaten Jember. Data terbaru mencatat persentase populasi lansia di Bumi Pandalungan telah menembus angka 15,26 persen.

Struktur demografi ini menunjukkan pergeseran besar yang membutuhkan perhatian serius agar penuaan penduduk tidak sekadar dipandang sebagai beban daerah, melainkan potensi baru.

 Kondisi tersebut memantik perhatian dari aktivis perempuan sekaligus Pendiri Komunitas Belajar Tanoker Ledokombo, Farha Ciciek. 

Menurutnya, pergeseran pola hubungan keluarga inti dan himpitan situasi ekonomi harian kerap menempatkan para lansia pada posisi yang sangat rentan. Banyak warga senior yang kehilangan sandaran finansial dan keterbatasan akses jaminan sosial di hari tua mereka.

Baca Juga: DILEMA! Penataan Kawasan Geladak Jember: Antara Isi Perut Pedagang dan Hak Pengguna Jalan

Fenomena di lapangan, tambahnya, memperlihatkan beban ganda yang cukup berat. Tidak sedikit lansia yang masih harus mengasuh cucu ketika anak-anak mereka bekerja. “Sementara akses terhadap kesejahteraan dan perlindungan sosial di lingkungan mereka masih sangat terbatas," ujarnya.

Melihat kenyataan tersebut, perempuan yang akrab disapa Ciciek ini menilai cara pandang atau pendekatan kelembagaan terhadap lansia harus segera diubah total.

Kebijakan yang bertumpu pada skema bantuan sosial karitatif atau pembagian sembako dinilai kurang adaptif untuk jangka panjang. 

"Pendekatan terhadap lansia perlu bergeser dari sekadar bantuan sosial menuju pemberdayaan," tegasnya.

Sebab, para lansia sebetulnya menyimpan potensi besar yang bisa diaktualisasikan kembali untuk mendukung pembangunan karakter masyarakat di akar rumput. Interaksi sosial di ruang publik akan membuat mereka tetap aktif.

Baca Juga: Praktik Suap di Bea Cukai Sangat Mengerikan, Bukti Negeri Ini Semakin Busuk oleh Koruptor

"Lansia memiliki pengalaman, pengetahuan, dan modal sosial yang dapat dimanfaatkan untuk pembangunan masyarakat," tambah pendiri Tanoker tersebut.

Langkah ini mendesak dilakukan mengingat grafik populasi lansia di Jember tergolong sangat tinggi, bahkan kerap disebut-sebut sebagai salah satu yang terbesar di Jawa Timur.

"Angka lansia di Jember cukup tinggi, bahkan ada yang menyebut tertinggi se-Jawa Timur. Dengan kondisi itu, tentu harus ada terobosan-terobosan baru dalam mempersiapkan ekosistem yang ramah bagi mereka," jelas Ciciek.

Formulasi strategi dari para pemangku kebijakan idealnya tidak boleh setengah-setengah dalam melihat masa depan warga senior. Penyiapan regulasi, fasilitas publik, hingga program pendampingan harus digarap secara struktural dan menyentuh akar rumput. "Salah satunya dengan pemberdayaan yang seimbang, baik dalam segi sosial, kesehatan, hingga aspek ekonomi," paparnya.

Melalui gerakan yang konsisten di tingkat lokal seperti yang selama ini diupayakan Sekolah Eyang di Ledokombo, para sesepuh terbukti mampu tampil mandiri dan percaya diri. Sinergi multipihak antara komunitas warga, akademisi, dan organisasi perangkat daerah (OPD) menjadi kunci utama. (dhi/nur)

Editor : M. Ainul Budi
#Tanoker #Jember #Berita Jember #data #Lansia