Radar Jember - Gelombang pemadaman listrik bergilir secara serentak beberapa hari terakhir, membuat warga harus gigit jari. Di tengah kegelapan, insiden bukan saja memantik protes, tapi juga kerugian ekonomi.
Berbagai rumor liar menyeruak di media sosial, mulai dari menipisnya stok batubara untuk Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU), hingga dampak melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang kini telah menembus angka Rp18.000.
"Kami beli token listrik pakai uang, kan tidak boleh utang. Habis kami isi, habis diisi, seterusnya. Tapi yang paling rugi, ya listrik pascabayar yang tetap membayar abonemen. Pemadaman seperti ini, yang dirugikan jelas kami, masyarakat," cetus Ahmad, warga Kaliwates.
Baca Juga: Geger Gumukmas Jember! Laporan Penemuan Jasad di Rumah Kosong Justru Menyeret Anak Kandung Pelapor
Kekesalan publik bukan tanpa alasan. Jika pelanggan terlambat membayar tagihan atau kehabisan token, maka listrik bukan saja mati, tapi siap-siap meteran dicabut (bagi pelanggan pascabayar).
Bahkan ramai di media sosial, masyarakat mempertanyakan apakah PLN berani memberikan kompensasi atas kerugian materiil ini.
Manager PLN UP3 Jember, Sendy Rudianto, mengungkapkan bahwa pemadaman ini buntut sedang adanya penguatan jaringan kelistrikan. Khususnya di Pulau Jawa.
Untuk wilayah Jember, ia mengklaim sebenarnya memiliki pasokan daya yang lebih dari cukup. "Untuk Jember kebutuhannya itu sekitar 500 mega (megawatt, red). Nah, kemampuan kami (PLN, Red) itu di 1.200 megawatt. Jadi masih cukup di Jember," katanya, saat dikonfirmasi Kemarin (11/6).
Sendy menyebut bahwa pemadaman ini terjadi karena sistem kelistrikan di Pulau Jawa sudah saling terinterkoneksi. Sehingga beban listrik terbagi rata dari Jawa Barat hingga Jawa Timur.
Terkait rumor batubara menipis dan pelemahan rupiah, Sendy enggan berkomentar banyak. "Nah kalau itu saya kurang tahu ya. Kami fokus di pelayanan saja," katanya.
Mengenai tuntutan relaksasi atau kompensasi bagi warga terdampak, Sendy mengakui belum ada keputusan dari internal PLN.
"Terkait dengan kompensasi dan lain-lain itu masih belum ada pembahasan dari kita. Tapi, harusnya yang sudah dikonsumsi, itu yang memang harus dibayar," tuturnya.
Ia pun menyampaikan permohonan maaf dan meminta masyarakat yang membutuhkan pelayanan khusus untuk memanfaatkan call center 123 atau aplikasi PLN Mobile.
"Kami mohon maaf atas ketidaknyamanan ini. Ini semata-mata karena kita ingin lebih menguatkan lagi kondisi kelistrikan khususnya di Jawa. Jadi sesegera mungkin kami selesaikan, kalau pelanggan butuh pengaduan, kami siap," tambah Sendy. (mau/dwi)
Editor : Imron Hidayatullahh