Radar Jember - Memahami karakter masyarakat tidak bisa dipandang sebelah mata dalam pelayanan kesehatan.
Bagi seorang bidan, kemampuan mengenali budaya, kebiasaan, hingga bahasa lokal masyarakat bahkan dinilai sama pentingnya dengan keterampilan medis yang dimiliki.
Hal itu menjadi perhatian Program Studi Kebidanan Program Sarjana dan Profesi Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas dr. Soebandi (UDS) Jember dalam menyiapkan tenaga bidan yang siap terjun ke masyarakat, khususnya di wilayah pedesaan.
Baca Juga: Titip Pesan Khusus untuk Masa Depan Jember, Bupati Gus Fawait Bakar Semangat Mahasiswa di Yogyakarta
Ketua Program Studi Kebidanan Program Sarjana dan Profesi FIK UDS, Rizki Fitrianingtyas, mengatakan persoalan pelayanan kesehatan tidak hanya berkaitan dengan jumlah tenaga kesehatan yang tersedia.
Pemahaman terhadap karakteristik masyarakat juga menjadi faktor penting dalam mendukung keberhasilan pelayanan kesehatan.
Menurutnya, bidan yang bertugas di desa idealnya mampu memahami kondisi sosial budaya masyarakat setempat. Termasuk bahasa lokal yang digunakan sehari-hari.
Kemampuan tersebut akan memudahkan proses komunikasi, edukasi, hingga pendampingan kesehatan kepada masyarakat.
"Memahami karakter masyarakat sangat penting bagi seorang bidan. Bahkan, bagi yang bertugas di pedesaan, kemampuan memahami budaya dan bahasa lokal menjadi nilai tambah dalam memberikan pelayanan kesehatan," ujarnya.
Rizki menambahkan, distribusi tenaga bidan di Jember sama pentingnya dengan penambahan jumlah tenaga kesehatan. Berdasarkan data yang ada, rasio bidan di Kabupaten Jember masih berada di angka 0,6 per 1.000 penduduk.
Sementara kebutuhan pelayanan kesehatan ibu dan anak masih memerlukan dukungan tenaga kebidanan yang memadai hingga tingkat desa.
Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan bahwa tantangan pelayanan kesehatan tidak hanya terletak pada ketersediaan tenaga bidan, tetapi juga pemerataan penempatannya di berbagai wilayah.
"Bidan merupakan ujung tombak pelayanan kesehatan masyarakat, mulai dari pendampingan kehamilan, persalinan, masa nifas, pelayanan keluarga berencana hingga pemantauan tumbuh kembang anak," katanya.
Karena itu, perguruan tinggi memiliki tanggung jawab untuk membantu memenuhi kebutuhan tenaga bidan melalui pendidikan yang berorientasi pada kualitas lulusan.
Mahasiswa tidak hanya dibekali kemampuan klinis, tetapi juga keterampilan komunikasi, kepemimpinan, empati, dan kemampuan beradaptasi dengan kondisi sosial budaya masyarakat.
Upaya tersebut diperkuat melalui kerja sama dengan rumah sakit, puskesmas, praktik mandiri bidan, serta pemerintah daerah. Melalui jaringan tersebut, mahasiswa memperoleh pengalaman praktik yang lebih dekat dengan kebutuhan pelayanan kesehatan di lapangan.
Selain praktik klinik, mahasiswa juga terlibat dalam berbagai kegiatan pengabdian kepada masyarakat.
Kegiatan tersebut meliputi edukasi kesehatan ibu hamil, penyuluhan kesehatan reproduksi remaja, promosi ASI eksklusif, pelayanan keluarga berencana, hingga pendampingan kader kesehatan di tingkat desa.
"Kami berharap semakin banyak putra-putri daerah Jember memilih profesi bidan karena memahami karakteristik masyarakat setempat dan memiliki potensi besar untuk kembali mengabdi di daerahnya," pungkasnya. (dhi/dwi)
Editor : Imron Hidayatullahh